Boy Thohir dan Anindya Bakrie Yakin IHSG Tembus 9.000 Lagi
Garibaldi ‘Boy’ Thohir dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan keyakinan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu kembali menyentuh level 9.0...
Garibaldi ‘Boy’ Thohir dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan keyakinan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu kembali menyentuh level 9.000. Optimisme ini disampaikan di tengah dinamika pasar yang masih bergerak fluktuatif sepanjang tahun berjalan, namun kedua figur bisnis tersebut melihat modal fundamental dan rekam jejak historis menjadi pijakan kuat bagi pemulihan indeks.
Keyakinan yang Berakar pada Sejarah
Boy Thohir, yang dikenal luas sebagai investor dan pengusaha lintas sektor, menegaskan bahwa rasa optimistisnya bukanlah spekulasi kosong. Ia menarik pelajaran dari perjalanan pasar modal Indonesia dalam satu dekade terakhir. “Kita sudah menyaksikan sendiri bagaimana indeks pernah berada di titik rendah, lalu dalam hitungan tahun melesat berkali-kali lipat. Pola itu bukan kebetulan, melainkan cerminan dari daya tahan dan pertumbuhan ekonomi kita,” ujarnya, merujuk pada siklus historis di mana IHSG sempat tertekan namun kemudian membukukan reli signifikan seiring perbaikan sentimen dan fundamental.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pernah menyentuh level terendah 3.937 pada Maret 2020 saat awal pandemi, lalu secara mengejutkan merangkak hingga menyentuh 7.400 pada akhir 2022—sebuah lompatan lebih dari 87 persen dalam waktu kurang dari tiga tahun. Pola serupa terlihat pada krisis keuangan global 2008, di mana indeks terperosok ke 1.111 pada November 2008 sebelum kemudian pulih dan mencapai level 6.600 dalam satu dekade. Bagi Boy Thohir, rekam jejak ini menjadi bukti bahwa pasar Indonesia memiliki kapasitas pemulihan yang kuat, asalkan didukung kebijakan yang tepat dan stabilitas makroekonomi.
Proyeksi dan Katalis Menuju Level Psikologis
Di satu sisi, kalangan analis menilai target 9.000 bukanlah angka yang mustahil jika sejumlah katalis domestik bekerja secara simultan. Pertama, konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi motor pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kontribusi di atas 53 persen. Dengan inflasi yang terjaga di kisaran 2,5–3 persen year-on-year, daya beli kelas menengah diprediksi tetap solid. Kedua, realisasi investasi asing langsung (FDI) yang terus mencatatkan rekor setiap kuartal—Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi kuartal I-2026 tumbuh 18,2 persen secara tahunan, menandakan kepercayaan investor jangka panjang.
Di sisi lain, Anindya Bakrie menyoroti peran stabilitas politik dan kepastian regulasi sebagai prasyarat. “Dunia usaha membutuhkan sinyal konsisten dari pemerintah. Jika reformasi struktural berjalan tanpa hambatan dan tidak ada gejolak politik yang mengganggu, maka valuasi pasar kita yang saat ini masih terdiskon akan mengalami re-rating signifikan,” jelasnya. Pernyataan ini mencuat di tengah proyeksi konsensus analis yang memperkirakan IHSG bisa bergerak di kisaran 7.800–8.200 pada akhir tahun, dengan skenario bullish menuju 9.000 apabila terjadi kejutan positif dari sisi laba emiten dan kebijakan suku bunga global.
Dari sisi eksternal, arah kebijakan The Federal Reserve menjadi faktor penimbang. Potensi pemangkasan suku bunga acuan AS dalam enam bulan ke depan dinilai mampu membalikkan aliran modal asing yang sempat keluar (capital outflow) senilai Rp22 triliun sepanjang kuartal II-2026. Jika dana asing kembali masuk ke pasar obligasi dan saham domestik, tekanan terhadap rupiah dapat mereda dan pada gilirannya mengangkat indeks.
Tantangan di Tengah Jalan
Kontra terhadap optimisme ini tetap perlu dicermati secara hati-hati. Pertama, valuasi IHSG yang saat ini berada pada price-to-earnings (P/E) 14,5 kali—di bawah rata-rata lima tahunan 16,2 kali—memang menandakan diskon, tetapi juga bisa menjadi sinyal bahwa pasar masih mencermati risiko ketidakpastian global. Perang dagang yang melibatkan ekonomi besar, geopolitik kawasan, serta fluktuasi harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti batubara dan kelapa sawit merupakan variabel yang bisa menghambat laju indeks.
Kedua, likuiditas pasar masih menjadi pekerjaan rumah. Rata-rata nilai transaksi harian di bursa saham Indonesia sepanjang semester I-2026 masih berkisar Rp12,5 triliun, turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tanpa lonjakan volume dan diversifikasi investor ritel yang berkelanjutan, reli besar akan sulit tercipta. Ketiga, realisasi belanja pemerintah yang sering kali tersendat di awal tahun bisa menjadi faktor penunda bagi sektor-sektor konstruksi dan infrastruktur yang menjadi penopang kapitalisasi pasar.
Respon Pelaku Pasar
Sentimen positif dari dua tokoh tersebut mendapat tanggapan beragam dari pelaku pasar. Sejumlah manajer investasi menilai bahwa optimisme dari figur bisnis terkemuka dapat menjadi katalis psikologis bagi investor ritel untuk kembali masuk. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa keputusan investasi harus tetap berlandaskan pada data dan analisis fundamental, bukan sekadar harapan. “Keyakinan memang penting, tetapi fundamental emiten, prospek laba, dan likuiditas pasar harus menjadi pertimbangan utama sebelum menetapkan target indeks setinggi itu,” ujar seorang analis senior yang enggan disebut namanya.
Terlepas dari perdebatan teknis, pernyataan Boy Thohir dan Anindya Bakrie setidaknya membuka kembali diskusi tentang potensi pasar modal Indonesia yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga. Dengan kapitalisasi pasar saat ini yang mencapai Rp11.500 triliun dan didukung oleh lebih dari 900 emiten, ruang pertumbuhan masih terbuka lebar. Jika skenario optimistis terwujud, perjalanan IHSG menuju 9.000 bukan sekadar mimpi, melainkan target yang terukur dalam peta jalan pemulihan ekonomi nasional.
Baca juga:
Comments (0)