Sep 14, 2026
Nasional

BMKG Peringatkan El Nino Sangat Kuat Ancam Kekeringan hingga Awal 2027

Peta pemantauan anomali iklim milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan visualisasi yang mencemaskan. Hamparan warna merah

BMKG Peringatkan El Nino Sangat Kuat Ancam Kekeringan hingga Awal 2027

Peta pemantauan anomali iklim milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan visualisasi yang mencemaskan. Hamparan warna merah pekat mendominasi wilayah selatan Indonesia, terutama Pulau Jawa, mengindikasikan lonjakan suhu permukaan laut dan penurunan drastis curah hujan. Fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat kini resmi dinyatakan aktif, membawa ancaman kekeringan berkepanjangan yang diperkirakan bertahan hingga awal tahun 2027.

Berdasarkan data analisis dinamika atmosfer terkini, setidaknya 80,7 persen wilayah Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi masuk dalam periode kemarau ekstrem. Kondisi ini bukan sekadar siklus musiman biasa, melainkan anomali iklim ganda yang dipicu oleh kombinasi El Nino kuat di Samudra Pasifik dan fenomena Positive Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia, yang secara simultan menyedot uap air menjauh dari kepulauan Nusantara.

Anomali Suhu dan Peta Krisis Pulau Jawa

Hasil investigasi terhadap data pemantauan dasarian menunjukkan bahwa Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi episentrum kekeringan terparah. Ketiadaan tutupan awan hujan selama berpekan-pekan telah memicu percepatan laju penguapan air tanah dan waduk-waduk strategis nasional.

"Indikator dinamika atmosfer memperlihatkan intensitas anomali suhu muka laut yang terus menguat. Kami memproyeksikan kekeringan hidrologis dan agrometeorologis ini berpotensi berlanjut lebih panjang hingga awal 2027 jika tidak terjadi pelemahan interaksi laut-atmosfer dalam beberapa kuartal ke depan," tegas perwakilan tim analisis iklim BMKG dalam keterangannya.

Kondisi ini menempatkan lumbung-lumbung padi nasional di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dalam status siaga darurat. Pasokan air irigasi teknis di sejumlah bendungan utama mulai menyusut di bawah ambang batas operasional normal, mengancam siklus tanam kedua dan ketiga.

Dampak Sistemik bagi Ketahanan Nasional

Kekeringan panjang yang dipicu oleh El Nino kategori kuat ini berpotensi memicu rantai krisis multi-sektor jika tidak segera diantisipasi dengan mitigasi struktural. Beberapa sektor krusial yang menghadapi kerentanan tertinggi meliputi:

  • Sektor Pertanian dan Pangan: Risiko gagal panen (puso) massal pada komoditas pangan utama, yang dapat memicu lonjakan harga beras dan ketergantungan impor.
  • Krisis Air Bersih Perkotaan: Penurunan debit air tanah dan sungai baku yang menjadi sumber utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kota-kota besar.
  • Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Peningkatan kerentanan lahan gambut dan kawasan hutan di Sumatra serta Kalimantan terhadap kebakaran yang sulit dipadamkan.
  • Kesehatan Masyarakat: Peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akibat akumulasi debu dan polusi udara yang terperangkap tanpa bilasan air hujan.

BMKG mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengaktifkan protokol manajemen kekeringan darurat. Langkah-langkah seperti optimalisasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mengisi waduk tampungan sebelum fase puncak, percepatan distribusi pompa air, hingga efisiensi penggunaan air baku skala industri menjadi kebutuhan mendesak guna membentengi ketahanan nasional menghadapi anomali iklim ekstrem ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User