Atlanta — Dua Gol Harry Kane Bawa Inggris Comeback Lawan Kongo
Aroma tensi langsung menusuk sejak peluit babak pertama dibunyikan di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Rabu (01/07/2026) malam itu, ribuan pendukung Inggris
Aroma tensi langsung menusuk sejak peluit babak pertama dibunyikan di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta. Rabu (01/07/2026) malam itu, ribuan pendukung Inggris yang memenuhi sudut stadion harus menahan napas. Mimpi buruk datang lebih dulu—bukan dari skema serangan balik cepat, melainkan dari eksekusi klinis pemain Kongo, Brian Cipenga. Gol cepat itu seolah menampar ekspektasi puas yang menyelimuti kubu The Three Lions. Namun, di atas lapangan, seorang kapten berusia 32 tahun tengah menulis ulang takdir dengan kaki kanannya. Dua gol Harry Kane dalam rentang 12 menit bukan sekadar membalikkan skor; ia menegaskan bahwa luka adalah bahan bakar bagi legenda.
Gol Cipenga dan Luka di Separuh Babak
Menit ke-11, umpan terobosan gelandang Kongo, Samuel Moutoussamy, memotong garis pertahanan John Stones. Brian Cipenga—striker 24 tahun kelahiran Kinshasa yang merumput di Ligue 1—melepaskan tembakan melewati celah sempit di kaki Jordan Pickford. Gol itu tercatat sebagai gol internasional ke-9 Cipenga, sekaligus gol tercepat Kongo di Piala Dunia 2026. Stadion seketika bergemuruh oleh ribuan pendukung Kongo yang melompat serempak. Dari bangku cadangan, manajer Inggris menatap lapangan dengan rahang mengeras. Keheningan mencekam menyelimuti tribun Inggris. Bendera St. George yang semula berkibar riang, kini melambai ragu di tangan para suporter.
Kane, Sang Arsitek Kebangkitan
Inggris merespons dengan tekanan tinggi, tetapi hingga menit ke-30, tembok pertahanan 4-4-2 Kongo sulit ditembus. Hingga akhirnya, tendangan sudut Declan Rice di menit ke-31 melengkung sempurna ke tiang jauh. Harry Kane, yang dijaga ketat oleh kapten Kongo Chancel Mbemba, melesat tanpa bisa dihentikan. Sundulan kepalanya meluncur deras ke sudut bawah gawang. Skor 1-1. Belum reda selebrasi, Kane kembali mencatatkan namanya di papan skor. Menit ke-43, memanfaatkan kemelut di kotak penalti, Kane menyambar bola muntah dengan kaki kanan—membawa Inggris unggul 2-1 tepat sebelum jeda. Itu menjadi gol ke-71 Kane dalam 101 penampilan internasional, mengukuhkan posisinya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas Inggris.
"Kami tahu ini tidak akan mudah. Kongo tim yang disiplin secara taktik. Gol mereka membuat kami tersadar—kami tidak boleh lengah semenit pun. Tapi kami punya mentalitas untuk bangkit. Itu karakter yang sudah kami bangun selama bertahun-tahun," ujar Kane usai laga.
Kongo Patah, Inggris Melaju
Di babak kedua, Kongo mencoba keluar menyerang, tetapi energi mereka perlahan luntur. Moutoussamy dan Cipenga masih menyisakan ancaman lewat serangan balik, tetapi Pickford tampil solid dengan dua penyelamatan penting. Inggris lebih banyak menguasai bola dan nyaris menambah gol lewat Jude Bellingham yang membentur mistar di menit ke-67. Skor 2-1 bertahan hingga akhir, memastikan tiket babak 16 besar bagi anak asuh manajer yang tetap merahasiakan nama penerus Gareth Southgate itu. Kemenangan ini tidak sempurna, tetapi cukup untuk menjaga asa.
Pro: Inggris menunjukkan mentalitas comeback yang kerap diragukan di turnamen besar. Dua gol Kane membuktikan ketajaman sang kapten masih menjadi senjata utama. Kemenangan ini juga memupus trauma babak awal Piala Dunia sebelumnya.
Kontra: Lini pertahanan kembali kebobolan lebih dulu—pola yang berbahaya jika terulang melawan lawan yang lebih klinis. Transisi kehilangan bola di lini tengah juga masih menjadi celah yang bisa dieksploitasi.
Comments (0)