Oct 08, 2026
Bisnis

wondr by BNI hadir di IdeaFest 2026 dorong ekonomi kreatif

Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis pada akhir 2025, nilai ekonomi kreatif nasional berkontribusi sekitar 6,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan serapan tenaga kerja menembus ...

wondr by BNI hadir di IdeaFest 2026 dorong ekonomi kreatif

Berdasarkan data Bank Indonesia yang dirilis pada akhir 2025, nilai ekonomi kreatif nasional berkontribusi sekitar 6,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan serapan tenaga kerja menembus 20 juta orang. Di tengah tren percepatan transaksi nontunai yang mencatat pertumbuhan dua digit year-on-year, perbankan digital kini memposisikan diri tidak sekadar sebagai penyedia kanal pembayaran, melainkan sebagai infrastruktur pendukung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Dalam konteks inilah wondr by BNI mengambil peran sebagai mitra perbankan resmi dalam penyelenggaraan IdeaFest 2026, festival kreatif yang tahun ini mengusung tema besar mengenai penguatan peran manusia di tengah maraknya kecerdasan artifisial.

Keputusan menggandeng sebuah festival kreatif, bukan sekadar konvensi perbankan konvensional, menarik untuk ditelaah dari sisi strategi portofolio. Sepanjang tahun 2025, industri perbankan nasional menghadapi tekanan rasio pembiayaan bermasalah yang masih berada di kisaran dua persen, sementara margin keuntungan bersih perbankan besar relatif tertekan akibat kompetisi dana murah. Dengan latar belakang kondisi tersebut, investasi terhadap aktivitas berskala komunitas kreatif dapat dipandang sebagai upaya memperkuat fondamental segmen ritel sekaligus memperluas basis pengguna aktif.

Digitalisasi UMKM Kreatif sebagai Mesin Pertumbuhan

Di satu sisi, dukungan terhadap ekosistem kreatif merupakan langkah rasional bagi bank digital yang mengincar pertumbuhan volume transaksi. Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah mencatat jumlah pelaku usaha kreatif di Indonesia mencapai lebih dari 81 juta unit, namun baru sebagian kecil yang terhubung ke sistem pembayaran digital. Celah inilah yang menjadi sasaran: setiap pelaku usaha yang terdigitalisasi berpotensi menghasilkan nilai transaksi rata-rata jutaan rupiah per bulan, sehingga skala ekonominya menjadi menarik bila dikumpulkan dalam satu ekosistem.

Program semacam ini juga menjawab kebutuhan literasi keuangan. Festival bersifat terbuka seperti IdeaFest memungkinkan sesi edukasi mengenai pengelolaan kas, pencatatan keuangan berbasis aplikasi, hingga pemanfaatan produk simpanan digital. Bagi pelaku usaha yang selama ini masih mengandalkan pencatatan manual, paparan langsung terhadap teknologi perbankan dapat mempercepat proses onboarding ke kanal resmi dan pada akhirnya memperbesar rasio formalisasi usaha, istilah yang merujuk pada masuknya usaha nonformal ke dalam sistem ekonomi tercatat.

Ekonom kreatif menilai bahwa kolaborasi antara lembaga keuangan dan festival industri menjadi model baru yang menyeimbangkan kebutuhan korporasi dengan pengembangan kapasitas pelaku usaha.

Tema Re:Humanize dan Tantangan Era Kecerdasan Artifisial

Di sisi lain, tema Re:Humanize yang diusung IdeaFest 2026 membuka diskusi kritis yang tidak bisa diabaikan. Ketika sebagian besar bank besar berlomba mengintegrasikan kecerdasan artifisial ke dalam layanan nasabah, muncul sentimen pasar mengenai potensi pengurangan kebutuhan tenaga kerja manual di sektor jasa keuangan. Survei yang dipublikasikan beberapa lembaga riset teknologi sepanjang 2025 memproyeksikan bahwa hingga 30 persen tugas administratif di perbankan dapat terautomasi dalam lima tahun ke depan.

Dalam perspektif inilah fokus pada manusia menjadi penting. Posisi wondr by BNI sebagai mitra festival menegaskan bahwa teknologi sebaiknya diletakkan sebagai alat yang memperkuat kapabilitas manusia, bukan menggantikannya. Layanan berbasis aplikasi yang selama ini mengandalkan analisis data nasabah untuk memberi rekomendasi produk tetap membutuhkan sentuhan personal dalam skenario kompleks seperti pembiayaan usaha atau perencanaan keuangan keluarga.

Pro: kolaborasi semacam ini memperkuat positioning bank sebagai mitra pertumbuhan, bukan sekadar transaksional. Kontra: terdapat risiko bahwa aktivitas promosi berskala besar dinilai lebih menguntungkan citra korporasi ketimbang dampak ekonomi yang terukur bagi pelaku usaha kecil, terutama bila tidak diikuti program lanjutan berupa akses pembiayaan yang terukur.

Proyeksi Dampak terhadap Ekosistem Kreatif Nasional

Secara fundamental, keterlibatan perbankan digital dalam gelaran sebesar IdeaFest 2026 dapat membuka peluang pertumbuhan likuiditas bagi pelaku industri kreatif. Akses terhadap kanal pembayaran yang terintegrasi memungkinkan pelaku usaha memperoleh data transaksi yang rapi, yang kelak dapat dijadikan dasar penilaian kredit. Rasio pembiayaan berbasis data ini sedang menjadi tren di pasar keuangan Asia Tenggara, sejalan dengan upaya otoritas memperluas inklusi keuangan.

Untuk konteks makro, kontribusi ekonomi kreatif terhadap devisa juga layak dicatat, mengingat industri seperti desain, kuliner, dan konten digital telah menembus pasar ekspor digital ke berbagai negara. Bila kanal keuangan digital mampu memperlancar arus transaksi lintas batas bagi pelaku usaha kecil, maka potensi peningkatan nilai ekspor jasa kreatif dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekspor nasional yang berada di kisaran tiga persen.

Pada akhirnya, keberhasilan inisiatif seperti ini diukur bukan dari besarnya anggaran acara, melainkan dari seberapa banyak pelaku usaha yang kemudian aktif menggunakan layanan digital secara berkelanjutan. Selama terdapat follow-up program yang terukur dan transparan, kolaborasi antara sektor perbankan dan industri kreatif berpotensi menciptakan siklus pertumbuhan yang saling menguntungkan, sekaligus menjaga keseimbangan antara efisiensi teknologi dan nilai kemanusiaan yang menjadi inti tema Re:Humanize.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User