Waspada El Nino: Ancaman Harga Pangan Volatile di Tengah Ketidakpastian Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per Oktober 2026, kelompok harga bergejolak atau volatile food kembali menjadi sorotan utama dalam agenda stabilitas ekonomi nasional. P...

Oct 09, 2026 - 19:16
0 0
Waspada El Nino: Ancaman Harga Pangan Volatile di Tengah Ketidakpastian Global

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per Oktober 2026, kelompok harga bergejolak atau volatile food kembali menjadi sorotan utama dalam agenda stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan secara eksplisit menyampaikan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga komoditas pangan strategis, khususnya cabai dan daging ayam, seiring dengan prediksi datangnya fenomena iklim El Nino yang membawa kekeringan berkepanjangan di sejumlah wilayah sentra produksi.

Dalam konteks ekonomi makro, volatile food merujuk pada kelompok komoditas pangan yang harganya sangat fluktuatif karena dipengaruhi faktor musiman, cuaca, dan gangguan pasokan. Kelompok ini memiliki bobot signifikan dalam perhitungan indeks harga konsumen (IHK) dan sering menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Data historis menunjukkan bahwa pada periode El Nino kuat tahun 2015-2016, inflasi pangan bergejolak mencapai 4,5% hingga 5,2% year-on-year, jauh di atas rata-rata normal yang berkisar 2-3%.

Dampak Rantai Pasok dan Proyeksi Harga Komoditas

Di satu sisi, kekeringan akibat El Nino akan menekan produksi hortikultura dan peternakan. Cabai merah keriting, yang sangat sensitif terhadap perubahan kelembapan tanah, berpotensi mengalami penurunan hasil panen hingga 20-30% di sentra produksi seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Harga cabai di tingkat konsumen bisa melonjak dari rata-rata Rp45.000 per kilogram menjadi Rp70.000-Rp85.000 per kilogram pada puncak musim kemarau. Demikian pula daging ayam, yang produksinya bergantung pada ketersediaan pakan jagung dan air bersih, berisiko mengalami kenaikan harga 10-15% akibat biaya produksi yang meningkat.

Di sisi lain, pemerintah memiliki instrumen fiskal dan moneter untuk meredam gejolak tersebut. Anggaran Perlinsos dan operasi pasar melalui Badan Pangan Nasional dapat menjadi bantalan likuiditas di pasar. Bank Indonesia juga memiliki ruang untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang berdampak pada harga pakan impor. Namun, efektivitas intervensi ini sangat bergantung pada kecepatan respons dan akurasi data produksi di lapangan.

"Volatile food perlu kita waspadai karena kita akan menuju El Nino, kekeringan sehingga nanti dampaknya yang di pangan akan kelihatan," ujar Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam keterangan resminya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa fundamental ekonomi pangan nasional masih rentan terhadap guncangan iklim. Sentimen pasar pun mulai menunjukkan kekhawatiran, tercermin dari kenaikan harga berjangka komoditas pangan di beberapa bursa regional. Capital outflow dari sektor pertanian juga mulai terlihat seiring investor menunggu kejelasan kebijakan mitigasi.

Respons Kebijakan dan Kesiapan Instrumen Fiskal

Dari perspektif kebijakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Pertama, percepatan distribusi bantuan pangan bersyarat kepada rumah tangga rentan. Kedua, penguatan cadangan pangan pemerintah di Bulog yang saat ini berada di level 1,2 juta ton setara beras. Ketiga, koordinasi lintas kementerian untuk memetakan daerah rawan kekeringan dan menyiapkan irigasi darurat.

Namun, analis mengingatkan bahwa ruang fiskal semakin sempit. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per September 2026 tercatat Rp319 triliun, atau sekitar 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), masih dalam batas target 2,2% hingga akhir tahun. Alokasi belanja subsidi energi dan pangan harus bersaing dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur dan transfer ke daerah.

Proyeksi Bank Indonesia menunjukkan inflasi volatile food dapat mencapai 5,5% year-on-year pada kuartal IV-2026 jika El Nino berkategori moderat-kuat. Angka ini akan mendorong inflasi umum ke kisaran 3,8-4,2%, mendekati batas atas target 4%. Tekanan ini berpotensi mengurangi daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah bawah yang porsi belanja pangannya mencapai 60% dari total pengeluaran.

Valuasi Sektor Pertanian dan Sinyal Pasar

Di pasar modal, sektor agribisnis mengalami kenaikan indeks sebesar 2,3% dalam sepekan terakhir, didorong ekspektasi kenaikan harga komoditas. Namun, valuasi emiten pakan ternak justru tertekan karena kekhawatiran biaya bahan baku. Rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) sektor konsumsi primer masih berada di level 12,4 kali, relatif stabil dibandingkan rata-rata lima tahun.

Kontra argumen datang dari sebagian ekonom yang menilai kepanikan terhadap El Nino berlebihan. Mereka berpendapat bahwa diversifikasi sumber pasokan dan teknologi pertanian presisi telah meningkatkan ketahanan pangan nasional. Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai USD 149 miliar per September 2026 memberikan ruang untuk impor pangan strategis jika diperlukan, meskipun ini bisa memperlebar defisit neraca perdagangan.

Ke depan, kunci stabilitas harga pangan terletak pada koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pelaku pasar. Transparansi data produksi, respons cepat operasi pasar, serta komunikasi kebijakan yang kredibel akan menentukan apakah El Nino hanya menjadi guncangan sementara atau berubah menjadi krisis pangan yang lebih dalam. Portofolio kebijakan harus adaptif, mengingat tren perubahan iklim global semakin sulit diprediksi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User