Wall Street Anjlok Usai Trump Ancam Blokade Selat Hormuz

NEW YORK — Bursa saham Amerika Serikat mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Senin (13/7) setelah Presiden Donald Trump secara terbuka mengumu

Wall Street Anjlok Usai Trump Ancam Blokade Selat Hormuz

NEW YORK — Bursa saham Amerika Serikat mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Senin (13/7) setelah Presiden Donald Trump secara terbuka mengumumkan rencana blokade terhadap pelayaran Iran di Selat Hormuz. Langkah retorika agresif ini langsung memicu kekhawatiran pasar global akan terganggunya pasokan minyak mentah dunia dan berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kronologi Pengumuman yang Mengguncang Pasar

  1. Pagi hari waktu Washington: Presiden Trump melalui akun media sosialnya menyatakan akan “menutup sepenuhnya” akses kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz sebagai respons terhadap dugaan pelanggaran kesepakatan nuklir oleh Teheran.
  2. Sesi perdagangan AS dibuka: Tiga indeks utama langsung dibuka melemah, dengan Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 450 poin dalam satu jam pertama.
  3. Siang hari: Pentagon menegaskan kesiapan Armada Kelima untuk melaksanakan blokade jika diperintahkan, memicu aksi jual semakin masif.
  4. Penutupan pasar: Dow Jones resmi ditutup anjlok 2,1%, S&P 500 melemah 1,9%, dan Nasdaq terkoreksi 2,3%.

Rincian Pelemahan Sektoral

Seluruh sektor di S&P 500 berakhir di zona merah, namun sektor energi, penerbangan, dan industri menjadi yang paling terpukul. Saham maskapai penerbangan besar seperti Delta Air Lines dan United Airlines anjlok hingga 5% karena kekhawatiran lonjakan biaya bahan bakar. Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,7% ke level US$82,30 per barel, sementara Brent naik 4,2% ke US$85,60 per barel.

“Pasar tidak menyukai ketidakpastian, dan ancaman blokade Selat Hormuz adalah kartu liar paling berbahaya yang bisa dimainkan presiden saat ini. Selat ini adalah arteri utama minyak dunia, dan setiap gangguan akan langsung memukul biaya logistik global,” ujar Michael Hartnett, Kepala Strategi Investasi Bank of America.

Reaksi Iran dan Sekutu

Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negerinya mengecam ancaman tersebut sebagai “pelanggaran hukum internasional” dan menegaskan bahwa setiap upaya blokade akan mendapat respons tegas. Garda Revolusi Iran juga mengeluarkan pernyataan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengamankan Selat Hormuz dan akan melindungi kedaulatan negara.

Sementara itu, Uni Eropa dan China mendesak Washington untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Duta Besar Prancis untuk PBB menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Dampak Potensial pada Ekonomi Global

Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit yang dilalui sekitar 21 juta barel minyak per hari, setara dengan hampir 21% konsumsi minyak global. Blokade terhadap kapal Iran secara langsung dapat mengurangi pasokan hingga 1,5–2 juta barel per hari, cukup untuk mendorong harga minyak naik ke atas US$100 per barel dalam hitungan minggu.

Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak berkelanjutan akan memicu inflasi global, menekan daya beli konsumen, dan menggagalkan rencana bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Skenario terburuk bahkan dapat mendorong resesi di negara-negara pengimpor minyak seperti India dan Jepang.

Analis: Siklus Koreksi Akan Berlanjut

Sejumlah analis Wall Street memproyeksikan volatilitas akan tetap tinggi setidaknya hingga ada kejelasan apakah ancaman Trump akan benar-benar dieksekusi atau sekadar taktik negosiasi. Goldman Sachs merekomendasikan investor untuk mengalihkan portofolio ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah jangka pendek, sementara Morgan Stanley menurunkan peringkat saham transportasi dan perkapalan global.

Riwayat Ketegangan di Selat Hormuz

Ini bukan pertama kalinya ketegangan di Selat Hormuz mengguncang pasar. Pada 2019, serangan terhadap kapal tanker di lepas pantai Uni Emirat Arab sempat mendorong premi risiko minyak melonjak 10%. Namun, ancaman blokade kali ini dinilai lebih serius karena langsung melibatkan otoritas militer AS secara eksplisit.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda eskalasi lebih lanjut di lapangan, namun ketidakpastian telah cukup untuk membuat para pelaku pasar bersikap defensif jelang musim laporan keuangan kuartal kedua. Investor global kini menanti respons resmi dari OPEC+ terkait potensi pelepasan cadangan strategis untuk menstabilkan harga minyak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User