Pantai Parangkusumo — 17 Negara Ramaikan Festival Layang-Layang Internasional

Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, mendadak berubah menjadi galeri seni langit pada akhir pekan lalu. Ratusan lembar kain, kertas, dan plastik ringan

Pantai Parangkusumo — 17 Negara Ramaikan Festival Layang-Layang Internasional

Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, mendadak berubah menjadi galeri seni langit pada akhir pekan lalu. Ratusan lembar kain, kertas, dan plastik ringan membentang di angkasa, menari-nari di bawah komando angin selatan yang konstan. Di atas pasir hitam yang menghampar, para pelayang dari pelbagai penjuru bumi berkumpul: inilah pembukaan Festival Layang-Layang Internasional 2025, sebuah perayaan yang telah menjadi penanda musim dan magnet wisata bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Deru ombak yang biasanya merajai lanskap suara, kini bersahut-sahutan dengan teriakan kegirangan anak-anak dan obrolan akrab para peserta yang sibuk mengulur benang.

Mat Syukur (53), seorang pelayang asal Piyungan, tersenyum lebar ketika diajak bicara di sela-sela menerbangkan layang-layang gapangan raksasanya. “Saya sudah lima kali ikut festival ini. Tiap tahun ada saja peserta baru dari negara yang berbeda,” katanya, matanya tak lepas dari layangannya yang meliuk-liuk di ketinggian. Di sekitar Mat, puluhan layang-layang tradisional Jawa dan kreasi modern saling berpacu memperebutkan perhatian pengunjung. Ada yang berbentuk naga, burung phoenix, hingga replika tokoh kartun yang membuat anak-anak berdecak kagum.

Lintas Benua dalam Seutas Benang

Panitia mencatat, 17 negara mengirimkan wakilnya tahun ini — jumlah tertinggi sepanjang sejarah penyelenggaraan. Tidak hanya dari kawasan Asia seperti Jepang, Malaysia, Thailand, dan India, tetapi juga dari Belanda, Jerman, Polandia, hingga Brasil. Setiap kontingen membawa kekhasan masing-masing. Tim dari Jepang, misalnya, datang dengan Wan-wan dan Edo — layangan tradisional berbentuk persegi panjang yang dihiasi lukisan samurai — sementara peserta asal Belanda memamerkan stunt kites dua tali yang mampu melakukan manuver akrobatik di udara, berputar-putar dengan presisi mengagumkan.

“Kami sangat terkejut dengan respons internasional tahun ini. Sebenarnya hanya menargetkan 12 negara, tetapi pendaftar terus berdatangan hingga seminggu sebelum acara. Ini bukti bahwa festival layang-layang tradisional kita mampu bersaing dan menjadi daya tarik wisata budaya. Apalagi, Pantai Parangkusumo punya karakter angin yang sangat cocok — stabil dan cukup kencang untuk mengangkat layangan besar,” tutur Budi Santoso, Ketua Panitia Festival, saat ditemui di sela acara.

Kehadiran para pelayang mancanegara bukan sekadar soal jumlah. Seorang peserta asal Jerman, Klaus Weber, mengaku telah tiga kali mengikuti festival serupa di Asia, namun Parangkusumo punya keistimewaan tersendiri. “Pasirnya yang halus dan anginnya yang ideal membuat kami bisa menerbangkan layangan apa pun. Tapi yang paling saya suka adalah kehangatan panitia dan warga lokal. Mereka memperlakukan kami seperti keluarga, bukan sekadar kompetitor,” cerita Weber sembari menyiapkan layangan delta raksasa berukuran 8 meter. Interaksi semacam ini menegaskan bahwa festival tidak hanya mempertemukan layangan, tetapi juga manusia dan hati mereka.

Ekonomi yang Mengudara

Di sisi lain pantai, barisan warung semipermanen dan pedagang kaki lima turut merasakan berkah. Sumarni, penjual sate lilit asal Kretek, mengaku pendapatannya naik hingga tiga kali lipat sepanjang akhir pekan festival. “Biasanya sepi, paling ramai saat libur panjang. Tapi selama festival ini, dari pagi sampai magrib pembeli antre. Banyak turis asing yang penasaran dengan jajanan tradisional,” ujarnya sembari melayani pengunjung yang mengantre. Kehadiran penginapan dan hotel di kawasan Bantul dan sekitarnya juga mengalami peningkatan okupansi yang signifikan, terutama dari peserta dan wisatawan yang sengaja datang dari luar kota. Dinas Pariwisata DIY mencatat, festival ini berkontribusi pada peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara pada kuartal ketiga, sejalan dengan strategi pengembangan sport tourism dan wisata minat khusus yang tengah digalakkan pemerintah daerah.

Merawat Tradisi di Tengah Modernitas

Di tengah kemeriahan, terselip pesan konservasi budaya yang dalam. Workshop pembuatan layang-layang dari bahan alami — bambu, benang katun, dan kertas daur ulang — disediakan gratis bagi anak-anak dan remaja. Puluhan anak tampak serius mengikuti instruksi para seniman pelayang senior. “Kami ingin anak-anak tidak hanya bisa bermain gawai, tetapi juga mengenal tradisi yang sarat filosofi ini. Menerbangkan layang-layang itu sederhana, tetapi bisa mengajarkan tentang keseimbangan, ketekunan, dan harmoni dengan alam,” jelas Ratri, seorang instruktur dari Komunitas Pelayang Yogyakarta.

Festival yang berlangsung selama dua hari ini juga menyisipkan kompetisi layang-layang tradisional dua dimensi dan tiga dimensi, yang menuntut ketelitian tinggi dalam konstruksi dan teknik pengendalian. Juri tidak hanya menilai keindahan visual, tetapi juga stabilitas, sudut terbang, dan ketahanan di udara. Para pemenang dari masing-masing kategori mendapatkan trofi sederhana — terbuat dari anyaman bambu — sebagai simbol bahwa festival ini tetap menjunjung tinggi akar tradisi. Puncak acara ditandai dengan penerbangan bersama ratusan layangan berlampu LED saat senja beranjak malam, menciptakan pemandangan yang seperti negeri dongeng di atas pesisir Parangkusumo. Lampu-lampu kecil itu seakan menjadi bintang-bintang buatan yang turun menyapa bumi, membuat seluruh pengunjung berdecak dan mengabadikan momen dengan kamera mereka.

Ketika malam semakin larut dan satu per satu layangan ditarik turun, gemuruh ombak kembali mendominasi. Namun, kehangatan dan semangat yang tercipta di tepi pantai itu tak akan mudah luntur. Festival ini adalah pengingat bahwa di era yang serba digital, keindahan sederhana dari seutas benang dan selembar kertas tetap mampu menyatukan banyak orang dari seluruh dunia. Pantai Parangkusumo, dengan segala legenda dan pesonanya, telah menjadi saksi: bahwa langit adalah kanvas bersama, dan semua orang diundang untuk melukisnya.

[SOCIAL_TWEET]: Langit Pantai Parangkusumo jadi galeri seni! 17 negara unjuk gigi di Festival Layang-Layang Internasional—dari Jepang hingga Brasil bawa kreasi uniknya.🌬️🪁 #LayangLayang #Parangkusumo #WonderfulIndonesia [SOCIAL_TG]: 🪁 FESTIVAL LAYANG-LAYANG INTERNASIONAL 2025 — Langit Parangkusumo berubah jadi panggung budaya! 17 negara hadir, mulai dari Jepang, Jerman, hingga Brasil. Selain melihat layangan raksasa dan akrobatik, ada juga workshop tradisional untuk anak-anak. Angin selatan yang khas membuat pantai ini jadi lokasi favorit para pelayang dunia. 🌊✨

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User