UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, BRI Perluas Dampak Pemberdayaan

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan total kontri...

Oct 10, 2026 - 18:22
0 0
UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, BRI Perluas Dampak Pemberdayaan

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan total kontribusi mencapai Rp9.580 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi ekspor UMKM baru menyentuh angka 15,7 persen dari total ekspor nasional — sebuah rasio yang masih relatif rendah dibandingkan negara tetangga seperti Thailand yang menembus 30 persen. Data ini menjadi konteks penting untuk memahami mengapa kisah penetrasi pasar internasional oleh pelaku usaha daerah, seperti yang dilakukan sebuah UMKM kuliner asal Sumatera Utara, layak dicermati lebih dalam.

Peran Perbankan dalam Mendorong Ekspor UMKM

Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit segmen UMKM sebesar 9,4 persen year-on-year pada kuartal III 2024, dengan total portofolio mencapai Rp1.106 triliun. Angka ini menempatkan BRI sebagai salah satu institusi dengan eksposur terbesar terhadap sektor produktif mikro di Indonesia. Program pemberdayaan yang menyertai pembiayaan tersebut mencakup pelatihan standardisasi produk, sertifikasi ekspor, hingga pendampingan akses pasar digital lintas negara.

Di satu sisi, pendekatan ini menunjukkan bahwa likuiditas perbankan mulai mengalir lebih merata ke sektor riil, terutama bagi pelaku usaha yang sebelumnya terkendala akses pembiayaan formal. Sebuah UMKM kuliner daerah yang kini menembus pasar mancanegara menjadi ilustrasi konkret bahwa modal, pendampingan, dan jejaring distribusi dapat berjalan bersamaan. Ekspansi semacam ini turut mendorong diversifikasi ekspor non-migas yang menjadi tumpuan ketahanan eksternal Indonesia.

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa keberhasilan individual tidak otomatis mencerminkan perbaikan struktural. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan nasional masih berada di kisaran 19 persen, jauh dari target pemerintah sebesar 30 persen. Selain itu, biaya logistik domestik yang mencapai 14,3 persen dari PDB — menurut data Bank Dunia — tetap menjadi penghambat utama daya saing produk UMKM di pasar global.

Fundamental Versus Sentimen Pasar

Dari kacamata fundamental, pemberdayaan UMKM berorientasi ekspor memiliki multiplier effect yang signifikan: penyerapan tenaga kerja, peningkatan devisa, dan penguatan industri pendukung di daerah. Namun dari sisi sentimen pasar, volatilitas nilai tukar rupiah dan ketidakpastian permintaan global masih menjadi variabel yang sulit diprediksi. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang direvisi turun menjadi 3,2 persen oleh IMF pada 2024 memperbesar risiko bagi eksportir pemula.

"UMKM yang mampu bertahan di pasar ekspor adalah mereka yang tidak hanya kuat dari sisi produksi, tetapi juga memiliki ketahanan finansial dan kemampuan adaptasi terhadap standar internasional," ujar seorang analis ekonomi perbankan.

Dalam konteks inilah valuasi program pemberdayaan perlu dilihat secara berimbang. Keberhasilan satu-dua pelaku usaha menunjukkan potensi, tetapi skalabilitasnya bergantung pada ekosistem yang lebih luas: regulasi ekspor yang sederhana, akses pembiayaan berkelanjutan, dan infrastruktur logistik yang efisien. Tanpa itu, kisah sukses cenderung bersifat sporadis dan sulit direplikasi secara masif.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Pro: meningkatnya penetrasi digital dan kemitraan perbankan membuka ruang ekspansi lebih luas bagi UMKM daerah. Kontra: tanpa perbaikan struktural pada biaya logistik dan akses pasar, pertumbuhan ekspor UMKM berpotensi stagnan di kisaran 16 persen terhadap total ekspor nasional.

Ke depan, indikator yang perlu dicermati adalah pertumbuhan kredit UMKM perbankan, indeks kepercayaan pelaku usaha, serta realisasi ekspor non-migas dari sektor makanan olahan. Jika tren positif berlanjut, kontribusi UMKM terhadap devisa negara dapat naik signifikan dalam tiga hingga lima tahun mendatang. Namun bila capital outflow dan pelemahan permintaan global berlanjut, pelaku usaha perlu memperkuat strategi lindung nilai dan diversifikasi pasar tujuan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User