Oct 02, 2026
Bisnis

Arus Asing Berpindah di Tengah Koreksi IHSG

Berdasarkan data Bank Indonesia dan OJK per 25 September 2025, kondisi pasar modal domestik menunjukkan adanya tekanan koreksi, ditandai dengan pergerakan indeks yang cenderung melemah. Pada penutupan...

Arus Asing Berpindah di Tengah Koreksi IHSG

Berdasarkan data Bank Indonesia dan OJK per 25 September 2025, kondisi pasar modal domestik menunjukkan adanya tekanan koreksi, ditandai dengan pergerakan indeks yang cenderung melemah. Pada penutupan perdagangan hari tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 0,43%, sehingga berada pada level 6.121,70. Angka ini menunjukan adanya pelemahan indeks apabila dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya, di tengah aktivitas perdagangan yang tergolong sepi dengan nilai transaksi hanya sebesar Rp13,24 triliun.

Secara umum, nilai transaksi tersebut berada dibawah rata - rata harian tahun berjalan yang berkisar di kisaran Rp15 triliun hingga Rp16 triliun. Kondisi ini mengindikasikan menurunnya likuiditas (kemampuan pasar untuk melakukan jual beli saham secara cepat tanpa mengubah harga secara drastis) di pasar modal Indonesia. Rendahnya likuiditas kerap kali menjadi salah satu pemicu meningkatnya volatilitas, khususnya ketika sentimen pasar sedang dalam tekanan dari faktor eksternal maupun internal.

Perbedaan Arah Arus Modal Asing

Di tengah koreksi yang terjadi pada IHSG, arus modal asing justru menunjukan pergerakan yang terfragmentasi. Secara agregat, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp777,18 miliar pada hari perdagangan tersebut. Namun, dibalik angka penjualan bersih secara keseluruhan, terdapat fenomena pembelian yang terarah terhadap sejumlah saham tertentu. Hal ini menunjukan adanya perpindahan alokasi dana, alih-alih aksi keluar modal secara menyeluruh atau capital outflow yang masif.

Di satu sisi, aksi penjualan bersih ini dapat dimaknai sebagai respons investor asing terhadap sentimen pasar yang sedang berhati - hati. Tekanan global, proyeksi suku bunga, hingga kekhawatiran terhadap valuasi (perbandingan harga saham terhadap kinerja fundamental perusahaan) dapat mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap portofolio (kumpulan aset investasi) mereka di pasar negara berkembang. Di sisi lain, pembelian terarah terhadap beberapa saham menunjukan bahwa investor asing masih menilai terdapat fundamental yang cukup kuat untuk mempertahankan atau menambah kepemilikan, meski indeks secara keseluruhan sedang mengalami penurunan.

Faktor Fundamental dan Tren Makro yang Mempengaruhi

Melihat tren jangka menengah, pergerakan IHSG masih perlu dikaitkan terhadap indikator makro Indonesia. Berdasarkan perbandingan year-on-year, beberapa indikator ekonomi masih menunjukan ketahanan. Rasio inflasi (tingkat kenaikan harga barang dan jasa) masih terjaga relatif stabil, disertai dengan cadangan devisa yang cukup untuk menjaga stabilitas eksternal. Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih berada pada level yang terkelola apabila dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya.

Namun, tekanan tidak dapat diabaikan. Kenaikan suku bunga acuan di sejumlah negara maju dalam beberapa periode terakhir turut mempengaruhi aliran modal global. Kondisi ini kerap kali mendorong pergeseran dana dari pasar negara berkembang menuju instrumen dengan imbal hasil yang dianggap lebih menarik, sehingga berpotensi menekan likuiditas domestik. Hal ini menjadi salah satu faktor yang turut memperkuat sentimen pasar yang berhati - hati, khususnya terhadap saham - saham yang memiliki tingkat ketergantungan terhadap pembiayaan luar negeri ataupun yang memiliki valuasi yang telah tinggi.

"Dalam kondisi normalisasi kebijakan moneter global, arus modal tidak selalu bergerak secara seragam. Investor cenderung melakukan seleksi yang lebih ketat berdasarkan fundamental, bukan hanya berdasarkan pergerakan indeks secara keseluruhan."

Implikasi Terhadap Dinamika Pasar Ke Depan

Di satu sisi, fenomena pembelian terarah di tengah penjualan bersih dapat menjadi sinyal bahwa daya tarik fundamental emiten (perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa) Indonesia masih diakui oleh investor asing. Hal ini dapat membantu meredam tekanan capital outflow secara menyeluruh, serta menjaga stabilitas pasar apabila sentimen global mulai membaik. Selain itu, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik yang masih berada pada kisaran positif, beberapa sektor berpotensi tetap menarik bagi alokasi jangka menengah.

Di sisi lain, rendahnya nilai transaksi harian yang hanya sebesar Rp13,24 triliun serta koreksi indeks sebesar 0,43% menjadi peringatan akan masih lemahnya kepercayaan pasar dalam jangka pendek. Apabila likuiditas tidak kembali meningkat, maka setiap tekanan baru berpotensi memperbesar volatilitas, meski tidak serta merta mengubah tren fundamental secara keseluruhan. Oleh karena itu, dinamika perpindahan arus asing ini perlu terus dicermati, mengingat pergeseran alokasi portofolio kerap kali menjadi indikator awal terhadap arah pasar ke depannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User