Oct 12, 2026
Bisnis

BI Siap Intervensi Agresif Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal II 2024, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai US$140,2 miliar, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. ...

BI Siap Intervensi Agresif Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Global

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal II 2024, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai US$140,2 miliar, setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini menjadi fondasi penting ketika bank sentral menyatakan kesiapan melakukan intervensi secara agresif guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa langkah tersebut bersifat pre-emptive alias mendahului potensi gejolak yang lebih besar.

Rupiah sepanjang tahun ini bergerak dalam rentang yang cukup lebar terhadap dolar Amerika Serikat. Pada awal 2024, kurs berada di kisaran Rp15.400 per dolar AS, lalu melemah ke level Rp16.200 pada April, sebelum kembali menguat ke sekitar Rp15.700 pada Juni. Pergerakan ini mencerminkan tingginya sentimen pasar global yang dipicu kebijakan suku bunga Federal Reserve, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta perlambatan ekonomi Tiongkok yang berdampak pada permintaan komoditas ekspor Indonesia.

Di Satu Sisi: Intervensi Agresif Sebagai Jaring Pengaman

Langkah intervensi yang disiapkan Bank Indonesia mencakup tiga instrumen utama. Pertama, intervensi di pasar spot valuta asing untuk meredam volatilitas harian. Kedua, operasi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna mengelola ekspektasi nilai tukar di masa depan. Ketiga, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas perbankan tetap longgar.

Dari perspektif fundamental, kebijakan ini memiliki landasan kuat. Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto masih berada di level 30,1 persen per akhir 2023, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata negara emerging market yang mencapai 50 persen. Inflasi inti juga terkendali di kisaran 2,5 persen year-on-year, berada dalam target sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen.

"Stabilitas nilai tukar adalah prasyarat bagi stabilitas makroekonomi secara keseluruhan. Tanpa itu, inflasi impor akan merambat ke harga domestik dan menggerus daya beli masyarakat," ujar seorang ekonom senior dari lembaga riset independen.

Cadangan devisa yang memadai juga memberi ruang fiskal bagi bank sentral untuk melakukan intervensi tanpa menguras portofolio valas secara berlebihan. Rasio kecukupan cadangan terhadap utang luar negeri jangka pendek berada di level 2,1 kali, jauh di atas standar internasional yang biasanya menetapkan batas minimal 1 kali.

Di Sisi Lain: Beban Biaya dan Risiko Moral Hazard

Namun, strategi intervensi yang terlalu agresif menyimpan risiko tersendiri. Setiap dolar yang dikeluarkan untuk menopang rupiah mengurangi cadangan devisa yang tersedia. Jika tekanan global berlanjut dalam jangka panjang, bank sentral bisa kehabisan amunisi kebijakan. Dalam sejarah, beberapa negara emerging market mengalami krisis nilai tukar justru karena intervensi yang tidak berkelanjutan.

Selain itu, intervensi yang terlalu sering dapat menciptakan apa yang disebut moral hazard di kalangan pelaku pasar. Importir dan investor asing mungkin mengasumsikan bahwa bank sentral akan selalu menyerap tekanan, sehingga mereka tidak melakukan lindung nilai (hedging) secara memadai. Akibatnya, ketika intervensi dihentikan, koreksi nilai tukar bisa terjadi secara mendadak dan lebih tajam.

Biaya fiskal juga perlu diperhitungkan. Pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas pada akhirnya menambah beban neraca bank sentral. Jika imbal hasil SBN naik di kemudian hari, potensi kerugian portofolio bisa menggerus modal Bank Indonesia. Meski secara akuntansi hal ini tidak langsung berdampak pada APBN, persepsi pasar terhadap kredibilitas kebijakan moneter tetap bisa terpengaruh.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Ke depan, arah rupiah sangat bergantung pada tiga faktor utama. Pertama, keputusan suku bunga Federal Reserve. Jika The Fed menurunkan suku bunga pada paruh kedua 2024, capital outflow dari negara berkembang diperkirakan mereda dan rupiah berpotensi menguat. Sebaliknya, jika inflasi AS tetap tinggi dan suku bunga bertahan lama, tekanan terhadap rupiah akan berlanjut.

Kedua, harga komoditas ekspor unggulan Indonesia seperti batu bara, minyak sawit mentah, dan nikel. Penurunan harga komoditas akan mengurangi pasokan valas dari ekspor, sehingga memperbesar defisit transaksi berjalan. Ketiga, stabilitas politik dan kebijakan fiskal domestik yang mempengaruhi persepsi investor terhadap risiko Indonesia.

Secara teknikal, level psikologis Rp16.000 per dolar AS menjadi garis pertahanan penting. Jika level ini tertembus secara berkelanjutan, Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan untuk menarik capital inflow. Saat ini, suku bunga acuan BI Rate berada di level 6,25 persen, memberikan spread yang cukup menarik dibandingkan suku bunga The Fed di kisaran 5,25-5,50 persen.

Dengan segala dinamika tersebut, langkah intervensi yang disiapkan Bank Indonesia pada dasarnya adalah pilihan rasional dalam kerangka menjaga stabilitas. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, komunikasi yang jelas kepada pasar, dan koordinasi dengan pemerintah di sisi fiskal. Tanpa itu, intervensi hanya akan menjadi tambalan sementara yang tidak menyelesaikan akar masalah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User