Oct 19, 2026
Bisnis

120 Becak Listrik untuk Pengemudi Lansia di Depok, Stimulus atau Solusi Sementara?

Berdasarkan data Kementerian Sosial dan Pemerintah Kota Depok per Oktober 2026, sebanyak 120 unit becak listrik disalurkan kepada pengemudi berusia lanjut di wilayah Depok, Jawa Barat. Program ini men...

120 Becak Listrik untuk Pengemudi Lansia di Depok, Stimulus atau Solusi Sementara?

Berdasarkan data Kementerian Sosial dan Pemerintah Kota Depok per Oktober 2026, sebanyak 120 unit becak listrik disalurkan kepada pengemudi berusia lanjut di wilayah Depok, Jawa Barat. Program ini menyasar penarik becak yang secara ekonomi tergolong rentan, dengan mayoritas penerima berusia di atas 60 tahun. Bantuan diberikan dalam bentuk unit kendaraan berbasis baterai, bukan transfer tunai, sehingga secara langsung menyentuh sisi produktivitas penerima manfaat.

Langkah ini menjadi bagian dari rangkaian kebijakan perlindungan sosial yang menempatkan alat produksi sebagai instrumen utama, bukan sekadar konsumsi rumah tangga. Pertanyaannya, apakah pendekatan ini mampu mendorong kenaikan pendapatan secara berkelanjutan, atau hanya menjadi stimulus jangka pendek yang menguap begitu program selesai?

Kontek Makro dan Urgensi Perlindungan Kelompok Rentan

Merujuk data BPS per Agustus 2026, tingkat pengangguran terbuka nasional berada di kisaran 4,8 persen, turun dari 5,3 persen pada periode yang sama tahun lalu. Namun angka agregat itu menyembunyikan masalah struktural: pekerja informal berusia lanjut tetap menjadi segmen paling sulit keluar dari jebakan pendapatan rendah. Rasio ketergantungan lansia terus meningkat seiring transisi demografi, sementara akses mereka ke pekerjaan formal sangat terbatas.

Program becak listrik di Depok menyasar celah itu. Secara fundamental, pemberian aset produktif memiliki efek berganda yang lebih besar dibanding bantuan konsumtif. Penerima dapat menggunakannya untuk mencari nafkah harian, sehingga ada potensi kenaikan pendapatan rumah tangga yang bersifat berulang. Di satu sisi, biaya operasional kendaraan listrik jauh lebih rendah karena tidak lagi bergantung pada bahan bakar minyak, yang berarti margin harian pengemudi berpotensi membaik signifikan.

"Bantuan alat produksi seperti ini punya efek jangka panjang lebih baik daripada bantuan tunai, asalkan disertai pendampingan dan akses pasar yang jelas," ujar seorang ekonom sosial yang meneliti sektor informal perkotaan.

Pro: Efisiensi Biaya dan Pengurangan Beban Harian

Dari sisi pro, ada beberapa argumen kuat. Pertama, biaya energi becak listrik secara year-on-year jauh lebih stabil dibanding harga bahan bakar yang fluktuatif. Pengemudi tidak lagi terpapar gejolak harga minyak yang sering melonjak menjelang akhir tahun. Kedua, dari perspektif likuiditas rumah tangga, penghematan harian dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti pangan dan kesehatan, yang pada akhirnya memperbaiki indeks kesejahteraan keluarga.

Ketiga, program ini juga sejalan dengan agenda transisi energi. Setiap unit becak listrik mengurangi emisi karbon di kawasan perkotaan. Jika direplikasi ke kota lain, dampaknya terhadap kualitas udara bisa terukur. Keempat, secara sentimen pasar, kebijakan semacam ini memperkuat narasi bahwa pemerintah hadir di segmen yang sering terlewat oleh program formal.

Kontra: Skala Kecil dan Tantangan Keberlanjutan

Di sisi lain, sejumlah catatan kritis layak diajukan. Pertama, 120 unit untuk satu kota adalah skala yang relatif kecil dibanding populasi pengemudi becak di Jabodetabek yang diperkirakan mencapai puluhan ribu orang. Risiko ketimpangan antarwilayah sangat terbuka, dan tanpa peta jalan yang jelas, program ini bisa dinilai sebagai langkah simbolis ketimbang kebijakan struktural.

Kedua, aspek pemeliharaan menjadi titik lemah. Baterai kendaraan listrik memiliki siklus pakai terbatas. Tanpa layanan purna jual, garansi, dan jaringan bengkel resmi, biaya penggantian baterai di masa depan bisa membebani pengemudi. Ini menyangkut proyeksi valuasi manfaat jangka menengah yang sering diabaikan dalam program bantuan aset.

Ketiga, ada risiko capital outflow tidak langsung: jika komponen kendaraan sebagian besar diimpor, manfaat ekonomi domestik dari program ini menyusut. Keempat, tanpa integrasi dengan sistem angkutan umum, becak listrik berpotensi bersaing tidak sehat dengan moda transportasi lain, menciptakan distorsi di pasar tenaga kerja informal.

Rasio Manfaat dan Proyeksi ke Depan

Mengukur keberhasilan program ini memerlukan data lanjutan: kenaikan pendapatan rata-rata pengemudi, tingkat utilisasi harian, serta rasio biaya pemeliharaan terhadap pemasukan. Tanpa evaluasi berkala, klaim keberhasilan hanya bersandar pada sentimen, bukan fundamental. Pemerintah perlu memastikan ada pendampingan, pelatihan teknis, dan kemitraan dengan penyedia layanan baterai agar manfaatnya tidak menguap dalam dua hingga tiga tahun.

Secara keseluruhan, program becak listrik bagi pengemudi lansia di Depok adalah langkah yang layak diapresiasi, tetapi belum cukup untuk disebut solusi tuntas. Ia adalah stimulus yang menyentuh sisi produksi, yang lebih baik dari bantuan konsumtif semata. Namun skala, keberlanjutan, dan ekosistem pendukungnya masih menjadi pertanyaan besar. Publik berhak menuntut transparansi indikator, agar kebijakan ini tidak berhenti sebagai seremoni penyerahan simbolis, melainkan menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan yang terukur dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User