Asing Borong Saham Energi di Tengah Tekanan Net Sell Pasar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia per akhir Januari 2025, investor asing mencatatkan aksi beli bersih atau net buy di sektor energi dan petrokimia senilai Rp1,35 triliun d...

Aug 07, 2026 - 20:00
0 0
Asing Borong Saham Energi di Tengah Tekanan Net Sell Pasar

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bank Indonesia per akhir Januari 2025, investor asing mencatatkan aksi beli bersih atau net buy di sektor energi dan petrokimia senilai Rp1,35 triliun dalam sepekan terakhir. Angka ini menonjol karena pada periode yang sama pasar saham domestik secara keseluruhan justru mengalami tekanan jual bersih (net sell) sekitar Rp2,1 triliun. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di kisaran 7.100–7.250, mengalami penurunan sekitar 2,4 persen year-on-year dibandingkan posisi Januari 2024. Kondisi ini mengindikasikan adanya rotasi portofolio, yakni perpindahan dana investor dari satu sektor ke sektor lain yang dianggap lebih prospektif.

Mengapa Sektor Energi Menarik bagi Asing?

Di satu sisi, fundamental sektor energi sedang ditopang oleh sejumlah faktor. Harga minyak mentah dunia acuan Brent bertahan di kisaran US$78–82 per barel, mengalami kenaikan sekitar 6 persen dibandingkan rata-rata kuartal IV-2024. Kenaikan harga komoditas ini berpotensi memperbaiki kinerja pendapatan emiten energi. Selain itu, valuasi saham energi di pasar domestik tergolong menarik: rasio price to earnings (PER) sektor ini berada di level 8–10 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata IHSG yang berada di kisaran 14 kali. Rasio PER adalah perbandingan harga saham terhadap laba per saham; semakin rendah rasionya, semakin murah valuasi suatu saham secara relatif. Likuiditas saham-saham energi berkapitalisasi besar juga memadai bagi investor institusi asing yang mengelola dana dalam jumlah besar, sehingga memudahkan mereka masuk dan keluar pasar tanpa menggerakkan harga secara berlebihan.

"Rotasi asing ke sektor energi mencerminkan strategi defensif sekaligus oportunistik. Investor mencari sektor dengan arus kas kuat dan valuasi terdiskon ketika pasar secara umum sedang bergejolak," ujar seorang ekonom pasar modal dari bank investasi domestik.

Di Sisi Lain, Risiko Tetap Membayangi

Di sisi lain, aksi beli asing di satu sektor tidak otomatis menandakan pemulihan sentimen pasar secara menyeluruh. Data menunjukkan capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik — masih terjadi di sektor perbankan, konsumer, dan infrastruktur. Tekanan jual ini dipicu oleh ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang lebih tinggi untuk waktu lebih lama (higher for longer), yang membuat imbal hasil obligasi AS tetap menarik bagi dana global. Nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.200–Rp16.400 per dolar AS juga menjadi variabel yang diawasi ketat, karena depresiasi rupiah dapat menggerus keuntungan investor asing ketika dana dikonversi kembali ke mata uang asal.

Selain itu, tren kenaikan harga komoditas bersifat siklikal dan rentan berbalik arah. Jika harga minyak turun di bawah US$70 per barel, misalnya karena perlambatan permintaan dari Tiongkok, proyeksi kinerja emiten energi dapat direvisi turun. Ketergantungan portofolio pada satu sektor juga meningkatkan risiko konsentrasi, terutama bila sentimen global berubah cepat.

Proyeksi dan Faktor yang Perlu Dicermati

Ke depan, beberapa indikator akan menentukan keberlanjutan tren ini. Pertama, arah kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang memengaruhi arus dana global ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kedua, rilis kinerja keuangan emiten energi untuk tahun buku 2024 yang akan mengonfirmasi apakah fundamental benar-benar mendukung valuasi saat ini. Ketiga, kebijakan domestik terkait subsidi energi dan transisi energi hijau yang dapat mengubah lanskap bisnis sektor ini dalam jangka menengah.

Bagi pelaku pasar, pergerakan asing kerap dijadikan salah satu indikator sentimen pasar, meski bukan satu-satunya acuan. Analis menilai keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada analisis fundamental masing-masing emiten, profil risiko, dan horizon investasi setiap investor, bukan semata mengikuti arus dana asing yang dapat berubah arah dalam hitungan hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User