Sep 26, 2026
Bisnis

Augusta de Wit dan Kuntilanak: Tak Takut, Malah Penasaran

Di tengah hamparan kebun tebu dan hutan jati di pedalaman Jawa pada tahun 1912, seorang perempuan Belanda bernama Augusta de Wit mencatat peristiwa yang kelak menjadi perbincangan hangat di kalangan k...

Augusta de Wit dan Kuntilanak: Tak Takut, Malah Penasaran

Di tengah hamparan kebun tebu dan hutan jati di pedalaman Jawa pada tahun 1912, seorang perempuan Belanda bernama Augusta de Wit mencatat peristiwa yang kelak menjadi perbincangan hangat di kalangan kolonial. Dalam memoarnya yang terbit beberapa tahun kemudian, ia mengisahkan perjumpaannya dengan sesosok makhluk yang diyakini penduduk setempat sebagai kuntilanak. Bukan rasa takut atau histeria yang menyelimuti dirinya, melainkan keingintahuan intelektual yang tajam.

Kisah ini terungkap kembali melalui dokumen-dokumen lama yang ditemukan di sebuah arsip di Leiden, Belanda, dan menjadi sorotan karena reaksi De Wit yang jauh dari ekspektasi kebanyakan orang. Bagaimana mungkin seorang asing yang tumbuh di lingkungan rasional bisa begitu tenang menghadapi salah satu hantu paling ditakuti di Nusantara?

Pertemuan di Bawah Pohon Beringin

Menurut catatan De Wit, kejadian itu berlangsung di sebuah malam bulan purnama ketika ia dalam perjalanan meneliti flora lokal. Ia singgah di desa kecil dekat Magelang, dan sekitar pukul 10 malam, ia terbangun oleh suara tangisan yang menusuk. Awalnya, ia mengira itu adalah tangis bayi, namun suara itu berubah menjadi tawa melengking yang terdengar seperti jeritan burung malam. Penduduk desa yang bersamanya langsung menunduk dan membaca doa, tetapi De Wit justru mengambil lentera minyaknya dan berjalan menuju sumber suara.

'Sosok itu muncul dari balik pohon beringin tua,' tulisnya dalam bahasa Belanda yang indah. 'Ia mengenakan kain putih panjang, rambutnya hitam pekat menjuntai hingga ke tanah, tetapi yang paling aneh adalah matanya — kosong namun bersinar.' De Wit mendeskripsikan makhluk itu dengan detail yang hampir saintifik, mencatat posisinya, jarak pandang, dan bahkan mengira-ngira tinggi badannya. Ia bahkan sempat membandingkannya dengan spesimen yang pernah ia lihat di museum anatomi di Amsterdam.

Mitos Kuntilanak dan Ketakutan Kolektif

Kuntilanak telah menjadi bagian dari folklor Nusantara selama berabad-abad. Dalam kepercayaan Jawa dan Melayu, ia adalah arwah perempuan yang meninggal saat melahirkan atau sebelum sempat melahirkan. Konon, kehadirannya selalu ditandai dengan bau harum yang menyengat, diikuti suara tawa yang semakin keras kemudian menghilang. Banyak orang yang mengaku mendengar suara itu mengalami ketakutan luar biasa hingga tak berani keluar rumah setelah maghrib. Sebuah survei informal pada dekade 1920-an di kalangan pekerja perkebunan di Jawa mencatat bahwa lebih dari 70 persen responden mengaku pernah mendengar atau melihat gejala-gejala serupa.

Reaksi gemetar dan lari tunggang-langgang adalah yang paling umum dalam folklor kuntilanak. Bahkan, banyak cerita rakyat yang menekankan bahwa kontak langsung dengan makhluk ini bisa menyebabkan penyakit atau kematian. Maka dari itu, ketenangan De Wit menjadi anomali yang mencolok.

Skeptisisme Seorang Peneliti

Augusta de Wit bukanlah sekadar pengunjung biasa. Lahir pada tahun 1864 di Sliedrecht, ia dikenal sebagai penulis dan naturalis amatir yang memiliki minat besar pada budaya Asia Tenggara. Sebelum ke Jawa, ia telah menulis beberapa esai tentang seni dan arsitektur kolonial. Pendekatannya terhadap fenomena apa pun selalu diwarnai oleh skeptisisme dan metode observasi. Dalam memoarnya, ia mempertanyakan, 'Apakah yang saya lihat adalah manifestasi dari kepercayaan kolektif, atau hanya ilusi yang dihasilkan oleh cahaya bulan di antara dedaunan?'

Ia juga mencatat bahwa setelah beberapa menit, sosok itu perlahan-lahan memudar ketika ia mendekat. 'Saya tidak merasakan hawa dingin atau rasa takut. Justru, saya merasa seperti sedang menyaksikan eksperimen alam yang gagal diselesaikan,' tulisnya. De Wit kemudian kembali ke rumah singgah dan menulis catatan dengan tenang, sementara penduduk desa masih gemetar dan meyakini bahwa ia telah 'dijamah' oleh kekuatan gaib.

Warisan Kisah yang Melampaui Zaman

Dampak dari perjumpaan ini tidak langsung memudar. Di kalangan priyayi dan cendekiawan Belanda, kisah De Wit memicu debat kecil tentang persepsi hantu dan batas antara sains dan supranatural. Sebagian menganggap laporannya sebagai contoh keberanian berpikir; yang lain mengecamnya sebagai kebodohan seorang perempuan yang tidak mengerti bahaya budaya lokal. Namun, catatan De Wit tetap bertahan sebagai salah satu dari sedikit dokumentasi perspektif Barat terhadap mitologi Nusantara pada masa kolonial.

Kini, di era modern, kisah ini menjadi pengingat bahwa interaksi antarbudaya seringkali menghasilkan benturan, tetapi juga saling memperkaya. Kuntilanak tetap hidup dalam cerita-cerita urban dan film horor Indonesia, sementara teks-teks De Wit mungkin menginspirasi kita untuk bertanya: seberapa banyak dari apa yang kita lihat dibentuk oleh apa yang kita percayai? Dan, seperti yang ditunjukkan oleh seorang Augusta de Wit, kadang-kadang pendekatan paling rasional bisa menjadi jawaban atas misteri paling gelap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User