Fenomena Fatherless di Indonesia: 25 Persen Anak Tanpa Figur Ayah

Jakarta - Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemendukbangga) mengungkapkan bahwa sekitar seperempat dari total populasi anak di Indonesia, atau te...

Jakarta - Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemendukbangga) mengungkapkan bahwa sekitar seperempat dari total populasi anak di Indonesia, atau tepatnya 25 persen, hidup tanpa kehadiran sosok ayah dalam keseharian mereka. Fenomena yang dikenal dengan istilah fatherless ini menjadi perhatian serius pemerintah, mendorong lahirnya program khusus untuk mengembalikan peran vital ayah dalam tumbuh kembang anak.

Wihaji, pejabat Kemendukbangga yang memaparkan temuan tersebut, menekankan bahwa ketiadaan figur ayah bukan semata soal pisah ranjang atau perceraian, melainkan juga minimnya keterlibatan emosional ayah yang tinggal serumah. 'Banyak ayah yang secara fisik ada, tetapi secara psikologis absen,' ujarnya dalam sebuah diskusi daring. Kondisi ini, menurut para ahli, memiliki konsekuensi jangka panjang yang tidak ringan.

Dampak Multidimensi Kehilangan Figur Ayah

Ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari penurunan prestasi akademik hingga risiko gangguan kesehatan mental. Studi psikologi perkembangan yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology tahun lalu menunjukkan bahwa anak-anak yang besar tanpa keterlibatan ayah aktif memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar untuk mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial dan kontrol emosi. Di Indonesia, hal ini diperparah oleh norma budaya yang sering menempatkan pengasuhan sebagai tanggung jawab eksklusif ibu.

Dari sisi ekonomi, dampak fatherless juga menciptakan beban tambahan. Rumah tangga yang dikepalai oleh ibu tunggal umumnya memiliki pendapatan lebih rendah, mempersempit akses anak terhadap gizi baik, pendidikan berkualitas, dan layanan kesehatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 14,8 persen rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan berada di bawah garis kemiskinan, hampir dua kali lipat dari rumah tangga dengan kepala keluarga laki-laki. Lingkaran setan ini, jika tidak diputus, akan memperbesar kesenjangan sosial antargenerasi.

GAMAS: Inovasi Penguatan Peran Ayah

Merespons situasi ini, pemerintah melalui Kemendukbangga meluncurkan program Gerakan Ayah Mengasuh (GAMAS). Inisiatif ini bertujuan untuk mengedukasi dan mendorong para ayah agar lebih terlibat dalam pengasuhan, bukan sekadar sebagai pencari nafkah. Pilar utama GAMAS mencakup tiga aspek: Kesadaran, Keterampilan, dan Kehadiran. Para ayah diberikan pelatihan komunikasi positif dengan anak, manajemen stres dalam pengasuhan, serta pemahaman tentang pentingnya momen-momen kecil seperti mendampingi belajar atau membaca dongeng.

Di satu sisi, kehadiran GAMAS disambut positif oleh berbagai kalangan. Aktivis perlindungan anak, Dian Permatasari, menyatakan bahwa program ini dapat menjadi titik balik kultural. 'Selama ini, maskulinitas sering didefinisikan secara sempit sebagai penyedia finansial. GAMAS berpotensi menggeser paradigma itu menuju maskulinitas pengasuh,' katanya. Kampanye nasional yang melibatkan figur publik sebagai duta program juga dinilai efektif untuk menggaet partisipasi kalangan muda.

Di sisi lain, skeptisisme mengemuka terkait daya jangkau dan efektivitas program. Pengamat kebijakan sosial dari Universitas Gadjah Mada, Hendra Kusuma, mengingatkan bahwa pelatihan semata tidak akan cukup jika tidak diiringi perubahan kebijakan struktural. 'Bagaimana mungkin seorang ayah bisa hadir secara emosional ketika ia harus bekerja dua shift demi memenuhi kebutuhan dasar? Cuti ayah yang memadai dan fleksibel masih menjadi barang langka di banyak perusahaan,' kritiknya. Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) menunjukkan bahwa hanya 12 persen perusahaan di Indonesia yang menyediakan cuti ayah di luar ketentuan minimal undang-undang.

Sinergi Kebijakan dan Budaya

Agar cita-cita GAMAS tidak sekadar menjadi proyek seremonial, sejumlah pengamat merekomendasikan integrasi dengan kebijakan lain. Misalnya, revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan untuk memperpanjang dan mewajibkan cuti ayah berbayar, serta penyesuaian kurikulum sekolah yang lebih inklusif dalam mengajarkan peran gender setara. Lembaga pendidikan juga diminta membuka ruang lebih luas bagi partisipasi ayah, seperti mengadakan kegiatan 'Ayah Masuk Sekolah' yang rutin.

Tantangan terbesar terletak pada perubahan pola pikir yang sudah mengakar. Survei nasional yang dilakukan Litbang Kompas pada awal tahun ini menemukan bahwa 68 persen responden masih setuju dengan pernyataan 'Tugas utama ayah adalah mencari nafkah, sedangkan mengasuh anak adalah kodrat ibu.' Tanpa transformasi budaya yang menyeluruh, program sebaik apa pun akan terbentur tembok stereotip.

Langkah pemerintah memulai percakapan nasional tentang fenomena fatherless melalui GAMAS patut diapresiasi. Namun, mengubah statistik 25 persen anak tanpa figur ayah menjadi angka yang bisa diabaikan memerlukan konsistensi lintas sektor, dari pembuat regulasi hingga keluarga itu sendiri. Keberhasilan program ini pada akhirnya akan diukur dari seberapa normal kelak kita melihat seorang ayah menggendong anaknya di taman tanpa dianggap membantu, melainkan menjalankan perannya yang hakiki: menjadi orang tua.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User