Reruntuhan misteri dan tabir kelam Istana Buckingham kembali tersingkap ke publik. Puluhan tahun setelah tragedi kecelakaan maut di terowongan Pont de l'Alma, Paris, yang merenggut nyawa Putri Diana pada 31 Agustus 1997, klaim mengejutkan berhembus dari lingkaran terdalam keluarga Kerajaan Inggris. Charles Spencer, adik kandung sang Princess of Wales, membeberkan memoar terbarunya yang menyingkap sisi tersembunyi dari respons emosional Pangeran Charles (kini Raja Charles III) sesaat setelah kabar duka tersebut mengguncang dunia.
Dalam bocoran naskah otobiografi yang memicu kontroversi global ini, Spencer menceritakan momen dramatis saat ia menerima panggilan telepon dari Istana. Alih-alih mendengarkan suara seorang mantan suami yang dirundung duka mendalam dan keprihatinan, Spencer mengklaim nada suara Charles terdengar sangat tidak lazim untuk situasi berkabung nasional. "Dia terdengar gembira luar biasa — seperti seorang pemenang lotre," tulis Spencer dalam naskah yang menguraikan detik-detik awal pasca-tragedi tersebut.
Dimensi Politik Istana: Menjadikan Anak Sebagai Perisai Publik
Pernyataan Spencer tidak hanya berhenti pada pembicaraan telepon yang janggal itu. Ia juga membeberkan dinamika manipulatif di balik layar terkait prosesi pemakaman spektakuler yang disaksikan oleh 2,5 miliar penonton di seluruh dunia. Publik tentu mengingat momen memilukan saat Pangeran William yang berusia 15 tahun, Pangeran Harry yang berusia 12 tahun, Earl Spencer, serta Pangeran Philip berjalan beriringan di belakang peti jenazah Diana menuju Westminster Abbey.
Spencer mengklaim bahwa keikutsertaan para pangeran muda dalam prosesi tersebut bukanlah sekadar keputusan emosional kekeluargaan, melainkan sebuah kalkulasi politik yang sangat cermat dari pejabat Istana Buckingham. Pejabat kerajaan dilaporkan berada dalam ketakutan ekstrem bahwa publik Inggris yang sedang murka dan berduka akan melempar cemoohan atau makian langsung kepada Charles jika ia berjalan sendirian tanpa didampingi anak-anaknya.
| Aspek Konteks | Narasi Resmi Istana Buckingham | Klaim Memoar Earl Spencer |
|---|---|---|
| Sikap Charles Usai Tragedi | Dirundung duka mendalam dan prihatin | Terdengar gembira luar biasa bak menang lotre |
| Atmfer Lingkaran Dalam | Duka cita nasional yang khusyuk | Sebagian pejabat merasa 'lega' atas wafatnya Diana |
| Tujuan Prosesi Jalan Kaki | Penghormatan terakhir keluarga terdekat | Strategi perisai agar Charles tidak dicemooh warga |
Guncangan Narasi dan Bayang-Bayang Masa Lalu Monarki
Penelusuran investigatif *Beritadua.com* menyoroti bagaimana memoar ini berpotensi merusak reputasi Raja Charles III yang telah bertahun-tahun dibangun kembali pasca-era Diana. Lebih jauh lagi, Spencer mengisyaratkan adanya rasa 'lega' di antara jajaran pejabat istana tertentu atas kematian Diana—sebuah pengakuan yang memperkuat spekulasi lama mengenai ketegangan abadi antara sang Putri dan institusi monarki.
"Jika klaim dalam memoar ini terbukti di mata publik, ini bukan sekadar perbedaan persepsi emosional, melainkan bukti betapa dinginnya kalkulasi citra politik di balik tembok istana saat sebuah tragedi kemanusiaan terjadi," ujar seorang pakar komunikasi politik kerajaan.
Beberapa analis menilai bahwa eksistensi Diana semasa hidup dianggap sebagai ancaman konstan bagi masa depan kepemimpinan Charles. Kepopuleran Diana yang menembus batas-batas tradisional kerajaan kerap memenjarakan citra Charles dalam bayang-bayang kepopuleran mantan istrinya. Oleh karena itu, momen pasca-kematian Diana justru dimanfaatkan oleh mesin propaganda istana untuk mengamankan posisi politik Charles, meskipun harus mengorbankan perasaan anak-anaknya yang masih remaja.
Hingga laporan ini diturunkan, pihak Istana Buckingham memilih untuk bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi mengenai potongan isi memoar Earl Spencer yang memicu kegemparan ini. Namun, pengungkapan fakta baru ini dipastikan memperpanjang daftar keretakan sejarah keluarga kerajaan Inggris, membuktikan bahwa walaupun lebih dari dua dekade telah berlalu, bayang-bayang Putri Diana tetap menjadi hantu bagi legitimasi moral monarki modern.
Comments (0)