Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memperketat pengawasan langsung terhadap penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di kawasan pelabuhan penyeberangan strategis. Langkah inspeksi mendalam ini difokuskan pada operasional PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, guna memastikan ketersediaan pasokan energi bagi armada kapal feri lintas Jawa–Bali tetap aman tanpa celah kebocoran.
Pelabuhan Ketapang memegang peranan krusial sebagai urat nadi logistik dan mobilitas jutaan orang antarpulau. Gangguan kecil pada rantai pasok Jenis BBM Tertentu (JBT), khususnya solar subsidi bagi kapal-kapal penyeberangan, dapat memicu efek domino berupa kelumpuhan distribusi logistik nasional dan lonjakan harga barang pokok di Pulau Dewata.
Mengamankan Urat Nadi Logistik Jawa-Bali
Dalam peninjauan lapangan berkala, BPH Migas memeriksa secara ketat sarana dan fasilitas penyimpanan bunker, skema pengisian bahan bakar ke kapal (bunkering), hingga kesesuaian alokasi kuota yang telah ditetapkan bagi sektor transportasi laut. Kunjungan investigatif ini bertujuan mengidentifikasi potensi hambatan teknis maupun indikasi penyimpangan distribusi di hilir.
"Kami bertanggung jawab memastikan setiap liter BBM subsidi yang dialokasikan negara untuk sektor transportasi penyeberangan benar-benar tersalurkan tepat sasaran dan tepat volume. ASDP Ketapang adalah titik vital, sehingga operasional kapal feri tidak boleh terganggu oleh persoalan kelangkaan BBM," tegas perwakilan tim pengawas BPH Migas dalam peninjauan di Banyuwangi.
Operasional penyeberangan Ketapang–Gilimanuk beroperasi selama 24 jam penuh tanpa henti dengan puluhan trip kapal setiap harinya. Kestabilan pasokan bahan bakar bersubsidi menjadi faktor mutlak untuk menjaga ketepatan waktu sandar-layar armada Ro-Ro (Roll-on/Roll-off), terutama saat menghadapi lonjakan volume kendaraan logistik maupun arus liburan panjang.
Digitalisasi dan Pengawasan Ketat di Titik Serah
Guna menutup celah penyelewengan, BPH Migas bersama penyalur energi resmi mendorong digitalisasi pencatatan penerimaan BBM di pelabuhan. Sistem pencatatan elektronik terintegrasi kini diwajibkan untuk merekam setiap aktivitas transfer solar subsidi dari mobil tangki maupun pipa bunker langsung ke tangki bahan bakar kapal.
Berikut sejumlah fokus utama dalam pengawasan pasokan energi di Pelabuhan ASDP Ketapang:
- Verifikasi Dokumen Bunker: Pencocokan data surat jalan, volume riil pada flow meter, dan manifes resmi kapal penerima.
- Kepatuhan Kuota Terbitan: Monitoring sisa kuota BBM bersubsidi tahunan agar tidak terjadi over-kuota sebelum tutup tahun anggaran.
- Kualitas dan Spesifikasi Solar: Uji petik acak terhadap mutu bahan bakar guna mencegah kerusakan mesin kapal di tengah laut.
- Antisipasi Titik Rawan Penyelundupan: Pengetatan penjagaan di area dermaga komersial dan ponton bunker.
Manajemen ASDP Ketapang menyambut baik pengawasan ketat tersebut. Koordinasi lintas lembaga dinilai efektif mencegah praktik pemburu rente yang kerap memanfaatkan disparitas harga solar industri dan solar subsidi. Dengan kepastian pasokan ini, operator pelayaran dapat fokus memaksimalkan keselamatan serta kenyamanan pelayaran bagi masyarakat luas.
Comments (0)