Airlangga Sebut VOC Perusahaan Tercatat Pertama di Bursa Dunia
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir 2025, jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus 950 emiten dengan total kapi...
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir 2025, jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menembus 950 emiten dengan total kapitalisasi pasar di kisaran Rp 13.000 triliun, sementara jumlah investor pasar modal melampaui 15 juta Single Investor ID. Meski tren pertumbuhan solid, rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih berkisar 45-50 persen, tertinggal dari Malaysia dan Singapura yang telah melampaui 90 persen. Di tengah upaya pendalaman pasar modal domestik, pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai akar sejarah pasar modal dunia menjadi relevan untuk dicermati.
Airlangga menyebut Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai perusahaan tercatat pertama di dunia. Pernyataan ini merujuk pada peristiwa tahun 1602, ketika kongsi dagang Belanda tersebut resmi melantai di Bursa Efek Amsterdam, yang sekaligus diakui sebagai bursa saham tertua di dunia.
VOC merupakan perusahaan tercatat pertama di dunia, ujar Airlangga Hartarto.
Jejak 1602: Ketika Saham Pertama Kali Diperdagangkan
Secara historis, penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) VOC pada 1602 berhasil menghimpun dana sekitar 6,4 juta gulden dari lebih dari 1.100 investor. Mekanisme ini menjadi cikal bakal pasar modal modern: masyarakat umum dapat memiliki sebagian kepemilikan perusahaan, lalu memperjualbelikannya di pasar sekunder. Dalam terminologi sederhana, saham adalah bukti kepemilikan atas perusahaan, sedangkan bursa efek merupakan tempat resmi memperjualbelikan bukti kepemilikan tersebut.
Sejumlah studi ekonomi memperkirakan valuasi VOC pada puncak kejayaannya mencapai sekitar 78 juta gulden, yang jika disesuaikan dengan inflasi setara lebih dari USD 7 triliun dalam nilai saat ini, melampaui kapitalisasi pasar perusahaan teknologi raksasa masa kini. Sepanjang hampir dua abad beroperasi, VOC juga rutin membagikan dividen dengan rata-rata sekitar 18 persen per tahun, sebuah rasio pengembalian yang menjadikannya primadona portofolio investor Eropa pada masanya. Likuiditas perdagangan sahamnya pun tercatat aktif, jauh sebelum sistem perdagangan elektronik ditemukan.
Refleksi bagi Fundamental Pasar Modal Domestik
Bagi Indonesia, sejarah VOC menyimpan ironi sekaligus pelajaran berharga. Di satu sisi, wilayah Nusantara menjadi saksi dan bagian dari lahirnya korporasi modern pertama di dunia; jejak perdagangan efek bahkan berlanjut melalui berdirinya bursa di Batavia pada 1912. Di sisi lain, VOC juga merupakan simbol kolonialisme yang keuntungannya dinikmati segelintir pihak, bukan masyarakat lokal. Karena itu, narasi sejarah ini lebih tepat dibaca sebagai pengingat pentingnya membangun pasar modal yang inklusif, transparan, dan berdaulat.
Dari sisi fundamental, pasar modal Indonesia saat ini menunjukkan tren membaik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di kisaran 7.200 hingga 7.400 sepanjang 2025, mengalami kenaikan moderat secara year-on-year meski sempat tertekan sentimen capital outflow akibat ketidakpastian arah suku bunga global. Likuiditas pasar mengalami kenaikan dengan nilai transaksi harian rata-rata di atas Rp 10 triliun. Kendati demikian, struktur pasar masih terkonsentrasi: sekitar 10 emiten berkapitalisasi besar menyumbang porsi signifikan terhadap total kapitalisasi, sehingga kedalaman pasar menjadi pekerjaan rumah berikutnya bagi regulator dan pelaku industri.
Pro dan Kontra: Relevansi Narasi Sejarah
Pro: penegasan mengenai VOC sebagai perusahaan tercatat pertama dapat menjadi sarana edukasi publik bahwa pasar modal bukan institusi baru, melainkan instrumen yang telah terbukti menghimpun dana pembangunan selama lebih dari empat abad. Narasi ini berpotensi memperkuat sentimen pasar dan menarik minat investor ritel baru, terutama generasi muda yang kini mendominasi pertumbuhan jumlah investor domestik.
Kontra: sebagian kalangan menilai glorifikasi VOC perlu kehati-hatian mengingat jejak kolonialnya. Selain itu, retorika sejarah tidak otomatis menyelesaikan persoalan struktural seperti rasio investor pasar modal terhadap populasi yang masih di bawah 6 persen, valuasi sejumlah sektor yang relatif tinggi, serta kerentanan terhadap arus modal asing yang keluar-masuk dalam tempo cepat.
Ke depan, proyeksi sejumlah lembaga menilai pendalaman pasar modal Indonesia masih menjanjikan, ditopang fundamental ekonomi dengan pertumbuhan PDB sekitar 5 persen year-on-year dan inflasi yang terjaga dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Pelajaran terpenting dari VOC barangkali sederhana: pasar modal yang sehat lahir dari kepercayaan, tata kelola, dan transparansi, prinsip yang tetap relevan sejak 1602 hingga era perdagangan digital saat ini.
Comments (0)