Oct 14, 2026
Bisnis

Biaya Pengelolaan Lingkungan Bukan Beban, Ini Kata Menteri LH

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup per September 2026, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan bahwa biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk pengelolaan lingkungan hidup...

Biaya Pengelolaan Lingkungan Bukan Beban, Ini Kata Menteri LH

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup per September 2026, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menegaskan bahwa biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk pengelolaan lingkungan hidup bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang. Pernyataan ini menjadi sinyal penting bagi dunia usaha di tengah tren global yang semakin menuntut praktik bisnis berkelanjutan. Dalam kunjungan kerja ke kawasan wisata Cisarua, Jawa Barat, ia menekankan bahwa pengusaha perlu mengubah cara pandang terhadap kewajiban lingkungan.

Pro: Lingkungan Sehat Meningkatkan Valuasi Perusahaan

Di satu sisi, argumen bahwa biaya lingkungan adalah investasi memiliki dasar yang kuat. Data dari indeks keberlanjutan menunjukkan perusahaan dengan skor ESG (Environmental, Social, and Governance) tinggi cenderung memiliki valuasi lebih stabil dan biaya modal lebih rendah. Rasio biaya pengelolaan lingkungan terhadap total pendapatan umumnya hanya berkisar 0,5 hingga 3 persen, sementara manfaat berupa efisiensi energi, pengurangan limbah, dan reputasi merek bisa jauh melampaui angka tersebut. Tren global juga menunjukkan capital outflow dari perusahaan yang abai terhadap aspek lingkungan, seiring meningkatnya preferensi investor terhadap portofolio hijau.

Kontra: Realitas Beban Operasional di Lapangan

Di sisi lain, banyak pelaku usaha, terutama UMKM dan sektor manufaktur padat modal, masih menganggap biaya lingkungan sebagai beban tambahan yang menggerus margin. Survei internal sektor industri mengindikasikan bahwa kepatuhan terhadap regulasi lingkungan dapat menambah biaya operasional hingga 10-15 persen bagi perusahaan dengan teknologi pengolahan limbah terbatas. Dalam konteks likuiditas yang ketat, pengeluaran untuk instalasi pengolahan air limbah, izin lingkungan, dan audit berkala seringkali diprioritaskan paling akhir. Sentimen pasar terhadap saham sektor energi dan pertambangan yang menghadapi kewajiban rehabilitasi juga sempat tertekan dalam beberapa periode.

Keseimbangan antara Regulasi dan Insentif

Pernyataan Menteri LH ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang ingin mendorong transisi menuju ekonomi hijau tanpa menghambat iklim usaha. Fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan kebutuhan investasi besar di sektor infrastruktur lingkungan, seperti pengelolaan sampah dan air bersih. Proyeksi pemerintah mengharapkan pertumbuhan investasi hijau year-on-year mencapai double digit dalam beberapa tahun ke depan. Namun, keberhasilan kebijakan ini bergantung pada keseimbangan antara penegakan aturan dan pemberian insentif fiskal, seperti keringanan pajak atau subsidi teknologi ramah lingkungan.

"Biaya lingkungan bukan pengeluaran sia-sia. Ini bagian dari fondasi bisnis yang berkelanjutan dan daya saing jangka panjang," tegas Mohammad Jumhur Hidayat.

Bagi pembaca awam, istilah valuasi merujuk pada nilai pasar suatu perusahaan, sedangkan likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Dengan pemahaman ini, perdebatan soal biaya lingkungan bukan sekadar soal angka di neraca, tetapi menyangkut arah pembangunan ekonomi nasional ke depan. Pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan ini tidak menjadi sentimen negatif bagi pasar, melainkan memicu inovasi dan efisiensi di seluruh sektor industri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User