BMIWI Resmi Tetapkan Hari Majelis Taklim Nasional untuk Hormati Peran Dakwah

Jakarta - Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) mengambil langkah monumental dengan mencanangkan Hari Majelis Taklim Nasional. Keputusan ini hadir sebagai bentuk pengakuan nyata terhadap kon...

Jakarta - Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) mengambil langkah monumental dengan mencanangkan Hari Majelis Taklim Nasional. Keputusan ini hadir sebagai bentuk pengakuan nyata terhadap kontribusi majelis taklim yang selama ini menjadi tulang punggung syiar Islam dan pemberdayaan umat di Indonesia. Pencanangan tersebut tidak hanya simbolis, melainkan membawa semangat baru bagi jutaan jemaah dan pengurus yang tersebar di seluruh pelosok negeri.

Deklarasi Bersejarah di Tengah Silaturahmi Nasional

Pengumuman bersejarah itu disampaikan dalam acara Silaturahmi Nasional BMIWI yang diselenggarakan di Jakarta, awal November 2024. Hadir ratusan perwakilan majelis taklim dari berbagai provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua. Ketua Umum BMIWI, Hj. Nurhasanah Syam, secara resmi membacakan deklarasi yang disambut dengan gemuruh takbir. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa penetapan ini merupakan jawaban atas aspirasi panjang kaum ibu dan aktivis dakwah yang menginginkan adanya hari khusus untuk memperkuat identitas dan semangat pengajian.

"Majelis taklim adalah institusi pendidikan nonformal yang akarnya sangat dalam di masyarakat. Dengan Hari Majelis Taklim Nasional, kami ingin meneguhkan bahwa ruang-ruang pengajian ini adalah pusat peradaban," ujar Hj. Nurhasanah di hadapan peserta. Menurutnya, usulan ini telah melalui kajian panjang dan dukungan dari berbagai organisasi Islam perempuan, serta sejalan dengan arah pembinaan keagamaan pemerintah.

Perjalanan Panjang Majelis Taklim dari Masa ke Masa

Majelis taklim bukanlah fenomena baru. Sejak masa penyebaran Islam oleh para wali, pola pengajian berbasis komunitas sudah menjadi media utama untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman. Data Kementerian Agama mencatat, saat ini terdapat lebih dari 280.000 majelis taklim yang beroperasi di seluruh Indonesia, dengan jumlah jemaah aktif mencapai puluhan juta orang. Fakta ini menempatkan majelis taklim sebagai salah satu pilar pendidikan agama terbesar di dunia.

Di era modern, peran majelis taklim semakin multifungsi. Bukan hanya tempat mengkaji Al-Qur'an, tetapi juga bertransformasi menjadi wadah konsultasi keluarga, pengembangan ekonomi syariah, literasi digital, hingga ruang advokasi melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak. "Kini banyak majelis taklim yang memiliki unit usaha mikro, koperasi, bahkan klinik kesehatan. Perubahan ini menunjukkan betapa dinamisnya lembaga ini," jelas Dr. Ahmad Fauzi, sosiolog dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional diharapkan bisa mendorong lebih banyak inovasi di level akar rumput.

Dukungan Luas dan Harapan Pengakuan Negara

Deklarasi ini mendapat apresiasi dari banyak kalangan. Menteri Agama melalui pernyataan tertulisnya menyatakan dukungan penuh, seraya menilai bahwa pengakuan terhadap majelis taklim sejalan dengan visi penguatan moderasi beragama. Sementara itu, sejumlah tokoh perempuan nasional seperti mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, turut memberikan sambutan positif. Dalam pesan videonya, ia menekankan bahwa majelis taklim adalah motor penggerak pemberdayaan perempuan yang paling membumi. "Ibu-ibu pengajian adalah agen perubahan yang luar biasa," ucapnya.

BMIWI mengusulkan tanggal 22 Desember sebagai Hari Majelis Taklim Nasional, bertepatan dengan peringatan hari lahir organisasi yang menaungi ribuan majelis taklim di Indonesia. Meski demikian, badan ini menyadari bahwa untuk menjadi hari peringatan nasional yang resmi dalam kalender negara, dibutuhkan keputusan presiden. Oleh karena itu, BMIWI berencana mengajukan naskah akademik lengkap beserta rekomendasi dari berbagai pemangku kepentingan kepada pemerintah. "Kami optimistis, karena dukungan dari umat dan para ulama sangat mengalir deras," kata Ketua Panitia Pencanangan, Hj. Ruhana Said, saat ditemui di sela-sela acara.

Program Konkret Menyambut Hari Baru

Menyambut peringatan perdana yang rencananya digelar tahun depan, BMIWI telah menyiapkan serangkaian program strategis. Ada tiga pilar utama yang akan digulirkan, yaitu penguatan kapasitas sumber daya manusia pengurus majelis taklim, inkubasi bisnis berbasis jemaah, dan dakwah digital anti-hoaks. Program ini akan dilakukan secara bertahap melalui pelatihan bersertifikat, kemitraan dengan perguruan tinggi Islam, dan dukungan dari perusahaan BUMN melalui dana tanggung jawab sosial.

Di bidang ekonomi, misalnya, BMIWI akan meluncurkan "Preneur Hijrah", sebuah program pendampingan bagi ibu-ibu majelis taklim yang memiliki usaha kecil di bidang kuliner, fesyen muslim, dan kerajinan tangan. Targetnya, dalam tiga tahun, terbentuk 1.000 pengusaha baru yang naik kelas dari level mikro ke skala kecil-menengah. Sementara itu, untuk menangkal radikalisme dan misinformasi, puluhan ribu pengurus majelis taklim akan dibekali keterampilan literasi digital agar mampu memilah konten keagamaan yang kredibel. "Kami tidak ingin ruang pengajian kita dimasuki paham-paham yang menyimpang. Majelis taklim harus menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah yang ramah dan terbuka," tegas Hj. Nurhasanah.

Dari Ruang Pengajian ke Pusat Peradaban

Pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional adalah momentum untuk merefleksikan kembali esensi dari keberadaan kelompok pengajian ini. Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, majelis taklim diharapkan tidak berhenti sebagai ritual mingguan, melainkan menjelma menjadi pusat peradaban yang melahirkan solusi bagi persoalan umat. Sebagai gambaran, di beberapa daerah, majelis taklim telah menjadi motor penggerak bank sampah, layanan penitipan anak, hingga sekolah alam.

Peringatan ini juga menjadi ajang untuk mempererat ukhuwah antarmajelis taklim, yang terkadang masih terkotak-kotak oleh perbedaan paham politik atau ormas keagamaan. Dengan adanya hari bersama, BMIWI berharap dapat membangun jembatan dialog dan kerja sama yang lebih luas, sehingga suara majelis taklim semakin diperhitungkan dalam pengambilan kebijakan publik. Apalagi, mayoritas anggotanya adalah kaum perempuan yang selama ini sering kali aspirasinya kurang terakomodasi. "Melalui Hari Majelis Taklim Nasional, kami menyuarakan bahwa perempuan punya peran strategis dalam membangun bangsa, dimulai dari pengajian," pungkas Hj. Nurhasanah. Puncak peringatan akan diisi dengan tabligh akbar, pameran produk ekonomi jemaah, dan penyerahan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah, yang dijadwalkan hadir ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User