Oct 10, 2026
Bisnis

Adhi Karya Divestasi Saham Jasamarga Rp1,76 Triliun Jelang Merger

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia, PT Adhi Karya (Persero) Tbk mengumumkan rencana pelepasan seluruh kepemilikan sahamnya di PT Jasamarga J...

Adhi Karya Divestasi Saham Jasamarga Rp1,76 Triliun Jelang Merger

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia, PT Adhi Karya (Persero) Tbk mengumumkan rencana pelepasan seluruh kepemilikan sahamnya di PT Jasamarga Jogja Solo. Perseroan akan mendivestasikan 47,18% saham entitas jalan tol tersebut dengan nilai transaksi mencapai Rp1,76 triliun. Langkah korporasi ini mencuat ke permukaan publik pada momen yang berdekatan dengan proses konsolidasi BUMN karya, yakni penggabungan usaha dengan PT PP (Persero) Tbk yang tengah memasuki tahap akhir.

Dalam konteks keuangan korporasi, divestasi merupakan strategi melepas aset atau unit bisnis tertentu untuk memperoleh likuiditas, memperbaiki struktur permodalan, maupun memfokuskan portofolio pada lini usaha yang dinilai lebih fundamental. Jasamarga Jogja Solo sendiri merupakan badan usaha jalan tol yang mengelola ruas Solo–Yogyakarta–Yogyakarta International Airport, proyek strategis nasional yang menghubungkan kawasan wisata dan industri di Jawa bagian selatan.

Mengapa Divestasi Dilakukan Sekarang?

Di satu sisi, langkah ini dibaca pasar sebagai upaya Adhi Karya memperkuat posisi kas di tengah tekanan likuiditas sektor konstruksi. Emiten berkode ADHI ini mencatatkan beban utang yang cukup besar dari proyek-proyek infrastruktur dengan siklus pembayaran panjang. Dengan masuknya dana segar sekitar Rp1,76 triliun, perseroan memiliki ruang fiskal untuk menekan rasio utang terhadap ekuitas sekaligus menjaga kemampuan membayar kewajiban jangka pendek.

Di sisi lain, penjualan aset yang menghasilkan pendapatan berulang atau recurring income justru memunculkan pertanyaan soal prospek jangka panjang. Jalan tol dikenal sebagai instrumen yang menyediakan arus kas stabil setelah melewati masa konstruksi. Melepaskan kepemilikan berarti Adhi Karya menyerahkan potensi pendapatan tol yang diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan volume kendaraan dan pemulihan mobilitas pascapandemi.

Implikasi terhadap Proses Merger

Pro: proses merger dengan PT PP membutuhkan neraca yang bersih dan valuasi yang menarik. Divestasi aset non-inti dapat menyederhanakan struktur usaha entitas gabungan, sehingga calon induk holding BUMN karya fokus menangani proyek konstruksi dan engineering, procurement, and construction. Efisiensi ini berpotensi memperbaiki margin operasi yang selama ini tergerus biaya bunga.

Kontra: penjualan saham di anak usaha yang masih berada di fase pertumbuhan bisa diartikan sebagai kehilangan aset produktif. Beberapa analis menilai pengembalian atas ekuitas dari kepemilikan jalan tol berpotensi melampaui proyeksi imbal hasil usaha konstruksi murni dalam jangka menengah. Pertanyaannya, apakah dana hasil divestasi akan dialokasikan untuk memperkuat modal kerja, melunasi utang, atau justru menganggur tanpa proyek baru.

"Divestasi yang dilakukan menjelang merger biasanya bertujuan menciptakan neraca yang lebih ramping dan mudah dinilai. Namun, pasar akan menanti kejelasan penggunaan dana, apakah untuk deleveraging atau ekspansi," ujar seorang analis infrastruktur di sekuritas nasional.

Respons Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari sisi sentimen pasar, pengumuman ini berpotensi menimbulkan reaksi dua arah. Investor yang menyoroti perbaikan likuiditas cenderung menyambut positif, sementara investor yang mementingkan pertumbuhan jangka panjang mungkin mencermati hilangnya kontribusi pendapatan dari jalan tol. Harga saham ADHI sendiri dalam beberapa bulan terakhir bergerak fluktuatif seiring kekhawatiran terhadap capital outflow dari pasar obligasi dan ekuitas negara berkembang.

Berdasarkan data OJK per September 2024, sektor konstruksi masih mencatat pertumbuhan kredit modal kerja yang moderat, mencerminkan kehati-hatian lembaga keuangan menyalurkan pembiayaan ke proyek infrastruktur. Kondisi ini memperkuat urgensi bagi emiten karya untuk mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk melalui pelepasan aset.

Ke depan, tiga hal perlu dicermati. Pertama, kejelasan pembeli dan struktur transaksi, apakah dilakukan melalui mekanisme pasar atau pembelian langsung. Kedua, dampak terhadap valuasi konsolidasi entitas hasil merger, yang bakal menjadi perhatian utama investor institusi. Ketiga, kemampuan manajemen menjelaskan strategi portofolio pasca-divestasi, agar pasar tidak menafsirkan langkah ini sebagai sekadar upaya menambal likuiditas tanpa arah pertumbuhan yang jelas.

Secara fundamental, langkah Adhi Karya mencerminkan tren yang lebih luas di sektor BUMN karya: konsolidasi aset, penguatan rasio keuangan, dan persiapan menghadapi lanskap investasi infrastruktur yang menuntut efisiensi. Namun, tanpa kejelasan alokasi dana dan proyeksi bisnis pasca-merger, sentimen pasar bisa tetap terbelah antara optimisme perbaikan neraca dan kekhawatiran kehilangan sumber pendapatan berulang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User