Oct 14, 2026
Bisnis

Vietnam Melaju 8 Persen, Indonesia Tertahan di 5 Persen

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pembanding regional dari kantor statistik Vietnam, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu berkisar 5,0 persen secara year-on-year. Angka it...

Vietnam Melaju 8 Persen, Indonesia Tertahan di 5 Persen

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pembanding regional dari kantor statistik Vietnam, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun lalu berkisar 5,0 persen secara year-on-year. Angka itu terpaut jauh dari Vietnam yang mencatat ekspansi sekitar 8 persen pada periode yang sama. Selisih tiga poin persentase bukan sekadar angka di atas kertas. Dalam bahasa sederhana, ekonomi Vietnam bergerak hampir dua kali lebih cepat dibanding Indonesia, dan dalam sepuluh tahun selisih itu menumpuk menjadi perbedaan tingkat kesejahteraan yang signifikan.

Pertanyaan yang kemudian muncul: apa yang membuat mesin ekonomi Indonesia melaju lebih lambat dari tetangga yang dulu tertinggal? Jawabannya tidak tunggal, dan justru di situ letak persoalannya.

Struktur Industri dan Nilai Tambah

Di satu sisi, Vietnam berhasil membangun fondasi manufaktur berorientasi ekspor dengan disiplin yang konsisten. Nilai ekspor Vietnam menembus 370 miliar dolar AS, dengan kontribusi besar dari elektronik, tekstil, dan alas kaki. Perusahaan multinasional seperti Samsung menempatkan pabrik terbesarnya di sana, bukan semata karena upah murah, melainkan karena kepastian regulasi dan infrastruktur kawasan industri yang matang.

Di sisi lain, Indonesia masih bergulat dengan deindustrialisasi dini. Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menurun dari sekitar 27 persen pada awal 2000-an menjadi sekitar 18-19 persen dalam beberapa tahun terakhir. Komoditas mentah, terutama batu bara, kelapa sawit, dan nikel, masih mendominasi ekspor. Artinya, nilai tambah yang dinikmati Indonesia relatif lebih rendah karena barang setengah jadi dan produk akhir lebih banyak diolah di luar negeri.

"Negara yang berhasil naik kelas adalah negara yang berhasil mengubah komoditas menjadi produk, bukan sekadar menambang dan mengirimnya keluar," catat sejumlah ekonom pembangunan dalam berbagai kajian struktural.

Iklim Investasi dan Kepastian Hukum

Pro: Indonesia memiliki pasar domestik yang jauh lebih besar, sekitar 275 juta jiwa dibanding Vietnam yang sekitar 100 juta. Bonus demografi Indonesia juga masih berlangsung hingga sekitar 2030-an, dengan rasio ketergantungan yang rendah. Ini fundamental yang tidak dimiliki Vietnam dalam skala serupa.

Kontra: pasar besar tidak otomatis menarik investasi berkualitas. Rasio investasi terhadap PDB Indonesia masih tertinggal, dan capital outflow di pasar keuangan sempat membayangi stabilitas nilai tukar. Indeks kemudahan berusaha Indonesia juga masih di bawah Vietnam pada beberapa indikator, terutama kepastian kontrak dan kecepatan perizinan di daerah. Ketidakpastian regulasi membuat pelaku usaha menahan ekspansi, sehingga likuiditas di sektor riil tidak bergerak optimal.

Produktivitas dan Kualitas Sumber Daya

Faktor lain yang sering luput adalah produktivitas tenaga kerja. Output per pekerja Indonesia masih berada di bawah Vietnam pada sektor manufaktur padat karya modern. Vietnam secara agresif mengirim tenaga kerja muda untuk pelatihan teknis dan vokasi, sementara Indonesia menghadapi tantangan ketidaksesuaian keterampilan antara lulusan dan kebutuhan industri.

Dari sisi infrastruktur, Vietnam gencar membangun jalan tol, pelabuhan, dan kawasan industri terintegrasi dalam dua dekade terakhir. Indonesia juga berinvestasi besar, namun biaya logistik nasional masih berkisar 14-23 persen dari PDB, jauh lebih tinggi dari rata-rata negara ASEAN lain. Logistik yang mahal menggerus margin eksportir dan memperlemah daya saing.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

Proyeksi pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan di kisaran 5,2-5,5 persen dalam beberapa tahun ke depan. Untuk menyamai Vietnam, Indonesia membutuhkan lompatan struktural, bukan sekadar stimulus jangka pendek. Reformasi perizinan, hilirisasi yang lebih dalam, dan penguatan sektor manufaktur padat teknologi menjadi kunci.

Sentimen pasar terhadap Indonesia sebenarnya masih relatif stabil. Peringkat utang berada di level investment grade, dan cadangan devisa cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun valuasi aset domestik belum sepenuhnya mencerminkan potensi karena investor menunggu bukti konsistensi kebijakan.

Kesimpulan seimbangnya begini: Vietnam unggul dalam eksekusi dan orientasi ekspor, sementara Indonesia unggul dalam skala pasar dan sumber daya alam. Yang menentukan siapa melaju lebih cepat bukanlah besarnya modal awal, melainkan kecepatan reformasi dan kemampuan mengubah komoditas menjadi produk bernilai tinggi. Selama selisih produktivitas dan iklim investasi tidak diperbaiki, tren tiga poin persentase ini berpotensi bertahan, dan jarak kesejahteraan akan terus melebar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User