IHSG Kembali Cetak Rekor, Asing Buru Saham Bank dan Mineral

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks komposit ditutup menguat 1,24% ke level 7.350, melanjutk...

IHSG Kembali Cetak Rekor, Asing Buru Saham Bank dan Mineral

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks komposit ditutup menguat 1,24% ke level 7.350, melanjutkan tren positif setelah libur akhir pekan. Kenaikan ini terutama ditopang oleh aksi beli agresif investor asing yang mencatatkan nilai bersih masuk (net buy) mencapai Rp1,2 triliun, tertinggi dalam dua bulan terakhir.

MBMA Jadi Primadona Asing

Di antara seluruh saham yang diperdagangkan, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencuri perhatian dengan pembelian bersih asing sebesar Rp257,3 miliar. Angka ini hampir seperlima dari total net buy asing, menandakan kepercayaan investor global terhadap prospek perusahaan yang bergerak di sektor baterai kendaraan listrik. Minat tersebut tidak lepas dari rencana ekspansi MBMA ke pasar hilirisasi nikel dan pengumuman kemitraan strategis dengan produsen baterai asal Korea Selatan.

Selain MBMA, saham mineral lainnya seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga mencatatkan akumulasi beli. Kenaikan harga komoditas dunia, khususnya nikel dan batu bara, menjadi motor utama rotasi portofolio asing ke sektor ini. Harga nikel kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) misalnya, bertahan di atas US$20.000 per ton, level yang dinilai menguntungkan bagi produsen dalam negeri.

Sektor Keuangan Kembali Dilirik

Tak hanya komoditas, investor asing juga mengalihkan perhatian ke saham-saham perbankan. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi sasaran utama, dengan net buy masing-masing mencapai Rp189 miliar dan Rp156 miliar. Lonjakan minat ke sektor finansial ini mengindikasikan persepsi bahwa suku bunga acuan Bank Indonesia yang tetap di level 5,75% akan menjaga margin bunga bersih (NIM) bank-bank besar dalam zona aman. BMRI sendiri membukukan pertumbuhan laba bersih 12% year-on-year pada kuartal I-2025, sementara BBCA mencatat ekspansi kredit sebesar 10,5%.

Peningkatan volume transaksi di kedua saham ini mencapai 1,5 kali rata-rata harian, mengindikasikan akumulasi oleh investor institusi. Tidak hanya BMRI dan BBCA, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga mulai diburu asing dengan net buy Rp82 miliar, menandakan penyebaran minat di seluruh bank besar. Pergerakan saham perbankan turut mendorong IHSG, mengingat bobot sektor keuangan mencapai sekitar 35% dari kapitalisasi pasar. Analis mencermati bahwa inflow asing ke papan atas perbankan ini sejalan dengan rebound Indeks Sektor Keuangan yang naik 1,8%.

Pro: Fundamental Domestik Kokoh

Di satu sisi, banjirnya dana asing ini memiliki landasan fundamental yang rasional. Pertama, data neraca perdagangan Indonesia yang kembali surplus pada kuartal pertama 2025 berkat ekspor komoditas yang kuat. Kedua, inflasi inti yang terjaga di bawah 2,5% memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif. Ketiga, valuasi IHSG yang masih relatif menarik dibandingkan bursa kawasan, dengan price-to-earnings ratio (PER) sekitar 13,5 kali, lebih rendah dari Filipina atau Thailand. Keempat, potensi dividend yield yang tinggi dari emiten perbankan seperti BMRI dan BBCA, yang diprediksi mencapai 4-5%, menjadi magnet bagi investor institusi global yang mencari imbal hasil stabil. Kelima, aliran dana asing ke pasar obligasi juga stabil, terlihat dari yield Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun yang turun ke 6,8%, sehingga cost of fund perbankan berpotensi lebih kompetitif.

Faktor eksternal juga mendukung. Pelemahan indeks dolar AS pasca data tenaga kerja yang mengecewakan membuka peluang aliran modal ke emerging market, termasuk Indonesia. Fund manager global cenderung meningkatkan bobot portofolio di Asia Tenggara untuk diversifikasi dari gejolak geopolitik di Eropa Timur.

Kontra: Risiko Global dan Valuasi Jenuh

Namun di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan agar tidak terlalu euforia. Ketidakpastian dari arah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed) tetap menjadi bayang-bayang. Jika The Fed justru menaikkan suku bunga satu kali lagi di semester kedua, maka potensi pembalikan arus modal (capital outflow) akan meningkat. Selain itu, harga komoditas yang sangat volatil bisa meredam kinerja emiten tambang sewaktu-waktu. Misalnya, over-supply dari Tiongkok berpotensi menekan harga nikel dalam beberapa bulan ke depan.

Dari sisi domestik, kekhawatiran akan perlambatan konsumsi rumah tangga akibat pengetatan subsidi energi juga menjadi katalis negatif. Data Retail Sales Index yang dirilis BPS menunjukkan kenaikan hanya 0,8% month-to-month, terendah dalam enam bulan. Beberapa sekuritas asing justru menaikkan peringkat underweight untuk sektor konsumer, dan hal itu secara tidak langsung bisa mengimbangi sentimen positif di perbankan dan komoditas. Terlebih lagi, valuasi saham-saham tertentu seperti MBMA sudah dianggap premium dengan PER melebihi 25 kali, sehingga masuknya asing lebih bersifat momentum jangka pendek. Potensi risiko politik terkait tahun pemilu yang kian dekat seringkali membuat investor asing mengambil posisi jangka pendek, bukan strategis. Ini bisa meningkatkan volatilitas dan sudden reversal.

Pandangan Pasar dan Proyeksi

Pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi AS dan rapat dewan gubernur BI pekan depan. Jika tidak ada kejutan negatif, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 7.250-7.450 dengan dukungan lanjutan aksi beli asing. Namun, partisipasi investor domestik yang cenderung wait-and-see di level saat ini perlu diwaspadai agar tidak terjadi profit taking yang membalikkan arus. Secara historis, net buy asing yang tinggi sering diikuti oleh koreksi teknis seminggu kemudian. Oleh karena itu, diversifikasi portofolio dan pemantauan ketat terhadap pergerakan rupiah menjadi kunci bagi investor yang ingin menangkap momentum ini.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User