Boy Thohir dan Anindya Bakrie Yakin IHSG Bisa Tembus 9.000, Asalkan...
Keyakinan terhadap potensi lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuju level 9.000 kembali mencuat, kali ini datang dari dua figur penting dunia usaha nasional: Garibaldi “Boy” Thohir dan A...
Keyakinan terhadap potensi lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuju level 9.000 kembali mencuat, kali ini datang dari dua figur penting dunia usaha nasional: Garibaldi “Boy” Thohir dan Anindya N. Bakrie. Keduanya menyampaikan bahwa target ambisius tersebut bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah skenario yang sangat mungkin terwujud dalam beberapa tahun ke depan, asalkan sejumlah prasyarat mendasar terpenuhi. Optimisme ini mencuat di tengah kondisi pasar modal Indonesia yang masih berkutat di kisaran 7.000–7.300, namun dengan fundamental emiten yang dinilai kokoh.
Fundamental Perusahaan: Batu Loncatan Menuju Level Psikologis Baru
Boy Thohir menyoroti bahwa kekuatan neraca perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini jauh lebih solid dibandingkan beberapa tahun silam. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) rata-rata emiten besar, khususnya di sektor perbankan, pertambangan, dan konsumsi, menunjukkan perbaikan signifikan. “Jika kita lihat data laporan keuangan kuartal pertama 2025, banyak perusahaan mencatat pertumbuhan laba dua digit, sementara ekspansi bisnis tetap terkendali,” ujarnya. Dengan rendahnya risiko gagal bayar dan tingginya profitabilitas, ia menilai valuasi saat ini masih terdiskon sekitar 15–20 persen dari nilai wajarnya, membuka ruang apresiasi yang lebar.
Di sisi lain, Anindya Bakrie menekankan bahwa diversifikasi bisnis grup-grup besar seperti Bakrie & Brothers ke sektor infrastruktur energi terbarukan dan hilirisasi mineral memberikan daya ungkit baru. Proyek-proyek strategis tersebut tidak hanya menopang pendapatan jangka panjang, tetapi juga memperkuat profil emiten di mata investor global. Namun, ia mengingatkan, “Fundamental yang bagus ini harus didukung oleh iklim investasi yang pasti. Tanpa itu, potensi hanya akan menjadi angka di atas kertas.”
Dukungan Pemerintah: Kunci Kepercayaan Investor Domestik dan Asing
Syarat utama yang disuarakan kedua pengusaha adalah keberlanjutan kebijakan pemerintah yang pro-pasar. Menurut mereka, stabilitas regulasi menjadi magnet yang menentukan arah aliran modal. Boy Thohir merujuk pada momen ketika IHSG sempat mendekati level 7.500 pada 2022, yang kala itu ditopang oleh euforia hilirisasi dan kenaikan harga komoditas. Agar indeks mampu melesat lebih tinggi, pemerintah perlu memperkuat kepastian hukum kontrak karya, perpajakan yang konsisten, serta kemudahan izin usaha. “Investor, terutama asing, sangat sensitif terhadap perubahan aturan main yang tiba-tiba,” katanya.
Anindya Bakrie menambahkan bahwa insentif fiskal untuk sektor-sektor prioritas, seperti energi hijau dan digital, akan menciptakan efek domino. Ia mencontohkan, penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) pada beberapa komoditas strategis serta pembebasan bea masuk untuk peralatan industri mampu menurunkan biaya produksi dan mendongkrak margin emiten. “Ketika pemerintah hadir melalui kebijakan yang tepat sasaran, private sector akan merespons dengan peningkatan investasi, dan IHSG bisa bergerak lebih ekspansif,” ujarnya dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta, pekan lalu.
Tantangan Global: Capital Outflow dan Sentimen Bunga Acuan
Optimisme yang disampaikan Boy dan Anindya bukannya tanpa catatan. Keduanya sepakat bahwa risiko eksternal masih membayangi, terutama terkait kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve. Data terbaru menunjukkan bahwa probabilitas penurunan Fed Fund Rate pada paruh kedua 2025 masih menjadi tarik-ulur. Jika suku bunga acuan bertahan lebih tinggi untuk waktu yang lama, tekanan capital outflow dari pasar negara berkembang seperti Indonesia bisa meningkat. “Kita perlu mewaspadai arus dana asing yang keluar. Namun, selama yield obligasi negara kita tetap atraktif dan rupiah stabil, investor jangka panjang akan tetap bertahan,” urai Boy Thohir.
Anindya Bakrie menyoroti pula ketegangan geopolitik yang dapat memicu lonjakan harga energi dan rantai pasok global. Biro Statistik Nasional mencatat, meskipun inflasi inti Indonesia terkendali di angka 2,3 persen year-on-year per April 2025, sentimen kenaikan biaya logistik akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan daya beli dan konsumsi domestik. Sektor konsumsi yang menjadi penopang sekitar 55 persen dari produk domestik bruto (PDB) harus dijaga agar tetap tumbuh di atas 5 persen.
Angka dan Proyeksi: Memetakan Jalan Menuju 9.000
Berdasarkan perhitungan teknokratis, untuk mencapai IHSG 9.000 dari posisi saat ini di kisaran 7.200, indeks perlu mengalami kenaikan sekitar 25 persen. Dengan asumsi pertumbuhan laba emiten rata-rata 10–12 persen per tahun, dan ekspansi rasio price-to-earning (P/E) dari 14,5 kali menjadi 17 kali, target tersebut dinilai realistis dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun ke depan. Syaratnya, sentimen pasar domestik tetap kondusif dan realisasi belanja pemerintah berjalan optimal.
Boy Thohir memproyeksikan, sektor perbankan digital dan logistik akan menjadi motor penggerak indeks. “Bank-bank dengan digitalisasi tinggi sudah mencatatkan pertumbuhan kredit di atas 15 persen tanpa mengorbankan kualitas aset. Ini cerita menarik bagi investor,” pungkasnya. Sementara Anindya Bakrie meyakini bahwa akselerasi proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) tahap kedua akan memberikan sentimen positif bagi emiten konstruksi, properti, dan material.
Dengan demikian, keyakinan dua pengusaha nasional ini bukan sekadar retorika. Fondasi ekonomi yang solid, jika didukung oleh kebijakan pemerintah yang terukur dan antisipasi terhadap guncangan global, dapat membuka jalan bagi IHSG menuju level psikologis baru. Investor pun tampaknya mulai menanti katalis nyata yang akan mengubah target indeks 9.000 menjadi kenyataan.
Baca juga:
Comments (0)