UMKM Neng Mae Bersiap Ekspor Oleh-Oleh Khas Jakarta ke Jepang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2025, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto ...

Aug 10, 2026 - 16:01
0 0
UMKM Neng Mae Bersiap Ekspor Oleh-Oleh Khas Jakarta ke Jepang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2025, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap hampir 97 persen tenaga kerja di Tanah Air. Fundamental sektor ini kembali menjadi sorotan setelah sejumlah pelaku usaha kecil menunjukkan tren ekspansi ke pasar internasional. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Neng Mae, produsen oleh-oleh khas Jakarta yang dikembangkan oleh Umairah.

Usaha tersebut mencatatkan omzet sekitar Rp 125 juta per bulan atau setara Rp 1,5 miliar per tahun. Angka ini menempatkan Neng Mae pada segmen usaha kecil-menengah yang sehat, mengingat perputaran usaha kuliner rumahan umumnya berada di kisaran Rp 20 juta hingga Rp 100 juta per bulan. Selain membukukan kinerja komersial, usaha ini juga memberdayakan masyarakat sekitar dalam rantai produksinya, sehingga dampak ekonominya bersifat multiplier, yakni efek berantai yang menggerakkan ekonomi lokal di sekitarnya.

Kini, Neng Mae tengah menyiapkan langkah ekspor ke Jepang. Rencana ini sejalan dengan tren yang mengalami kenaikan pada permintaan produk makanan olahan Indonesia di Negeri Sakura, khususnya kategori camilan dan produk halal.

Fundamental UMKM dan Dukungan Kebijakan

Di satu sisi, prospek ekspor UMKM mendapat angin segar dari sejumlah indikator makro. Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp 15.800 hingga Rp 16.300 per dolar AS sepanjang tahun berjalan cenderung menguntungkan eksportir, karena produk domestik menjadi lebih kompetitif secara harga di pasar global. Selain itu, Indonesia dan Jepang telah memiliki kerangka Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) yang memangkas sejumlah hambatan tarif perdagangan.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas nasional berada di kisaran 15 persen, masih jauh di bawah Thailand yang mencapai sekitar 29 persen. Kesenjangan rasio ini justru menjadi ruang pertumbuhan. Pemerintah melalui program kurasi, pendampingan, dan fasilitasi pameran dagang terus mendorong produk lokal menembus pasar ekspor.

Peluang Pasar Jepang: Pro dan Kontra

Dari sisi peluang, Jepang merupakan salah satu ekonomi terbesar dunia dengan PDB sekitar 4,2 triliun dolar AS dan daya beli konsumen yang tinggi. Tren penuaan populasi dan gaya hidup praktis mendorong permintaan makanan kemasan, termasuk produk etnik. Sentimen pasar terhadap produk halal juga mengalami kenaikan, dengan pasar makanan halal di Jepang diproyeksikan tumbuh di atas 5 persen year-on-year.

Namun di sisi lain, tantangannya tidak kecil. Standar keamanan pangan Jepang termasuk yang paling ketat di dunia, dengan regulasi residu, pelabelan, dan kemasan yang sangat rinci. Biaya sertifikasi, uji laboratorium, serta kepatuhan dokumen dapat mencapai puluhan juta rupiah per produk — beban signifikan bagi UMKM dengan skala omzet Rp 125 juta per bulan. Belum lagi risiko fluktuasi kurs yen terhadap rupiah yang dapat menggerus margin apabila tidak dilindungi dengan lindung nilai (hedging), yaitu strategi mengunci nilai tukar demi meredam risiko kerugian akibat pergerakan kurs.

"Ekspansi UMKM ke pasar ekspor selalu berhadapan dengan dua mata pisau: margin yang lebih tinggi, tetapi juga standar kepatuhan yang jauh lebih berat. Kuncinya adalah kesiapan rantai pasok dan konsistensi kualitas, bukan sekadar euforia pasar," ujar seorang pengamat ekonomi UMKM dari lembaga riset kebijakan publik di Jakarta.

Proyeksi dan Catatan bagi Pelaku Usaha

Secara proyeksi, apabila Neng Mae berhasil menembus pasar Jepang dengan portofolio produk yang terkurasi, potensi kenaikan omzet dapat mencapai 20 hingga 30 persen dalam dua tahun pertama, merujuk pola ekspansi UMKM kuliner yang lebih dulu masuk ke Asia Timur. Valuasi pasar camilan Indonesia di Jepang sendiri masih relatif kecil, sehingga ruang tumbuh terbuka lebar bagi pemain baru.

Kendati demikian, sejumlah analis menilai langkah bertahap lebih realistis: memulai dari kanal komunitas diaspora Indonesia di Jepang, menguji sentimen pasar melalui pameran dagang, lalu meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap. Likuiditas usaha juga perlu dijaga agar ekspansi tidak mengganggu arus kas operasional domestik yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan.

Kisah Neng Mae pada akhirnya mencerminkan dua wajah ekonomi rakyat Indonesia: daya tahan UMKM yang tangguh di pasar domestik, sekaligus ambisi menembus panggung global. Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kesiapan kelembagaan, akses pembiayaan, dan pendampingan regulasi — bukan semata oleh besarnya peluang pasar di negeri tujuan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User