BCA Perkuat Gastronomi Labuan Bajo Lewat Pemberdayaan Desa

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperluas program tanggung jawab sosial perusahaan dengan menggandeng masyarakat di kawasan pariwisata super prioritas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Inisiatif terba...

Jul 12, 2026 - 07:43
0 0
BCA Perkuat Gastronomi Labuan Bajo Lewat Pemberdayaan Desa

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperluas program tanggung jawab sosial perusahaan dengan menggandeng masyarakat di kawasan pariwisata super prioritas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Inisiatif terbaru ini menyasar pengembangan sektor gastronomi sebagai motor penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Sebanyak sembilan pengelola desa binaan dari program Bakti BCA dikumpulkan untuk mengikuti rangkaian pendampingan intensif. Masing-masing desa didorong memetakan dan mengoptimalkan potensi unggulannya, dengan kuliner tradisional dan rantai pasok pangan lokal menjadi fokus utama. Langkah ini diharapkan mampu mengerek daya saing destinasi Labuan Bajo, tidak hanya dari keindahan alam, tetapi juga dari kekayaan cita rasa dan warisan budaya.

Menjadikan Kuliner Lokal sebagai Daya Pikat

Gastronomi di Labuan Bajo menyimpan peluang besar yang belum tergali sepenuhnya. Produk seperti kopi Manggarai robusta, madu hutan, ikan asap khas pesisir, hingga aneka olahan sorgum dan ubi ungu masih minim eksposur ke wisatawan. Padahal, data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa wisata belanja dan kuliner menyumbang lebih dari 30 persen total pengeluaran wisatawan mancanegara di Indonesia pada 2025. BCA melihat celah ini sebagai kesempatan emas untuk mendongkrak pendapatan masyarakat desa sekaligus memperkuat identitas destinasi.

Program ini tidak sekadar memberikan pelatihan memasak atau pengemasan. Para pengelola desa diajak untuk menyusun peta jalan gastronomi, mulai dari hulu—penguatan petani dan nelayan lokal—hingga hilir—promosi lewat platform digital dan kemitraan dengan restoran. Pendekatan rantai nilai ini diharapkan menciptakan ekosistem yang mandiri dan inklusif.

Dampak Berlipat pada Ekonomi Desa

Secara fundamental, pemberdayaan gastronomi bisa menjadi katup pelepas ketergantungan Labuan Bajo pada satu magnet wisata, yakni Taman Nasional Komodo. Ketika sektor kuliner menggeliat, setiap desa memiliki "cerita rasa" yang bisa dijual, menciptakan destinasi wisata minat khusus yang memperpanjang masa tinggal dan pengeluaran turis. Satu studi dari Asian Development Bank menyebutkan, setiap 1 dolar AS yang dibelanjakan di restoran berbasis pangan lokal mampu melipatgandakan dampak ekonomi hingga 2,5 dolar AS melalui efek pengganda ke pemasok bahan baku, tenaga kerja, dan logistik.

Di sisi lain, sentimen pasar terhadap saham BCA (BBCA) yang tergolong defensif juga bisa diuntungkan oleh persepsi positif publik atas kontribusi sosial yang terukur. Investor institusi kian memperhatikan aspek environmental, social, and governance (ESG) dalam valuasi portofolio, dan inisiatif di Labuan Bajo mempertebal komitmen BCA pada pilar sosial. Meski begitu, perlu dicermati apakah program ini mampu bertahan dan berkembang setelah momentum awal agar tidak sekadar menjadi proyek percontohan jangka pendek.

Kolaborasi yang Memperkuat Fondasi

Keterlibatan sembilan desa binaan Bakti BCA bukanlah gerakan sporadis. Program ini merupakan kelanjutan dari pendampingan yang sudah berjalan, mencakup literasi keuangan, digitalisasi UMKM, dan peningkatan kapasitas tata kelola desa. Kali ini, benang merahnya ditarik ke gastronomi karena potensi pasar yang konkret. Data BPS Kabupaten Manggarai Barat mencatat, sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 8,2 persen year-on-year pada kuartal I 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi daerah yang sebesar 5,6 persen. Ini menjadi sinyal kuat bahwa permintaan terhadap kuliner terus melaju.

Untuk memastikan keberlanjutan, BCA turut memfasilitasi akses permodalan bagi UMKM gastronomi dengan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit mikro berbunga rendah. Pendekatan ini memperkecil risiko capital outflow dari desa, sekaligus menjaga likuiditas tetap berputar di level akar rumput. Dengan begitu, kue ekonomi pariwisata tidak hanya dinikmati oleh pemodal besar, tetapi juga oleh ibu-ibu penjual sambal goreng di pasar tradisional atau nelayan penyuplai ikan segar ke homestay.

Program gastronomi Bakti BCA di Labuan Bajo mencerminkan pergeseran paradigma CSR korporasi dari sekadar filantropi menuju penciptaan nilai bersama (shared value). Bila dikelola dengan tata kelola yang akuntabel, proyek ini berpotensi menjadi model replikasi bagi destinasi super prioritas lainnya, seperti Mandalika, Danau Toba, atau Likupang. Tentu, proyeksi semacam ini masih akan diuji oleh konsistensi pendampingan dan adaptasi terhadap dinamika selera pasar wisatawan yang terus berubah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User