Air Mata Haru Guru Ngaji Palembang, Rumah Direnovasi Kapolri
Tangis haru seorang guru mengaji lanjut usia di Kota Palembang pecah saat melihat rumah sederhananya yang telah bertahun-tahun nyaris ambruk, kini berubah total menjadi hunian layak dan kokoh. Renovas...
Tangis haru seorang guru mengaji lanjut usia di Kota Palembang pecah saat melihat rumah sederhananya yang telah bertahun-tahun nyaris ambruk, kini berubah total menjadi hunian layak dan kokoh. Renovasi rumah tersebut dilakukan langsung oleh jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia di bawah komando Kapolri, yang secara khusus menginisiasi program bedah rumah bagi warga prasejahtera. Bagi sang guru mengaji, bantuan ini bagaikan keajaiban yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, mengingat keterbatasan ekonominya yang selama ini hanya mengandalkan honor sukarela dari mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an.
Peristiwa menggugah itu terjadi pada awal pekan ini di kawasan padat penduduk Kecamatan Ilir Timur Palembang. Rumah mungil berukuran sekitar 4x6 meter itu sebelumnya hanya berdinding anyaman bambu yang sudah keropos dan beratapkan seng berkarat yang bocor di mana-mana. Lantainya masih tanah, sehingga ketika musim hujan tiba, genangan air kerap menggenangi ruang utama, membuat pemiliknya harus rela tidur dalam kondisi lembap. “Setiap malam saya hanya bisa berdoa, siapa tahu Allah kirimkan pertolongan. Ternyata benar-benar datang melalui Bapak Kapolri,” ucap guru ngaji tersebut dengan suara bergetar, sembari menyeka air mata.
Kondisi Sebelum Renovasi: Miris dan Memprihatinkan
Sebelum disentuh program bedah rumah, kondisi tempat tinggal guru ngaji yang akrab disapa Ustaz Syarif (71) itu sangat memprihatinkan. Atap bocor menyebabkan air hujan dengan mudah masuk ke ruang tamu yang juga berfungsi sebagai tempat mengaji bagi 15 anak-anak sekitar. Dinding bambu yang sudah dimakan rayap terlihat miring dan sewaktu-waktu bisa roboh. Satu-satunya penerangan berasal dari lampu minyak karena instalasi listrik yang tak memadai. Sanitasi juga nyaris tak ada, sehingga keluarga ini terpaksa memanfaatkan fasilitas umum.
Meski hidup serba kekurangan, Ustaz Syarif tak pernah memungut bayaran dari murid-murid ngajinya. Ia mengajar dengan ikhlas, mengandalkan pemberian sukarela orang tua murid yang sebagian besar juga berasal dari keluarga kurang mampu. Penghasilannya yang tak menentu hanya cukup untuk makan sehari-hari, jauh dari cukup untuk memperbaiki rumah warisan orang tuanya itu. “Saya tidak tega minta bayaran. Melihat anak-anak bisa membaca Al-Qur’an saja sudah jadi kebahagiaan tersendiri,” katanya.
Proses Renovasi: Dari Hunian Tak Layak Menjadi Rumah Impian
Proses renovasi dimulai setelah tim dari kepolisian setempat melakukan survei dan mendata warga yang benar-benar membutuhkan bantuan tempat tinggal. Nama Ustaz Syarif muncul setelah laporan dari masyarakat setempat tentang kondisi rumahnya yang memprihatinkan, ditambah dedikasinya sebagai guru mengaji tanpa pamrih. Kapolri kemudian memerintahkan agar rumah tersebut segera dibedah total: dinding diganti bata ringan, lantai dikeramik, atap dipasangi rangka baja ringan dan genteng baru, serta dilengkapi listrik dan kamar mandi sederhana.
Pengerjaan berlangsung selama hampir tiga pekan dengan melibatkan anggota kepolisian, warga, dan tukang profesional. Seluruh biaya berasal dari dana sosial institusi yang dikelola secara transparan. Saat proses renovasi, Ustaz Syarif beserta istrinya mengungsi ke rumah tetangga. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur melihat gotong-royong yang begitu cepat menuntaskan pembangunan. “Saya seperti mimpi. Pagi-pagi lihat tembok sudah berdiri, sorenya atap sudah terpasang. Luar biasa,” kenangnya.
Momen Haru Penyerahan Kunci
Puncak kebahagiaan terjadi saat penyerahan kunci rumah baru. Kapolri yang diwakili oleh Kapolda Sumatera Selatan langsung menyerahkan kunci kepada Ustaz Syarif disaksikan warga dan para santri ciliknya. Tangis haru tak terbendung saat ia melangkah masuk ke dalam rumah yang bersih, kering, dan nyaman. Dinding putih cerah, lantai keramik mengkilap, serta ventilasi yang baik membuat rumah itu tampak sangat berbeda.
“Saya tidak menyangka, rumah saya yang dulu seperti ini sekarang jadi istana pribadi. Terima kasih Bapak Kapolri, terima kasih semua yang membantu. Saya hanya bisa mendoakan semoga Allah membalas kebaikan ini,” kata Ustaz Syarif di tengah isak tangis haru. Momen ini sontak membuat para tetangga dan anak-anak ngaji ikut terharu. Beberapa orang tua murid yang hadir juga tak kuasa menahan air mata, menyaksikan guru ngaji yang selama ini dihormati akhirnya memiliki tempat tinggal yang layak.
Dampak Sosial dan Pesan Kemanusiaan
Bantuan bedah rumah ini bukan sekadar renovasi fisik, tetapi juga membawa dampak sosial yang mendalam. Kegiatan mengaji yang sempat terhenti selama renovasi kini kembali berjalan dengan lebih nyaman. Kini, anak-anak bisa mengaji di ruang yang lebih lapang, bersih, dan terang. Selain itu, rumah ini juga menjadi simbol bahwa perhatian terhadap guru ngaji—yang seringkali terlupakan—bisa datang dari siapa saja, termasuk dari institusi penegak hukum.
Program bedah rumah dari Kapolri ini merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial yang rutin dilaksanakan di berbagai daerah. Data yang dihimpun dari Humas Polri menunjukkan bahwa sepanjang tahun berjalan, setidaknya 1.200 unit rumah tidak layak huni telah direnovasi di seluruh Indonesia melalui inisiatif serupa. Angka ini mencerminkan komitmen institusi dalam membantu masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mendekatkan polisi dengan warga.
Warga sekitar berharap bantuan semacam ini terus berlanjut dan menginspirasi pihak lain untuk peduli pada guru ngaji dan kalangan lansia. “Kami sangat bersyukur. Ustaz Syarif adalah panutan kami. Sekarang beliau bisa istirahat dengan tenang. Ini benar-benar keajaiban,” ujar salah seorang tetangga. Kisah ini membuktikan bahwa di tengah kerasnya kehidupan, solidaritas dan perhatian antar sesama mampu mengubah tangis duka menjadi air mata bahagia.
Baca juga:
Comments (0)