Sep 16, 2026
Nasional

Banten — Raja Willem III Abadikan Tragedi Krakatau Lewat Monumen Sejarah

Langit Selat Sunda pada akhir Agustus 1883 mendadak gelap gulita ketika Gunung Krakatau melontarkan material vulkanik setinggi puluhan kilometer ke angkasa

Banten — Raja Willem III Abadikan Tragedi Krakatau Lewat Monumen Sejarah

Langit Selat Sunda pada akhir Agustus 1883 mendadak gelap gulita ketika Gunung Krakatau melontarkan material vulkanik setinggi puluhan kilometer ke angkasa. Gelombang tsunami raksasa setinggi 40 meter menyapu pesisir Banten dan Lampung, menelan lebih dari 36.000 jiwa dalam hitungan jam. Di tengah kepulan abu dan kepanikan massal tersebut, Nusantara masih berada di bawah cengkeraman kekaisaran Hindia Belanda yang dipimpin oleh Raja Willem III. Bencana ini tidak hanya mengguncang atmosfer bumi secara global, tetapi juga memaksa pemerintahan di Den Haag merespons kehancuran total di wilayah jajahannya.

Jejak Kelam Bencana Dahsyat di Selat Sunda

Penelusuran tim investigasi Beritadua.com di sepanjang pesisir Anyer mengungkapkan betapa letusan Krakatau 1883 menyisakan trauma mendalam sekaligus artefak sejarah yang kokoh berdiri hingga hari ini. Ledakan dahsyat pada 27 Agustus 1883 itu tercatat memiliki kekuatan puluhan ribu kali lipat bom atom Hiroshima. Suara dentumannya yang membahana terdengar hingga ke wilayah Alice Springs di Australia dan Pulau Rodrigues di dekat Madagaskar.

Dampak bencana ini sangat dahsyat, melumpuhkan seluruh jalur navigasi maritim internasional di Selat Sunda. Infrastruktur vital kerajaan kolonial hancur berantakan, termasuk lampu suar awal yang didirikan pemerintah Belanda untuk memandu kapal-kapal dagang yang melintasi kawasan strategis tersebut.

Sosok Raja Willem III dan Respons Kerajaan Belanda

Pada masa terjadinya tragedi geologi terbesar dalam sejarah modern tersebut, Takhta Kerajaan Belanda dipegang oleh Raja Willem III (Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk), yang memerintah dari tahun 1849 hingga kematiannya pada 1890. Berita mengenai letusan dahsyat tersebut membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai ke Istana di Belanda karena kabel telegram bawah laut yang sempat terputus total akibat gempa bumi dan tsunami.

"Letusan Krakatau 1883 menguji sistem manajemen krisis Kerajaan Belanda. Raja Willem III mengesahkan alokasi dana rekonstruksi darurat untuk membangun kembali sarana navigasi Selat Sunda yang lumpuh total demi menyelamatkan jalur perdagangan," ujar Dr. Suparno, peneliti sejarah maritim Nusantara.

Pemerintah kolonial di Batavia di bawah instruksi Den Haag bergerak cepat untuk merancang fasilitas baru yang tahan terhadap cuaca ekstrem dan bencana. Salah satu simbol terbesar dari upaya rekonstruksi pasca-bencana tersebut adalah pembangunan kembali mercusuar ikonik di kawasan Anyer.

Mercusuar Cikoneng: Monumen Besi Saksi Bisu Krakatau

Di tepi pantai Anyer, berdiri megah sebuah mercusuar setinggi 75 meter yang konstruksinya terdiri dari pelat baja tebal. Monumen navigasi ini menggantikan mercusuar lama berbahan batu yang luluh lantak diterjang tsunami 1883. Di atas pintu masuk bangunan ini, terpahat prasasti berbahan perunggu yang menegaskan peran sang penguasa Belanda.

Prasasti tersebut mengonfirmasi bahwa pembangunan monumen suar ini selesai pada tahun 1885, persis dua tahun setelah petaka Krakatau. Ukiran kalimat Latin dan Belanda di dindingnya menegaskan bahwa bangunan tersebut didirikan di bawah kepemimpinan Raja Willem III sebagai panduan permanen bagi para pelaut yang melintasi Selat Sunda.

Parameter Sejarah Detail Peristiwa
Puncak Erupsi Krakatau 26–27 Agustus 1883
Penguasa Kerajaan Belanda Raja Willem III (1849–1890)
Monumen Peninggalan Mercusuar Cikoneng (Tinggi 75 Meter)
Tahun Pembangunan Kembali 1885 (2 Tahun Pasca-Bencana)

Warisan Sejarah dan Pembelajaran Mitigasi Modern

Monumen berupa mercusuar baja ini bukan sekadar alat bantu navigasi pelayaran masa lalu, melainkan pengingat abadi akan kekuatan alam yang maha dahsyat. Kehadiran fisik Mercusuar Cikoneng menjadi bukti otentik bagaimana administrasi Raja Willem III berupaya mengamankan kembali jalur maritim paling vital di Asia Tenggara pasca-bencana.

Hingga saat ini, bangunan bersejarah ini masih berdiri kokoh dan aktif memandu kapal-kapal yang melintas. Para peneliti geologi dan sejarah menegaskan bahwa keberadaan monumen ini menjadi pemicu penting untuk terus mempelajari karakter vulkanik Gunung Anak Krakatau guna memperkuat sistem mitigasi bencana di era modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User