Sep 14, 2026
Nasional

BPOM Didesak Perkuat Deteksi Risiko Obat dan Makanan Sebelum Jatuh Korban

Lembaga pengawas obat dan makanan di Indonesia didorong untuk mereformasi paradigma kerja dari pendekatan birokratis pasif menuju sistem deteksi dini berba

BPOM Didesak Perkuat Deteksi Risiko Obat dan Makanan Sebelum Jatuh Korban

Lembaga pengawas obat dan makanan di Indonesia didorong untuk mereformasi paradigma kerja dari pendekatan birokratis pasif menuju sistem deteksi dini berbasis analisis risiko mutakhir. Berbagai pakar kesehatan masyarakat dan tata kelola regulasi menegaskan bahwa pengawasan sektor krusial ini tidak boleh sekadar berpatokan pada kelengkapan dokumen administratif atau sertifikasi di atas kertas, melainkan harus bertumpu pada kemampuan mengantisipasi potensi bahaya sebelum timbul korban jiwa di masyarakat.

Kelemahan pengawasan yang bersifat reaktif kerap kali menempatkan publik sebagai pihak paling rentan. Penilaian risiko dinilai perlu diperluas hingga mencakup rantai pasok bahan baku global, perubahan formulasi industri, hingga pola distribusi di pasar fisik maupun digital.

Evaluasi Menyeluruh Pola Pengawasan Farmasi dan Pangan

Evaluasi terhadap pengawasan keamanan sediaan farmasi dan pangan mendesak dilakukan secara menyeluruh guna mencegah berulangnya krisis kesehatan masa lalu. Belajar dari sejumlah insiden cemaran bahan berbahaya pada produk konsumsi dan obat, negara dinilai tidak boleh lagi bergerak lambat.

"Pengawasan obat dan makanan tidak boleh berhenti pada kepatuhan terhadap regulasi di atas kertas semata. Negara wajib memiliki kapasitas membaca risiko sedini mungkin, mengolah data anomali secara *real-time*, dan mengeksekusi intervensi terukur sebelum zat berbahaya terlanjur meracuni masyarakat," tegas pakar regulasi kesehatan.

Kronologi dan Urutan Penguatan Sistem Deteksi Dini

Guna mewujudkan ekosistem pengawasan yang tanggap krisis, terdapat sejumlah tahapan krusial yang direkomendasikan untuk segera diimplementasikan oleh otoritas pengawas:

  1. Digitalisasi dan Integrasi Data Rantai Pasok: Membangun sistem pelacakan digital hulu-ke-hilir untuk melacak asal-usul bahan baku aktif farmasi (API) maupun bahan tambahan pangan impor secara transparan dan terintegrasi lintas kementerian.
  2. Pemetaan Profil Risiko Produsen: Menerapkan algoritma pemeringkatan risiko berkala terhadap industri farmasi dan pangan berdasarkan rekam jejak kepatuhan, sumber bahan baku, serta integritas hasil uji mandiri.
  3. Penguatan Uji Petik Acak di Pasaran (Post-Market Surveillance): Mengintensifkan audit mendadak dan uji laboratorium independen secara berkala terhadap produk yang telah beredar di fasilitas kesehatan, apotek, minimarket, serta lokapasar (*e-commerce*).
  4. Pengembangan Sistem Peringatan Dini Terintegrasi: Menghubungkan pelaporan efek samping obat dari rumah sakit dan puskesmas secara langsung ke pusat data otoritas pengawas untuk mendeteksi anomali klinis secara cepat.

Menutup Celah Regulasi di Era Digital

Tantangan pengawasan kini kian kompleks seiring masifnya perdagangan obat keras dan pangan olahan secara daring. Jalur distribusi informal sering kali menjadi celah masuknya produk ilegal atau produk dengan standar mutu di bawah batas aman.

Oleh karena itu, kolaborasi lintas lembaga yang melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan, aparat penegak hukum, serta platform niaga elektronik menjadi kunci mutlak. Tanpa transformasi sistem yang agresif dalam membaca risiko, ancaman krisis kesehatan masyarakat akan terus membayangi setiap saat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User