Sep 11, 2026
Hukum

YOGYAKARTA — Royal Ambarrukmo Hadirkan Kembali Tradisi Minum Teh Keraton

YOGYAKARTA — Di balik megahnya arsitektur cagar budaya Pendopo Agung Ambarrukmo, aroma melati dan seduhan daun teh pilihan menguar perlahan, membawa kembal

YOGYAKARTA — Royal Ambarrukmo Hadirkan Kembali Tradisi Minum Teh Keraton

YOGYAKARTA — Di balik megahnya arsitektur cagar budaya Pendopo Agung Ambarrukmo, aroma melati dan seduhan daun teh pilihan menguar perlahan, membawa kembali memori aristokratik abad ke-18. Dalam rangka menyambut perayaan hari jadinya yang ke-15, Royal Ambarrukmo Yogyakarta secara resmi menggelar kembali upacara Ambarrukmo Atisomya – Patehan, The Royal High Tea Ceremony. Acara ini bukan sekadar jamuan minum teh biasa, melainkan rekonstruksi teliti atas tradisi sakral keraton yang sarat makna filosofis Jawa.

Investigasi budaya ini menelusuri bagaimana tradisi adiluhung yang dulunya eksklusif hanya untuk lingkungan internal Sultan dan para bangsawan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, kini diadaptasi secara cermat bagi publik dan wisatawan tanpa menghilangkan esensi pakem aslinya.

Rekonstruksi Ritual Sakral Patehan di Era Kontemporer

Ritual Patehan—yang namanya berakar dari kata 'teh'—merupakan tata cara penyajian teh istana yang diawasi langsung oleh Abdi Dalem Keparak dan Abdi Dalem Patehan. Setiap gerak tubuh, wadah tembaga berukir, hingga jarak langkah pelayan memiliki perhitungan simbolis. Manajemen Royal Ambarrukmo berupaya menghadirkan keotentikan ini sebagai bentuk komitmen pelestarian warisan budaya Mataram Islam di tengah arus modernisasi perhotelan internasional.

"Upacara Patehan adalah wujud penghormatan tertinggi kepada tamu sekaligus laku spiritual dalam menikmati ketenangan pikiran. Kami merekonstruksi setiap jengkal prosesi ini agar generasi masa kini dapat merasakan langsung denyut kebudayaan keraton yang otentik," ungkap pihak penyelenggara kebudayaan Royal Ambarrukmo.

Kronologi dan Urutan Prosesi Upacara Patehan

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, prosesi The Royal High Tea Ceremony dijalankan dengan disiplin tradisi yang ketat melalui tahapan berikut:

  1. Arak-arakan Kyai/Nyai Patehan: Iring-iringan pramusaji mengenakan busana adat Jawa lengkap (kain jarik, surjan, dan samir) berjalan dengan langkah pelan nan anggun (laku dhodhok) membawa nampan kuningan berisi cangkir porselen antik dan teko tradisional.
  2. Tata Letak Meja Jamuan: Teh disajikan di atas meja rendah beralaskan kain motif batik klasik, diiringi alunan gending gamelan berlaras pelog yang menenangkan suasana.
  3. Prosesi Penuangan Teh: Seduhan teh tubruk istimewa dengan racikan khas keraton—perpaduan daun teh hitam lokal dengan kuntum melati segar—dituangkan dengan ketinggian tertentu untuk menghasilkan buih halus dan aroma maksimal.
  4. Penyajian Kudapan Tradisional: Bersamaan dengan cangkir teh, para tamu disuguhi aneka kudapan khas keraton seperti semar mendem, jadah manten, manuk nom, serta kue-kue tradisional yang sarat nilai historis.

Menjaga Eksistensi Cagar Budaya dan Diplomasi Rasa

Langkah Royal Ambarrukmo mengangkat kembali upacara Atisomya membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti di museum atau buku sejarah. Kompleks pesanggrahan Ambarrukmo yang dahulu dibangun pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VI dan disempurnakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII kembali menemukan fungsinya sebagai ruang perjumpaan budaya.

Melalui inisiatif ini, diplomasi gastronomi Jawa diangkat ke level premium. Para penikmat teh tidak hanya mengecap rasa pahit-manis legit yang khas (disebut ginastel atau legi, panas, kenthel), tetapi juga diajak merenungi nilai kesabaran, harmoni, dan penghormatan antarmanusia yang terkandung dalam setiap cangkir teh yang disajikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User