Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengakui bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah telah memberikan tekanan ke atas pada harga daging ayam dan telur di tingkat konsumen. Pernyataan ini disampaikan menyusul berakhirnya masa libur sekolah, di mana program tersebut kembali berjalan normal dan menciptakan lonjakan permintaan yang signifikan.
Dinamika Permintaan Pascasekolah
Program MBG yang menjangkau puluhan juta pelajar di seluruh Indonesia mengharuskan ketersediaan pasokan protein hewani dalam jumlah besar setiap hari. Ketika aktivitas sekolah dimulai kembali setelah liburan panjang, dapur-dapur penyedia MBG serta jaringan pemasoknya kembali menyerap ayam dan telur secara masif. Amran mengungkapkan bahwa peningkatan serapan ini mencapai 15 hingga 18 persen dari total konsumsi nasional, yang secara langsung mendorong pergerakan harga.
Data pasar menunjukkan bahwa harga ayam broiler di tingkat pedagang eceran naik dari sekitar Rp34.000 per kilogram sebelum libur menjadi Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram pada pekan pertama pascasekolah. Sementara itu, harga telur ayam ras melonjak dari Rp28.000 menjadi Rp31.000 per kilogram, atau naik sekitar 10,7 persen.
“Adanya program MBG memang menciptakan permintaan tambahan yang tidak kecil. Setelah libur, serapannya langsung tinggi. Ini membuat pasokan di pasar menjadi lebih ketat dan harga pun terkerek,” ujar Amran dalam sebuah kesempatan.
Intervensi Pemerintah dan Kebijakan HPP
Meskipun mengakui dampak program MBG terhadap harga, Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Salah satu instrumen yang digunakan adalah kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk komoditas perunggasan. HPP ini berfungsi sebagai jaring pengaman jika harga di tingkat peternak anjlok.
“Kami pastikan harga di peternak tidak boleh jatuh di bawah HPP. Saat ini HPP ayam hidup berada di kisaran Rp19.000–Rp21.000 per kilogram, dan untuk telur di tingkat peternak sekitar Rp22.000–Rp23.000 per kilogram. Jadi, apabila ada penurunan harga akibat produksi berlebih, pemerintah melalui Bulog atau BUMN pangan akan melakukan penyerapan,” jelas Amran.
Kebijakan ini, menurutnya, menciptakan keseimbangan ganda: di satu sisi peternak terlindungi dari kerugian, di sisi lain konsumen tetap mendapatkan pasokan dengan harga yang tidak jatuh terlalu rendah hingga mengancam keberlangsungan usaha peternakan. Pemerintah juga mengaku tengah memperkuat sistem logistik dan rantai dingin untuk mengurangi disparitas harga antarwilayah.
Dampak dan Proyeksi ke Depan
Kenaikan harga ayam dan telur ini mendapat beragam respons. Bagi peternak, kondisi ini menjadi berkah karena margin keuntungan melebar, terutama setelah mereka mengeluhkan harga jual yang rendah selama masa libur. Namun, bagi konsumen rumah tangga, lonjakan harga protein hewani dapat memicu kenaikan biaya hidup.
Sejumlah pengamat menilai bahwa program MBG merupakan “game changer” bagi industri perunggasan nasional. Dengan serapan yang terprogram dan konsisten, ketergantungan pada fluktuasi pasar tradisional dapat berkurang. Namun, tantangan muncul jika terjadi gangguan pasokan, seperti wabah penyakit unggas atau kenaikan harga pakan, yang dapat memicu inflasi lebih tinggi.
Amran memproyeksikan bahwa tren harga akan stabil dalam beberapa pekan ke depan seiring dengan meningkatnya produksi peternak yang telah menyesuaikan kapasitas untuk memenuhi permintaan MBG. “Kami telah berkoordinasi dengan asosiasi peternak untuk meningkatkan produksi secara bertahap. Dengan begitu, ketika permintaan MBG terus berjalan, harga dapat kembali ke titik keseimbangan baru yang menguntungkan semua pihak,” pungkasnya.
Dengan strategi ini, pemerintah berharap program MBG tidak hanya meningkatkan gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi peternakan rakyat yang berkelanjutan.
Comments (0)