Oct 10, 2026
Bisnis

UMKM Fesyen Lontara dan Tantangan Literasi Bisnis

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia menembus angka 66 juta unit, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto ...

UMKM Fesyen Lontara dan Tantangan Literasi Bisnis

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia menembus angka 66 juta unit, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto mencapai sekitar 61 persen. Sektor fesyen menjadi salah satu penopang utama, namun menghadapi persoalan klasik: kapasitas manajerial yang belum setara dengan kreativitas produk. Fenomena ini tergambar dari perjalanan sebuah usaha fesyen di Sulawesi Selatan yang mengangkat aksara Lontara sebagai identitas visualnya.

Pelaku usaha bernama As'ad menyadari satu hal mendasar: kemampuan mengelola bisnis tidak kalah penting dibanding kemampuan mendesain produk. Kesadaran ini muncul setelah ia menekuni lini usaha yang memadukan wastra tradisional dengan aksara kuno Bugis-Makassar tersebut. Persoalannya, tidak semua perajin dan pelaku UMKM memiliki akses terhadap pelatihan pembukuan, manajemen arus kas, maupun strategi pemasaran digital.

Di Satu Sisi: Potensi Ekonomi Warisan Budaya

Di satu sisi, pengangkatan aksara Lontara ke dalam produk fesyen membuka ruang nilai tambah yang signifikan. Sebuah kaus atau tote bag yang semula dijual dengan harga Rp75.000 dapat meningkat valuasinya menjadi Rp150.000 hingga Rp250.000 ketika diberi narasi budaya yang kuat. Ini sejalan dengan tren ekonomi kreatif yang tumbuh 7 persen year-on-year berdasarkan proyeksi Badan Ekonomi Kreatif sebelum dilebur ke kementerian.

Sentimen pasar terhadap produk berbasis kearifan lokal memang sedang positif. Generasi muda, terutama kelompok usia 18 hingga 35 tahun, menjadi segmen dengan pertumbuhan belanja produk lokal tertinggi. Survei internal salah satu platform e-commerce pada 2023 mencatat kenaikan transaksi kategori fesyen lokal sebesar 42 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini menjadi fundamental yang kuat bagi UMKM seperti Ripuji Lontaratta untuk memperluas portofolio pasar.

"Produk budaya punya cerita. Cerita itulah yang menjadi pembeda di pasar yang makin jenuh," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam sebuah diskusi publik di Makassar.

Di Sisi Lain: Kesenjangan Literasi Manajerial

Di sisi lain, kreativitas tanpa kemampuan manajerial kerap berujung pada stagnasi. Data dari sebuah lembaga pendamping UMKM menunjukkan bahwa sekitar 60 persen usaha mikro di sektor kerajinan dan fesyen tidak memiliki pencatatan keuangan terpisah antara kas usaha dan kas rumah tangga. Akibatnya, penghitungan laba menjadi kabur, dan keputusan ekspansi diambil berdasarkan intuisi semata.

Persoalan likuiditas juga menjadi momok. Modal kerja untuk membeli bahan baku sering kali tergerus kebutuhan konsumsi harian. Tanpa pemahaman mengenai rasio keuangan sederhana, pelaku usaha sulit mengukur berapa sebenarnya margin yang diperoleh dari setiap unit produk yang terjual. Ini menjelaskan mengapa banyak UMKM tumbuh cepat di awal, tetapi sulit bertahan melewati tahun kelima.

As'ad sendiri mengakui bahwa titik balik usahanya terjadi ketika ia mulai mempelajari dasar-dasar pengelolaan bisnis. Ia tidak lagi sekadar memproduksi, tetapi juga menghitung biaya produksi per unit, menetapkan harga berdasarkan nilai tambah, dan memisahkan arus kas. Pendekatan ini membuat usahanya lebih tahan terhadap fluktuasi permintaan, terutama pada periode-periode sepi pesanan.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Ke depan, prospek UMKM fesyen berbasis budaya masih terbuka lebar. Proyeksi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang berkisar 15 hingga 20 persen per tahun menjadi katalis bagi pelaku usaha yang mampu beradaptasi dengan kanal daring. Namun, tanpa intervensi pada aspek literasi bisnis, potensi tersebut berisiko tidak terkonversi menjadi kesejahteraan yang merata.

Kombinasi antara kekayaan warisan budaya dan kapasitas manajerial yang memadai menjadi kunci. Selama kedua aspek ini berjalan seiring, UMKM seperti Ripuji Lontaratta bukan hanya bertahan, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian aksara Lontara melalui medium yang relevan dengan pasar kontemporer.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User