Bandara Husein Sastranegara Kembali Layani Jet: Dua Sisi Dampak Ekonominya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, ekonomi Jawa Barat tumbuh 4,92 persen secara year-on-year pada triwulan IV 2024, dengan sektor transportasi dan pergudangan menjadi sala...

Aug 08, 2026 - 14:36
0 0
Bandara Husein Sastranegara Kembali Layani Jet: Dua Sisi Dampak Ekonominya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, ekonomi Jawa Barat tumbuh 4,92 persen secara year-on-year pada triwulan IV 2024, dengan sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu penopang utama lewat pertumbuhan sekitar 9 persen. Di tengah tren pemulihan tersebut, PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mengantongi persetujuan Kementerian Perhubungan untuk kembali melayani penerbangan pesawat jet berbadan sedang atau narrow body di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, mulai 14 Agustus 2026. Pesawat narrow body seperti Boeing 737 dan Airbus A320 merupakan tulang punggung penerbangan domestik karena kapasitasnya sekitar 150 hingga 180 kursi. Keputusan ini mengakhiri masa transisi hampir tiga tahun setelah layanan jet komersial dialihkan ke Bandara Internasional Kertajati di Majalengka pada akhir 2023.

Konektivitas Udara sebagai Fundamental Ekonomi Regional

Sebelum pengalihan, Husein Sastranegara melayani sekitar 2,9 juta penumpang per tahun pada 2019, menjadikannya salah satu bandara tersibuk di luar Jakarta. Setelah seluruh penerbangan jet dipindahkan, trafik di bandara ini mengalami penurunan tajam karena hanya melayani penerbangan perintis dan pesawat baling-baling. Sementara itu, Kertajati yang berkapasitas 5,6 juta penumpang per tahun pada fase awal mencatat utilisasi jauh di bawah potensi, dengan pergerakan penumpang yang sempat berada di kisaran 1 juta hingga 1,5 juta per tahun. Bagi dunia usaha, konektivitas udara adalah fundamental yang menentukan biaya logistik, mobilitas tenaga kerja, dan daya tarik investasi. Jarak Kertajati yang sekitar 100 kilometer dari pusat Kota Bandung dengan waktu tempuh dua hingga tiga jam dinilai banyak kalangan menambah biaya perjalanan dan mengurangi efisiensi.

Di Satu Sisi: Efisiensi Waktu dan Dorongan bagi Pariwisata

Di satu sisi, kembalinya penerbangan jet ke jantung Kota Bandung berpotensi mengerek kinerja sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Industri MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), kuliner, dan perhotelan di Bandung sangat bergantung pada aksesibilitas udara yang cepat. Penghematan waktu tempuh dua hingga tiga jam per perjalanan setara dengan penurunan biaya transaksi ekonomi bagi pelaku bisnis. Efek pengganda atau multiplier effect dari setiap penumpang tambahan diperkirakan mengalir ke perhotelan, transportasi darat, dan ritel. Sentimen pasar terhadap emiten pengelola bandara dan maskapai juga berpotensi membaik, mengingat rasio okupansi penerbangan dari Bandung secara historis tergolong tinggi, di atas 75 persen pada masa normal.

Kembalinya jet narrow body ke Husein Sastranegara pada dasarnya adalah koreksi terhadap kesenjangan antara infrastruktur dan permintaan riil. Pasar penerbangan sangat sensitif terhadap waktu tempuh, dan Bandung adalah pasar yang terbukti likuid.

Pandangan tersebut mencerminkan analisis sejumlah pengamat penerbangan yang menilai keputusan ini bersifat pragmatis. Likuiditas pasar, dalam konteks ini, merujuk pada seberapa cepat kursi penerbangan terserap penumpang tanpa perlu subsidi atau insentif berlebih dari pemerintah.

Di Sisi Lain: Risiko Kanibalisasi dan Masa Depan Kertajati

Di sisi lain, kebijakan ini menyimpan risiko yang tidak kecil. Kekhawatiran utama adalah kanibalisasi trafik, yakni perpindahan penumpang dari Kertajati kembali ke Husein Sastranegara yang justru menekan utilisasi Kertajati lebih dalam. Investasi besar yang telah digelontorkan untuk pengembangan Kertajati, termasuk rencana perpanjangan landasan dan kawasan aerocity, berisiko mengalami perlambatan pengembalian modal. Dalam bahasa pasar modal, kondisi ini dapat memengaruhi valuasi aset dan proyeksi arus kas operator. Ada pula kekhawatiran capital outflow dari proyek-proyek pendukung di Majalengka apabila investor menilai pusat gravitasi penerbangan Jawa Barat bergeser kembali ke Bandung. Selain itu, Husein Sastranegara berbagi landasan dengan pangkalan udara militer, sehingga ketersediaan slot dan kapasitas apron menjadi kendala struktural yang membatasi pertumbuhan jangka panjang.

Proyeksi: Model Dua Bandara dan Ujian Bagi InJourney

Ke depan, skenario paling realistis adalah model dua bandara dengan pembagian peran yang jelas: Husein Sastranegara melayani rute domestik berfrekuensi tinggi, sementara Kertajati difokuskan pada penerbangan internasional, kargo, dan layanan berbiaya rendah. Proyeksi awal memperkirakan trafik Husein Sastranegara dapat kembali ke kisaran 1,5 juta hingga 2 juta penumpang dalam dua tahun pertama operasional jet, dengan asumsi maskapai mengalihkan sebagian portofolio rutenya secara bertahap. Bagi InJourney Airports, tantangannya adalah menjaga keseimbangan portofolio aset agar pendapatan aeronautik dan nonaeronautik di kedua bandara tetap sehat. Indeks kepuasan pengguna jasa dan ketepatan waktu penerbangan akan menjadi indikator yang diawasi ketat oleh regulator.

Pada akhirnya, keputusan ini mencerminkan upaya pemerintah menyeimbangkan efisiensi pasar dengan keberlanjutan investasi infrastruktur. Di satu sisi, pelaku usaha dan wisatawan memperoleh akses yang lebih cepat dan murah; di sisi lain, keberhasilan Kertajati tetap menentukan kredibilitas strategi pembangunan bandara baru di Indonesia. Pasar pada akhirnya akan menilai dari data trafik riil setelah 14 Agustus 2026, bukan dari rencana di atas kertas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User