JAKARTA — Pucuk pimpinan Bank Indonesia resmi beralih. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya, menyerahkan tampuk kendali otoritas moneter kepada Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas. Keputusan ini mengejutkan pasar karena terjadi di tengah masa jabatan yang belum berakhir, memicu spekulasi tentang arah kebijakan moneter ke depan.
Detik-Detik Peralihan Kekuasaan
Perry Warjiyo, yang menjabat sebagai Gubernur BI sejak 2018, disebut telah mengajukan pengunduran diri secara resmi. Langkah ini otomatis menempatkan Destry Damayanti, deputi gubernur senior, sebagai pelaksana tugas hingga penunjukan gubernur definitif oleh Presiden dan persetujuan DPR. Dalam konferensi pers singkat, BI menegaskan bahwa seluruh fungsi dan kewenangan tetap berjalan normal sesuai undang-undang.
Destry dikenal sebagai teknokrat kawakan yang memiliki rekam jejak panjang di BI, termasuk di sektor sistem pembayaran dan stabilitas keuangan. Penunjukan ini memberikan sinyal kontinuitas, meski pasar akan mencermati apakah ada perubahan stance pada suku bunga dan nilai tukar rupiah.
Warisan Perry Warjiyo: Bauran Kebijakan Tiga Pilar
Selama hampir delapan tahun memimpin, Perry Warjiyo menginisiasi konsep bauran kebijakan yang menggabungkan instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Di bawah komandonya, BI menahan gejolak pandemi COVID-19 dengan pelonggaran kuantitatif dan pembelian surat berharga negara langsung di pasar primer. Kebijakan "burden sharing" itu dianggap berhasil menjaga stabilitas pasar keuangan meski menuai kritik karena dikhawatirkan mengaburkan batas antara fiskal dan moneter.
Angka inflasi sepanjang 2023-2025 relatif terkendali di kisaran 2-4%, sementara cadangan devisa sempat menyentuh rekor di atas 150 miliar dolar AS. Di sisi lain, nilai tukar rupiah kerap tertekan oleh sentimen global dan capital outflow, terutama saat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi. Perry juga mendorong digitalisasi sistem pembayaran lewat QRIS dan integrasi dengan negara-negara ASEAN, yang meningkatkan efisiensi transaksi namun memunculkan tantangan baru terkait keamanan siber.
Profil Destry Damayanti: Siapa Sang Pengganti Sementara?
Destry Damayanti bukan wajah baru di Bank Indonesia. Ia memulai karier sebagai peneliti di BI pada era 1990-an, kemudian menduduki sejumlah posisi strategis termasuk Kepala Departemen Pengelolaan Moneter. Sebelum kembali ke BI pada 2019, ia sempat malang melintang di sektor perbankan komersial dan menjadi ekonom senior di lembaga internasional. Keahliannya di bidang moneter dan sistem pembayaran dianggap mampu menjaga transisi yang mulus.
Namun, tugas pertamanya tidak mudah. Dia harus segera menghadapi tekanan inflasi global yang kembali meningkat akibat ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok. Pekan depan, RDG (Rapat Dewan Gubernur) akan digelar dan pasar berekspektasi BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Destry perlu meyakinkan investor bahwa independensi dan kredibilitas BI tetap terjaga.
Reaksi Pasar dan Dua Sisi Koin
Di satu sisi, pengunduran diri Perry Warjiyo berpotensi memicu ketidakpastian jangka pendek. Rupiah sempat menyentuh level Rp16.200 per dolar AS dalam perdagangan pagi, melemah tipis 0,3% dibanding penutupan kemarin. Investor asing cenderung wait and see, khawatir terjadi perombakan kebijakan yang agresif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka turun 0,5%, meski berangsur pulih menjelang sesi siang. Pelaku pasar mengkhawatirkan potensi intervensi politik dalam penunjukan gubernur definitif nanti.
Di sisi lain, banyak analis menilai transisi ini bisa menjadi katalis positif. Destry dianggap sebagai sosok konservatif yang akan menjaga stabilitas moneter dan melanjutkan kebijakan anti-inflasi. Selain itu, mundurnya Perry bisa membuka ruang bagi penyegaran di tubuh BI, terutama dalam merespons era digital dan ancaman resesi global. "Pasar justru merespons tenang karena Destry adalah figur yang kredibel dan sudah dipahami investor," ujar seorang kepala ekonom dari lembaga riset terkemuka.
Teka-Teki Penyebab Mundur
Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi mengenai alasan mundurnya Perry. Sejumlah sumber menyebutkan faktor kesehatan sebagai pemicu, sementara kalangan politik menduga ada tekanan terkait dinamika hubungan BI dengan pemerintah menjelang masa transisi kepemimpinan nasional. Perry sendiri dikenal kerap berseberangan dengan sejumlah menteri dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), terutama soal besaran burden sharing.
Apapun penyebabnya, pasar menginginkan kepastian secepatnya. Presiden dijadwalkan mengirimkan nama calon gubernur BI ke DPR dalam 30 hari ke depan. Nama-nama seperti Aida Budiman, Kepala Departemen Internasional BI, dan Batista Harahap, mantan direktur BRI, mulai disebut-sebut sebagai kandidat. Namun, yang jelas, Destry Damayanti kini memegang kendali dan harus segera membuktikan kemampuannya menavigasi tantangan global yang semakin rumit.
Comments (0)