Di balik gemerlap kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang menjanjikan efisiensi tanpa batas, tersimpan sebuah tragedi kebudayaan yang berlangsung secara senyap. Berada di dalam fasilitas-fasilitas pemindaian skala besar yang tersebar di berbagai belahan dunia, ribuan hingga jutaan buku cetak—termasuk naskah-naskah langka yang tak ternilai harganya—sedang dihancurkan secara sistematis. Proses pemotongan jilid buku ini dilakukan hanya demi satu tujuan: mempercepat proses digitalisasi teks untuk melatih model kecerdasan buatan modern.
Investigasi mendalam yang dilakukan oleh Emanuel Maiberg, jurnalis investigasi sekaligus Co-founder dari media teknologi independen 404 Media, membongkar praktik industri yang selama ini ditutupi rapat-rapat. Dalam wawancaranya bersama pembawa acara François Picard, Maiberg mengungkapkan bahwa fenomena ini bukanlah didasari oleh niat jahat untuk memusnahkan ilmu pengetahuan, melainkan oleh sebuah ketidakpedulian yang mutlak (indifference) dari para raksasa teknologi terhadap nilai fisik karya sejarah.
Rantai Pasok Global yang Opat dan Anonim
Temuan Maiberg menyoroti keberadaan rantai pasok global yang dirancang secara sengaja agar tidak transparan. Perusahaan pengembang AI memanfaatkan perantara dan pasar anonim untuk memborong koleksi buku secara massal dari penjual independen, perpustakaan swasta, hingga toko buku bekas di seluruh dunia.
Buku-buku yang telah dibeli tersebut kemudian dikirimkan ke fasilitas digitalisasi berkecepatan tinggi. Di tempat ini, jilid asli buku dipotong menggunakan mesin pemotong kertas industri—sebuah proses yang secara fisik menghancurkan struktur buku tersebut—sehingga setiap lembar kertas dapat dimasukkan ke dalam mesin pemindai otomatis tanpa hambatan mekanis.
"Niat mereka bukanlah kejahatan langsung terhadap literatur, melainkan ketidakpedulian yang mutlak. Yang penting bagi industri ini adalah kecepatan penyerapan data, terlepas dari apakah buku yang dihancurkan itu adalah cetakan langka abad ke-19 atau buku teks modern," ungkap Emanuel Maiberg.
Efisiensi Industri vs Pelestarian Sejarah
Penggunaan metode pemindaian destruktif ini dipilih semata-mata karena pertimbangan ekonomi dan efisiensi waktu. Pemindaian konvensional yang menjaga keutuhan buku dinilai terlalu lambat untuk mengejar kebutuhan data model bahasa besar (LLM) yang haus akan materi pelatihan berkategori high-quality text.
Berikut adalah perbandingan antara metode preservasi perpustakaan tradisional dengan pemindaian industri berbasis pelatihan AI:
| Parameter | Preservasi Digital Tradisional | Pemindaian Massal Industri AI |
|---|---|---|
| Integritas Fisik Buku | Buku tetap utuh dan dilestarikan | Buku dihancurkan (jilid dipotong) |
| Kecepatan Pemindaian | Lambat (proses manual per halaman) | Sangat Cepat (ribuan lembar per jam) |
| Tujuan Utama | Pelestarian arsip & akses akademis | Ekstraksi data mentah untuk model AI |
| Tingkat Transparansi | Terbuka dan terdata secara publik | Sangat tertutup dan anonim |
Praktik ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan pustakawan, sejarawan, dan akademisi. Ribuan karya cetak yang mungkin hanya tersisa beberapa eksemplar di dunia kini berisiko lenyap secara permanen dari bentuk fisiknya. Dampak jangka panjang dari pengorbanan literatur fisik ini mencakup:
- Hilangnya artefak fisik dan nilai keaslian sejarah karya cetak kuno.
- Pemusnahan catatan pinggir (marginalia) dan catatan sejarah yang hanya ada pada eksemplar fisik tertentu.
- Ketergantungan penuh masyarakat masa depan pada korpus digital yang dikuasai oleh monopoli perusahaan teknologi swasta.
Legalitas di Area Abu-abu dan Tuntutan Transparansi
Isu ini semakin rumit karena berada di area abu-abu hukum hak cipta dan kepemilikan fisik. Ketika sebuah buku dibeli secara sah di pasar bebas, pemilik baru memiliki hak hukum untuk memperlakukannya secara fisik, termasuk menghancurkannya. Namun, ketika tindakan tersebut digabungkan dengan penggandaan digital skala besar untuk tujuan komersial AI tanpa izin pemegang hak cipta, batas-batas etika dan hukum menjadi sangat kabur.
Para pengamat mendesak agar regulator global segera mewajibkan transparansi atas sumber data yang digunakan oleh pengembang AI. Tanpa adanya regulasi ketat, laju pemotongan buku secara massal ini dikhawatirkan akan terus mengikis warisan budaya fisik manusia demi memenuhi ambisi algoritma digital yang tidak pernah puas.
Comments (0)