BI Rate Berpotensi Naik, Rupiah Diuji Hingga Akhir Tahun 2026
Berdasarkan data Bank Indonesia per pertengahan Agustus 2026, nilai tukar rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.400 per dolar Amerika Serikat, atau mengalami depresiasi sekitar 3,2 persen year-on-year...
Berdasarkan data Bank Indonesia per pertengahan Agustus 2026, nilai tukar rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.400 per dolar Amerika Serikat, atau mengalami depresiasi sekitar 3,2 persen year-on-year dibandingkan posisi yang sama tahun lalu. Pada saat yang bersamaan, suku bunga acuan BI Rate berada di level 5,00 persen setelah serangkaian pelonggaran moneter sepanjang 2025. Dua angka inilah yang menjadi latar dari satu pertanyaan yang kini ramai diperbincangkan pelaku pasar: apakah bank sentral akan membalik arah dan menaikkan suku bunga acuan sebelum 2026 berakhir?
Pertanyaan itu tidak muncul tanpa alasan. Tekanan eksternal kembali menguat sejak kuartal kedua, ditandai dengan indeks dolar yang mengalami kenaikan dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang bertahan tinggi. Kondisi ini memicu arus capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Sepanjang Juli hingga Agustus 2026, Bank Indonesia mencatat penjualan bersih asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai sekitar Rp18 triliun, angka yang berbanding terbalik dengan masuknya dana portofolio pada awal tahun.
Sinyal Pengetatan di Paruh Kedua
Beberapa indikator menunjukkan bahwa opsi kenaikan BI Rate mulai masuk dalam perhitungan. Pertama, laju inflasi inti yang mulai merangkak naik ke kisaran 3,0 persen year-on-year, mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen plus minus satu persen. Kedua, defisit transaksi berjalan (current account) diperkirakan melebar menjadi sekitar 2,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal ketiga, seiring kenaikan impor bahan baku industri. Ketiga, likuiditas valas domestik mengetat karena tekanan musiman pembayaran dividen dan utang luar negeri swasta pada semester kedua.
Dalam kerangka kebijakan, BI memegang tiga misi sekaligus: menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan. Ketika ketiganya berbenturan, prioritas biasanya jatuh pada stabilitas. Pengalaman 2024 membuktikan hal itu, ketika BI menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi 6,25 persen demi menahan rupiah yang tertekan sentimen pasar global. Pola serupa bisa terulang, meskipun dengan skala yang lebih kecil.
Dua Sisi Kenaikan BI Rate
Di satu sisi, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin, misalnya, dapat memperlebar selisih imbal hasil dengan suku bunga The Fed yang saat ini berada di kisaran 4,25 persen. Selisih atau spread yang lebar membuat aset rupiah semakin menarik bagi investor asing, menahan laju depresiasi, dan memberi ruang bagi cadangan devisa untuk tetap stabil di kisaran 140 miliar dolar AS. Bagi rumah tangga dan korporasi, biaya pinjaman yang lebih tinggi memang menjadi beban, tetapi pasar obligasi domestik justru menilai langkah ini sebagai komitmen bank sentral menjaga kredibilitas.
Di sisi lain, pengetatan moneter di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih tertahan di kisaran 4,9 persen berisiko mengorbankan momentum pemulihan. Sektor properti dan manufaktur yang sangat bergantung pada suku bunga kredit akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Beberapa ekonom justru berpendapat bahwa sumber tekanan rupiah saat ini lebih banyak berasal dari faktor eksternal ketimbang fundamental domestik, sehingga menaikkan suku bunga hanyalah obat yang mengobati gejala, bukan akar masalah. Rasio utang pemerintah yang masih sehat di sekitar 39 persen terhadap PDB dinilai memberi ruang fiskal untuk meredam guncangan tanpa harus mengandalkan pengetatan moneter.
Proyeksi Rupiah Hingga Akhir Tahun
Para analis yang disurvei pada awal Agustus memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.300 hingga Rp16.800 per dolar AS hingga Desember 2026, dengan rata-rata proyeksi di level Rp16.500. Skenario terburuk, di mana The Fed menunda pemangkasan suku bunga dan harga komoditas andalan ekspor merosot, dapat mendorong rupiah menembus level psikologis Rp16.900. Sebaliknya, jika data inflasi AS mendingin dan arus modal asing kembali masuk, rupiah berpeluang menguat menuju Rp16.200.
Yang menarik, valuasi rupiah saat ini dinilai masih wajar secara historis. Indeks nilai tukar efektif riil (REER) menunjukkan rupiah berada sedikit di bawah rata-rata lima tahun, artinya tekanan depresiasi belum menciptakan kondisi yang disebut undervalued ekstrem. Ini memberi ruang bagi BI untuk bersikap gradual, baik dalam penyesuaian suku bunga maupun intervensi pasar.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Setidaknya ada tiga variabel yang akan menentukan arah kebijakan BI pada rapat-rapat berikutnya hingga akhir tahun: data inflasi Oktober yang menjadi dasar penilaian tekanan harga, keputusan suku bunga The Fed pada September dan Desember, serta tren neraca perdagangan yang masih mencatat surplus tipis sekitar 1,5 miliar dolar AS per bulan. Jika ketiganya bergerak searah dengan tekanan eksternal, peluang kenaikan BI Rate menjadi semakin nyata.
Bagi pelaku pasar, sikap yang bijak adalah tidak menaruh semua ekspektasi pada satu skenario. Perbedaan pandangan antara kubu yang mendukung pengetatan dan kubu yang menginginkan status quo justru mencerminkan ketidakpastian yang sehat. Yang pasti, rupiah akan tetap menjadi barometer utama kesehatan ekonomi nasional hingga penutupan tahun, dan setiap keputusan Bank Indonesia akan diuji oleh dinamika global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Comments (0)