Airlangga Optimistis ETF Emas RI Mampu Salip India dan Singapura
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Kementerian ESDM per kuartal I 2025, harga emas global mengalami kenaikan lebih dari 30 persen year-on-year hingga sempat menembus US$3.200 per troy ounce, level te...
Berdasarkan data Bank Indonesia dan Kementerian ESDM per kuartal I 2025, harga emas global mengalami kenaikan lebih dari 30 persen year-on-year hingga sempat menembus US$3.200 per troy ounce, level tertinggi sepanjang sejarah. Di tengah tren tersebut, potensi pasokan emas domestik Indonesia tercatat mencapai 153 ton, angka yang menjadi fondasi optimisme pemerintah untuk mengembangkan pasar exchange traded fund (ETF) emas, yakni produk investasi berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa dengan emas sebagai aset dasar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keyakinannya bahwa dana kelolaan (assets under management/AUM) ETF emas Indonesia berpotensi melampaui India dan Singapura. Argumennya sederhana: kedua negara tersebut tidak memiliki basis tambang emas sebesar Indonesia, sehingga pasokan domestik menjadi keunggulan komparatif yang sulit ditiru.
"Dengan dukungan pasokan emas domestik sebesar 153 ton, Indonesia punya modal kuat untuk menjadikan ETF emas sebagai produk investasi unggulan, bahkan melampaui negara-negara yang lebih dulu mengembangkan pasar ini," ujar Airlangga.
Pasokan Domestik sebagai Fundamental
Dari sisi hulu, Indonesia termasuk produsen emas terkemuka dunia dengan produksi tambang berkisar 70 hingga 100 ton per tahun, ditopang antara lain oleh tambang Grasberg di Papua dan Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat. Kapasitas pemurnian dalam negeri juga mengalami kenaikan signifikan setelah smelter Freeport Indonesia di Gresik beroperasi dengan kapasitas pemurnian emas sekitar 50 hingga 60 ton per tahun.
Di sisi hilir, ekosistem pendukung mulai terbentuk. Pemerintah meresmikan layanan bank emas (bullion bank) pada Februari 2025 melalui Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia, sementara penjualan emas batangan Antam berkisar 30 hingga 40 ton per tahun. Adapun cadangan emas resmi Indonesia tercatat sekitar 78,6 ton menurut data World Gold Council, masih jauh di bawah India yang memiliki lebih dari 800 ton.
Perbandingan dengan India dan Singapura
Sebagai pembanding, ETF emas di India mengelola aset emas fisik sekitar 50 hingga 60 ton dengan nilai dana kelolaan di atas US$4 miliar, setelah mencatat arus masuk bersih yang konsisten sejak 2023. Singapura, meski menjadi pusat perdagangan emas regional, memiliki pasar ETF emas yang relatif kecil dengan dana kelolaan diperkirakan di bawah US$1 miliar.
Posisi Indonesia saat ini masih pada tahap awal. Instrumen ETF emas di bursa domestik tengah disiapkan, sehingga dana kelolaan praktis masih mendekati nol dibandingkan kedua negara tersebut. Namun, dengan basis pasokan 153 ton, secara teori ruang pertumbuhan (headroom) Indonesia memang lebih lebar.
Di Satu Sisi Optimisme, Di Sisi Lain Tantangan Likuiditas
Di satu sisi, argumen pemerintah memiliki dasar yang kuat. Pertama, dukungan aset fisik (underlying) yang melimpah menekan risiko ketimpangan antara unit ETF dan emas cadangannya. Kedua, reli indeks harga emas dunia meningkatkan minat investor menjadikan logam mulia sebagai instrumen diversifikasi portofolio sekaligus aset lindung nilai (safe haven). Ketiga, valuasi pasar emas ritel Indonesia yang tumbuh dua digit per tahun menunjukkan sentimen pasar yang kondusif.
Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan bahwa besarnya pasokan bukan penentu utama dana kelolaan ETF. Faktor yang lebih menentukan adalah likuiditas pasar sekunder, kedalaman investor institusi, biaya pengelolaan (expense ratio), serta tingkat literasi investor ritel. India sendiri membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk membangun pasar ETF emasnya sejak diluncurkan pada 2007.
"Pasokan fisik memang penting, tetapi ETF tumbuh karena kepercayaan, likuiditas, dan regulasi yang stabil. Tanpa itu, potensi 153 ton hanya akan berhenti sebagai angka di atas kertas," kata seorang pengamat pasar modal di Jakarta.
Risiko lain adalah volatilitas harga. Apabila harga emas berbalik arah, rasio risiko terhadap imbal hasil ETF emas bisa tertekan dan memicu penarikan dana besar-besaran (redemption), yang pada gilirannya berpotensi menimbulkan tekanan capital outflow dari instrumen tersebut.
Proyeksi dan Sentimen Pasar
Secara global, World Gold Council mencatat arus masuk ETF emas dunia kembali positif sepanjang 2024 hingga awal 2025, didorong pembelian bank sentral dan ketidakpastian geopolitik. Proyeksi sejumlah lembaga menempatkan harga emas pada kisaran US$3.000 hingga US$3.500 per troy ounce pada akhir 2025.
Bagi Indonesia, keberhasilan ETF emas pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan mengonversi keunggulan pasokan menjadi produk keuangan yang likuid, transparan, dan terjangkau. Jika ekosistem bursa, kustodian, dan bullion bank berjalan selaras, target menyalip dana kelolaan India dan Singapura bukan hal mustahil, meski tetap membutuhkan waktu dan konsistensi kebijakan.
Comments (0)