Aksi Hijau BRI Peduli: Tanam 24.000 Mangrove di Pesisir Karawang
KARAWANG – Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia, BRI Peduli menggelar aksi penanaman 24.000 pohon mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Program ini tidak sekadar ser...
KARAWANG – Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia, BRI Peduli menggelar aksi penanaman 24.000 pohon mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Program ini tidak sekadar seremoni lingkungan, tetapi juga dirancang untuk menciptakan dampak ekonomi bergulir bagi masyarakat setempat, dengan melibatkan secara langsung kelompok tani dan nelayan sebagai pelaku utama di lapangan. Langkah ini menegaskan komitmen korporasi dalam memadukan konservasi ekosistem pesisir dengan pemberdayaan sosial-ekonomi warga.
Momentum Hari Mangrove Sedunia dan Kebutuhan Restorasi Pesisir
Setiap tanggal 26 Juli, dunia memusatkan perhatian pada keberadaan ekosistem mangrove yang kian terancam. Data global menunjukkan lebih dari 35% hutan mangrove telah hilang dalam dua dekade terakhir akibat alih fungsi lahan, pembangunan pesisir, dan perubahan iklim. Indonesia sebagai pemilik 23% mangrove dunia—sekitar 3,3 juta hektare—menghadapi tanggung jawab besar untuk menjaga sabuk hijau ini. Di Karawang sendiri, abrasi pantai telah menggerus ratusan meter daratan dalam satu dasawarsa terakhir, mengancam permukiman, tambak, dan infrastruktur publik.
BRI Peduli memanfaatkan momentum Hari Mangrove Sedunia untuk mengajak masyarakat memahami bahwa mangrove bukan sekadar tanaman, melainkan aset lingkungan hidup yang bernilai ekonomi tinggi. Penanaman 24.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Avicennia marina dilakukan di pantai yang telah mengalami degradasi parah. Kedua spesies ini dipilih karena adaptif terhadap lumpur, salinitas tinggi, dan ombak, serta mampu membentuk perakaran kuat untuk menahan abrasi dalam waktu relatif singkat.
Masyarakat Lokal sebagai Pilar Utama: Petani Tambak dan Nelayan Dilatih dan Dilunasi
Keistimewaan program ini terletak pada pendekatan partisipatifnya. BRI Peduli tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng tiga kelompok tani dan dua kelompok nelayan di Desa Sedari, Kecamatan Cibuaya. Mereka sebelumnya telah menerima pelatihan budidaya mangrove, teknik pembibitan, serta pemeliharaan pascatanam. Setiap anggota kelompok diberi insentif atas perawatan bibit yang mereka tanam, sehingga konservasi hutan berubah menjadi sumber pendapatan sampingan yang stabil.
“Kami tidak hanya tanam dan pergi. Ada skema insentif yang mengikat warga untuk merawat mangrove sampai tumbuh kuat. Ini bagian dari ekonomi restorasi,” ujar Adi Pratama, salah satu pendamping program lapangan dari BRI Peduli. Petani tambak, yang umumnya bergantung pada budidaya ikan bandeng dan udang, akan merasakan manfaat langsung karena ekosistem mangrove yang sehat meningkatkan kualitas air dan menyediakan habitat alami bagi biota laut—yang pada gilirannya menaikkan produktivitas tambak secara alami.
Seorang nelayan setempat, Karman (47), mengungkapkan harapannya. “Dulu tangkapan terus menurun karena muara kotor dan banyak lumpur. Kalau mangrove tumbuh, kami yakin ikan dan kepiting akan kembali. Apalagi kami juga ikut jaga hutannya, ada pemasukan tambahan.” Pernyataan ini mencerminkan perubahan pola pikir dari eksploitasi menjadi pengelolaan bersama yang berkelanjutan.
Dampak Lingkungan dan Proyeksi Karbon Biru
Dari sisi ekologi, 24.000 pohon mangrove yang ditanam berpotensi menciptakan kawasan hijau baru seluas kurang lebih 6–8 hektare saat dewasa. Mangrove dikenal sebagai penyerap karbon paling efisien—setiap hektare mampu menyimpan empat hingga lima kali lebih banyak karbon dibanding hutan tropis daratan. Dengan demikian, program ini berkontribusi pada target penurunan emisi karbon nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam skema perdagangan karbon global melalui mekanisme blue carbon.
Selain itu, mangrove berfungsi sebagai benteng alami terhadap gelombang pasang dan tsunami skala kecil. Riset dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI (kini BRIN) menunjukkan bahwa sabuk mangrove selebar 200 meter dapat meredam energi gelombang hingga 75%. Karawang yang terletak di pesisir utara Jawa dengan paparan langsung dari Laut Jawa sangat memerlukan perlindungan semacam ini mengingat frekuensi rob yang kian meningkat akibat penurunan muka tanah.
Komitmen Berkelanjutan dan Sinergi Multi-Pihak
Aksi di Karawang bukan inisiatif pertama BRI Peduli di ranah konservasi. Sepanjang tahun berjalan, program tanggung jawab sosial perusahaan ini telah menanam lebih dari 67.000 pohon di berbagai wilayah pesisir dan daerah aliran sungai, mulai dari Demak, Cilacap, hingga Kalimantan Selatan. Seluruh program dijalankan dengan mitra strategis seperti Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), pemerintah daerah, serta lembaga swadaya masyarakat yang ahli di bidang restorasi ekosistem.
Pendekatan sinergi ini dinilai ampuh karena memadukan pendanaan swasta dengan keahlian teknis dan kearifan lokal. Fitriani Dewi, pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, menilai model kolaborasi semacam ini perlu diperluas. “Jika setiap korporasi yang beroperasi di pesisir mengadopsi skema serupa, laju deforestasi mangrove bisa ditekan drastis. Kuncinya bukan jumlah bibit yang ditanam, melainkan tingkat kelangsungan hidup bibit itu sendiri. Di sinilah peran masyarakat menjadi krusial.”
BRI Peduli juga mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu, seperti pengolahan buah mangrove menjadi sirup, dodol, atau pewarna batik. Dengan begitu, ekosistem mangrove tidak hanya dilindungi karena alasan lingkungan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal berbasis produk hijau. Rencana ke depan, akan dibangun pusat pelatihan kecil di desa binaan untuk memperkuat kapasitas warga dalam mengelola sumber daya pesisir secara mandiri.
Penanaman 24.000 mangrove di Karawang menjadi simbol bahwa restorasi ekosistem bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, keterlibatan semua pihak—dari korporasi, pemerintah, akademisi, hingga warga—menjadi kunci untuk menciptakan masa depan pesisir yang tangguh dan berkelanjutan.
Comments (0)