FIFA Kaji Wacana Piala Dunia 64 Tim, Infantino Sebut Semua Negara Berhak

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mulai membuka lembaran diskusi serius mengenai kemungkinan perluasan jumlah peserta Piala Dunia putra menjadi 64 negara. Presiden FIFA, Gianni Infantino, meneg...

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mulai membuka lembaran diskusi serius mengenai kemungkinan perluasan jumlah peserta Piala Dunia putra menjadi 64 negara. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa setiap negara di penjuru dunia semestinya memiliki ruang untuk menyimpan asa tampil di panggung sepak bola paling prestisius. Rencana ini akan menjadi salah satu agenda utama dalam rapat-rapat strategis badan tertinggi sepak bola dunia tersebut dalam waktu dekat.

Ekspansi Berlanjut: Dari 48 ke 64 Kontestan

Langkah menuju 64 tim merupakan kelanjutan dari ekspansi besar yang sebelumnya telah disepakati. Edisi 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sudah menandai peralihan dari format 32 tim yang bertahan sejak 1998 menjadi 48 tim. Dengan format 16 grup berisi masing-masing tiga tim, Piala Dunia 2026 akan memainkan total 80 pertandingan—naik signifikan dari 64 laga pada format klasik. Kini, FIFA menimbang untuk kembali mendobrak batas tersebut, dengan membuka kemungkinan jumlah peserta menjadi 64 negara pada edisi 2030 atau setelahnya. Dengan asumsi menggunakan pola 16 grup berisi empat tim, total pertandingan akan membengkak menjadi 128 laga, hampir dua kali lipat dari era 32 tim, dan tentu menjadi durasi turnamen terpanjang dalam sejarah.

Mimpi Global Infantino dan Perhitungan Bisnis

Inti dari dorongan ini, menurut Infantino, bukan semata soal angka, melainkan filosofi inklusivitas. "Setiap negara, sebesar atau sekecil apapun, berhak untuk menyimpan mimpi tampil di Piala Dunia," ungkap Infantino dalam sejumlah kesempatan, mencerminkan visi globalisasi sepak bola. Di balik narasi mimpi itu, ada pula kalkulasi bisnis yang tak kalah menarik. Penambahan peserta dari Asia, Afrika, dan Oseania berpotensi membuka pintu bagi pasar televisi dan sponsor yang selama ini belum tergarap maksimal. FIFA telah melihat sukses komersial dari perluasan Piala Eropa 2016 menjadi 24 tim serta penjualan hak siar Piala Dunia Antarklub 2025 yang diikuti 32 kesebelasan. Pola serupa diyakini bakal menyulut antusiasme dan pendapatan lebih besar, sekaligus meneguhkan posisi sepak bola sebagai olahraga paling populer yang menghubungkan seluruh benua.

Tantangan Logistik dan Kualitas Kompetisi

Di sisi lain, wacana ini memantik perdebatan pelik. Federasi-federasi papan atas Eropa dan Amerika Selatan dikabarkan memendam kekhawatiran soal penurunan mutu pertandingan fase grup. Dengan 64 tim, akan ada lebih banyak negara dengan peringkat FIFA rendah yang berpotensi membuat laga-laga awal kurang kompetitif. Beban terhadap pemain pun menjadi isu serius; kalender yang kian padat dengan bertambahnya jumlah pertandingan internasional berisiko memperpanjang kelelahan fisik dan menambah risiko cedera, terutama bagi para bintang yang sudah bermain di liga-liga top dengan jadwal super sibuk. Dari segi infrastruktur, menggelar hajatan 128 pertandingan memerlukan banyak stadion berstandar tinggi dan koordinasi antarkota—atau bahkan antarnegara—yang jauh lebih rumit. Meski demikian, model tuan rumah bersama seperti yang dipraktikkan pada 2026 (tiga negara) dan rencana 2030 (enam negara, mencakup Spanyol, Portugal, Maroko, serta laga pembuka di Argentina, Uruguay, dan Paraguay) menunjukkan bahwa tantangan ini bisa diatasi dengan kolaborasi multinegara yang solid.

Respons Konfederasi dan Agenda Pembahasan

Konfederasi Asia (AFC) dan Afrika (CAF) menjadi pihak yang paling antusias menyambut ide ini. Tambahan jatah tiket otomatis akan memperbesar representasi mereka di putaran final, sejalan dengan upaya pengembangan pembinaan usia muda di wilayah tersebut. Sebaliknya, UEFA dan CONMEBOL disebut lebih berhati-hati dan meminta kajian mendalam sebelum memutuskan loncatan dari 48 ke 64. Rapat Dewan FIFA yang dijadwalkan pada kuartal ketiga tahun ini akan menampung berbagai masukan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk perwakilan klub, liga, dan asosiasi pemain. Keputusan final bisa jadi baru diambil dalam Kongres FIFA berikutnya, mengingat implikasinya yang besar terhadap tata kelola dan kalender internasional hingga satu dekade ke depan.

Menanti Panggung Baru Sepak Bola Dunia

Apapun hasil akhirnya, diskusi ini menandai babak baru diplomasi sepak bola global. Piala Dunia bukan lagi sekadar arena adu prestasi bagi elite tradisional, tetapi juga alat untuk mempererat solidaritas dan menyuntikkan investasi pembinaan di negara-negara berkembang. Bila wacana 64 tim disetujui, wajah turnamen empat tahunan ini akan berubah drastis, menghadirkan lebih banyak cerita, kejutan, dan semangat bahwa mimpi setiap bangsa—seperti yang diinginkan Infantino—memang layak diperjuangkan di lapangan hijau.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User