Aug 26, 2026
Bisnis

BPS: Desil Saja Tak Cukup Menggambarkan Kondisi Ekonomi Keluarga

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal Mei 2026, tingkat kemiskinan nasional masih berada di kisaran 9 persen, dengan rasio Gini yang bertahan di angka sekitar 0,38. Namun, di balik ang...

BPS: Desil Saja Tak Cukup Menggambarkan Kondisi Ekonomi Keluarga

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per awal Mei 2026, tingkat kemiskinan nasional masih berada di kisaran 9 persen, dengan rasio Gini yang bertahan di angka sekitar 0,38. Namun, di balik angka agregat tersebut, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengingatkan bahwa desil—pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya—tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kondisi ekonomi sebuah rumah tangga. Penegasan ini penting mengingat data desil kerap dikutip luas dalam diskusi publik maupun perumusan kebijakan.

Apa Itu Desil dan Bagaimana Pengelompokannya Bekerja

Secara sederhana, desil membagi seluruh populasi rumah tangga menjadi sepuluh kelompok sama besar, masing-masing berisi 10 persen populasi. Kelompok pertama (desil 1) merepresentasikan rumah tangga dengan pengeluaran terendah, sementara kelompok kesepuluh (desil 10) mencakup mereka dengan pengeluaran tertinggi. Data ini bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan BPS secara periodik dua kali setahun.

Poin krusialnya, pengelompokan ini bersifat relatif. Posisi sebuah keluarga ditentukan oleh perbandingan dengan keluarga lain di seluruh negeri, bukan oleh standar absolut kebutuhan hidup. Sebuah rumah tangga bisa naik ke desil lebih tinggi meskipun daya belinya riil tidak mengalami kenaikan, cukup karena posisi kelompok lain menurun.

Mengapa Desil Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Di satu sisi, desil merupakan alat analisis yang berguna untuk membaca tren distribusi pengeluaran dan mengidentifikasi kelompok rentan secara cepat. Pemerintah memanfaatkan data ini sebagai basis penargetan program perlindungan sosial, mulai dari bantuan pangan hingga subsidi energi. Tanpa pengelompokan semacam ini, alokasi anggaran sosial berpotensi meleset dari sasaran.

Di sisi lain, keterbatasannya cukup signifikan. Pertama, karena relatif, desil tidak menangkap perubahan kesejahteraan absolut—keluarga di desil 4 tetap bisa mengalami penurunan daya beli nyata meski posisinya stabil. Kedua, desil berbasis pengeluaran mengabaikan dimensi non-moneter seperti akses kesehatan, pendidikan, sanitasi, dan ketahanan pangan. Ketiga, fluktuasi harga komoditas dapat menggeser posisi desil tanpa disertai perubahan fundamental ekonomi rumah tangga, termasuk ketahanan likuiditas keluarga itu sendiri.

"Desil merupakan pengelompokan keluarga berdasarkan posisi relatif tingkat kesejahteraannya, sehingga tidak dapat dipakai sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi keluarga," tegas Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

Indikator Pelengkap yang Harus Dibaca Bersamaan

Untuk memotret kesejahteraan secara utuh, BPS menyediakan rangkaian indikator lain yang saling melengkapi. Garis Kemiskinan menunjukkan nilai rupiah kebutuhan minimum per kapita per bulan, sementara Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menggambarkan seberapa jauh dan seberapa timpang kemiskinan menjangkau kelompok termiskin. Rasio Gini, yang kini berada di kisaran 0,38, mengukur ketimpangan distribusi pengeluaran secara keseluruhan.

Di luar indikator moneter, tersedia pula pengukuran multidimensi seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), angka kemiskinan ekstrem, serta statistik ketimpangan akses layanan dasar. Kombinasi pendekatan moneter dan non-moneter memberikan gambaran valuasi kesejahteraan yang jauh lebih akurat dibandingkan sekadar posisi desil pada satu titik waktu.

Implikasi bagi Kebijakan dan Interpretasi Publik

Bagi pembuat kebijakan, pesan ini menegaskan bahwa penargetan program sosial tidak boleh bertumpu pada satu rasio semata. Proyeksi efektivitas bantuan akan lebih tepat bila mempertimbangkan lintasan rumah tangga antarperiode survei, bukan hanya potret sesaat posisi desil. Pendekatan longitudinal memungkinkan pembedaan antara keluarga yang konsisten rentan dan yang naik-turun karena faktor musiman.

Bagi publik dan pelaku media, pemahaman atas karakter relatif desil mencegah salah baca. Klaim "jutaan orang naik desil" belum tentu berarti kesejahteraan membaik year-on-year; bisa jadi yang terjadi hanyalah pergeseran posisi relatif. Sebaliknya, bertahan di desil yang sama tidak otomatis berarti stagnasi apabila garis kesejahteraan absolut semua kelompok ikut mengalami kenaikan. Konsumsi rumah tangga sendiri menjadi penopang utama sentimen pasar domestik, sehingga salah interpretasi distribusi kesejahteraan berisiko mengaburkan arah kebijakan fiskal maupun moneter.

Pada akhirnya, desil tetap relevan sebagai bagian dari portofolio indikator kesejahteraan nasional. Namun, sebagaimana ditegaskan BPS, ia wajib dibaca bersama indikator lain—dari garis kemiskinan hingga IPM—agar potret kondisi ekonomi keluarga Indonesia tidak bias dan kebijakan yang lahir darinya semakin presisi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User