Venezuela Minta Raja Charles III Cairkan Emas Beku 31 Ton
Pemerintah Venezuela secara resmi mengajukan permohonan kepada Raja Charles III untuk mencairkan 31 ton emas batangan milik negara yang saat ini tersimpan di Bank of England. Langkah tersebut diambil ...
Pemerintah Venezuela secara resmi mengajukan permohonan kepada Raja Charles III untuk mencairkan 31 ton emas batangan milik negara yang saat ini tersimpan di Bank of England. Langkah tersebut diambil untuk mendanai upaya rekonstruksi pascagempa dahsyat yang melanda negara Amerika Latin tersebut beberapa pekan lalu. Permohonan langsung kepada kepala monarki Inggris ini menandai eskalasi diplomatik baru di tengah sanksi internasional yang membekukan aset Venezuela di luar negeri.
Menurut dokumen diplomatik yang beredar, surat permohonan dikirimkan melalui Kedutaan Besar Venezuela di London pada awal pekan ini. Dalam surat tersebut, pemerintah Presiden Nicolás Maduro memohon "campur tangan kemanusiaan" dari Kerajaan Inggris agar emas tersebut dapat segera dicairkan dan digunakan untuk menyelamatkan korban gempa serta membangun kembali infrastruktur yang hancur. Emas yang dimaksud merupakan bagian dari cadangan devisa Venezuela yang telah disimpan di Bank of England sejak 2015, namun dibekukan sejak 2019 sebagai bagian dari sanksi yang dijatuhkan oleh Inggris sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat terhadap rezim Maduro.
Latar Belakang Pembekuan Emas
Bank of England menyimpan emas milik puluhan bank sentral dunia di kubah bawah tanahnya. Bagi Venezuela, 31 ton emas tersebut mewakili sekitar 15 persen dari total cadangan emas negara yang tersimpan di luar negeri. Akses terhadap emas itu dihentikan setelah pemerintah Inggris mengakui Juan Guaidó sebagai presiden sementara Venezuela pada 2019, mengikuti kebijakan AS dan sejumlah negara lainnya. Sejak saat itu, pemerintahan Maduro berulang kali berusaha menarik emasnya, namun pengadilan Inggris memutuskan bahwa kepemilikan sah belum jelas karena adanya dualisme klaim kepresidenan. Pada 2023, Mahkamah Agung Inggris memutuskan untuk tetap membekukan emas tersebut meski Guaidó sudah tidak lagi diakui sebagai pemimpin, dengan alasan belum adanya pengakuan resmi atas pemerintahan Maduro dari London.
Ketegangan ini sempat mereda seiring memudarnya isu politik Venezuela di panggung internasional. Namun, gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang negara bagian Sucre pada 28 Maret 2025 mengubah segalanya. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 1.100 jiwa, melukai ribuan orang, dan menghancurkan sekitar 45.000 unit rumah serta fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, dan jembatan. Kerusakan terparah terjadi di kota Cumaná dan Carúpano, yang praktis lumpuh. PBB memperkirakan kebutuhan dana darurat mencapai 2,8 miliar dolar AS, sementara kapasitas fiskal Venezuela sangat terbatas akibat krisis ekonomi berkepanjangan dan isolasi keuangan global.
Permohonan Langsung ke Raja Charles III
Keputusan Venezuela untuk menyurati Raja Charles III secara langsung dianggap tidak biasa. Biasanya, urusan aset beku ditangani melalui jalur hukum atau diplomatik dengan pemerintah Inggris. Namun, berdasarkan konvensi, raja sebagai kepala negara memiliki wewenang simbolis untuk memberikan perhatian kemanusiaan. Dalam suratnya, Presiden Maduro menekankan bahwa pencairan emas tersebut bukan untuk keperluan politik, melainkan semata-mata untuk "menyelamatkan nyawa dan memulihkan kehidupan warga Venezuela yang paling rentan." Belum ada konfirmasi dari Istana Buckingham mengenai surat tersebut, sementara Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris menyatakan "sedang mempelajari situasi kemanusiaan di Venezuela" tanpa menyebut secara spesifik permohonan emas.
Analis politik dari Chatham House, Dr. Rebecca Thornton, mengatakan kepada media bahwa langkah ini cerdas secara taktik. "Dengan menyeret nama Raja, Venezuela mencoba mengeksploitasi citra kemanusiaan monarki untuk menekan pemerintah Inggris. Namun, secara hukum, raja tidak bisa begitu saja memerintahkan Bank of England untuk menyerahkan aset negara lain. Keputusan ada di tangan pemerintah yang bersandar pada rezim sanksi PBB, AS, dan UE," jelasnya. Di sisi lain, para pengacara internasional menyoroti bahwa klaim kemanusiaan dapat membuka celah hukum melalui pengadilan hak asasi manusia, jika Venezuela dapat membuktikan bahwa pembekuan aset mengakibatkan pelanggaran serius terhadap hak hidup warganya.
Dampak Ekonomi dan Politik
Jika emas senilai sekitar 2 miliar dolar AS (berdasarkan harga pasar saat ini) itu benar-benar dicairkan, itu akan menjadi injeksi likuiditas besar bagi Venezuela yang saat ini hanya memiliki cadangan devisa sekitar 4 miliar dolar AS. Dana tersebut dapat mempercepat distribusi bantuan, pembangunan tempat tinggal sementara, dan pemulihan layanan dasar. Pasar keuangan global mencermati perkembangan ini dengan hati-hati karena akan menciptakan preseden bagi negara-negara lain yang terkena sanksi seperti Rusia atau Iran untuk menuntut akses ke aset mereka yang dibekukan dengan alasan kemanusiaan.
Di kancah domestik, langkah ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Venezuela yang berduka. Media pemerintah menampilkan surat tersebut sebagai bukti perjuangan kedaulatan di tengah "blokade imperialis". Namun, oposisi yang tersisa tetap skeptis, menuduh Maduro memanfaatkan tragedi untuk kepentingan politik menjelang pemilu 2026. Mereka mengingatkan bahwa Venezuela masih harus menyelesaikan utang luar negeri yang menumpuk dan menyelesaikan sengketa hukum sebelum aset apa pun bisa disentuh.
Prospek ke Depan
Para pengamat memperkirakan bahwa jawaban dari London tidak akan segera datang. Meskipun tekanan kemanusiaan meningkat, pemerintah Inggris yang dipimpin Partai Konservatif cenderung mempertahankan sanksi sebagai alat tekanan politik. Diperlukan lobi internasional yang kuat dari negara-negara sekutu Venezuela seperti Rusia, Tiongkok, atau negara-negara Karibia yang tergabung dalam CARICOM untuk memperjuangkan pencairan parsial dengan mekanisme pengawasan ketat. "Ini bukan hanya soal emas, tapi soal sinyal geopolitik yang lebih luas," kata Thornton. "Jika Raja Charles mengindahkan permohonan ini, itu akan menjadi pukulan besar bagi arsitektur sanksi global."
Sementara itu, korban gempa masih menunggu di tenda-tenda darurat dengan harapan tipis. Di tengah puing-puing kota Cumaná, emas 31 ton itu terasa seperti harta karun yang mustahil—terkunci di kubah bawah tanah London, ribuan kilometer dari mereka yang sangat membutuhkan.
Comments (0)