Tren Harga Minyak Melandai, Fundamental Neraca Dagang RI Membaik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2024, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 4,7 miliar, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun ...

Aug 14, 2026 - 04:51
0 0
Tren Harga Minyak Melandai, Fundamental Neraca Dagang RI Membaik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2024, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 4,7 miliar, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar USD 2,1 miliar. Tren positif ini terjadi seiring dengan melandainya harga minyak mentah global di bawah level USD 80 per barel, jauh dari puncaknya di atas USD 100 per barel pada 2022 lalu. Sentimen pasar global yang mulai menyesuaikan ekspektasi suku bunga dan menurunnya tekanan likuiditas memberikan ruang bagi ekonomi domestik untuk memperbaiki rasio ketergantungan terhadap impor energi.

Di satu sisi, penurunan harga minyak mentah secara langsung mengurangi beban tagihan impor bahan bakar dan minyak mentah yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama defisit struktural. Di sisi lain, melandainya harga komoditas energi juga mencerminkan memudarnya momentum permintaan global, yang berpotensi menekan harga ekspor non-migas lainnya termasuk batubara dan nikel. Dinamika ini menciptakan tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan surplus neraca dagang di tengah perlambatan ekonomi dunia.

Dampak Penurunan Harga Minyak terhadap Struktur Impor

Indonesia yang statusnya sebagai net oil importer atau importir minyak bersih, sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global. Setiap penurunan harga minyak sebesar 10 persen diperkirakan dapat memangkas nilai impor energi hingga USD 1,2 miliar per bulan, berdasarkan hitungan rasio korelasi historis antara indeks harga minyak Brent dan nilai impor migas BPS. Pada semester pertama 2024, komponen impor migas mengalami penurunan 12,3 persen year-on-year menjadi USD 18,4 miliar, menciptakan ruang fiskal yang lebih longgar bagi pemerintah untuk mengalokasikan belanja subsidi dan investasi infrastruktur.

Pro: Melandainya harga minyak memperbaiki fundamental neraca pembayaran Indonesia dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Valuasi mata uang domestik yang lebih stabil akan menarik aliran portofolio asing dan mengurangi risiko capital outflow yang sempat mengganggu stabilitas pasar keuangan pada kuartal sebelumnya. Kontra: Ketergantungan pada faktor eksternal harga minyak justru menunjukkan kerentanan struktural ekonomi nasional yang belum berhasil mengurangi konsumsi energi fosil. Jika harga minyak kembali melonjak akibat ketegangan geopolitik, defisit dagang berpotensi membengkak kembali sebelum sempat dikonsolidasikan.

Kontribusi Sektor Pertanian dan Perkebunan

Sementara komponen impor migas melandai, ekspor sektor pertanian dan perkebunan justru menunjukkan tren menguat yang menjadi penyangga utama penguatan neraca dagang. Berdasarkan data BPS, ekspor kelapa sawit mentah (CPO) dan turunannya mencapai USD 14,8 miliar pada periode Januari-Juni 2024, mengalami kenaikan 8,7 persen year-on-year. Tidak hanya CPO, komoditas karet, kakao, dan kopi juga mencatatkan pertumbuhan ekspor double digit didorong oleh permintaan dari pasar India, Tiongkok, dan Uni Eropa yang mulai membangun kembali stok pascapandemi.

Di satu sisi, kebangkitan sektor perkebunan memberikan diversifikasi basis ekspor yang selama ini terlalu dominasi oleh sektor pertambangan dan manufaktur. Peningkatan ekspor pertanian juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja di pedesaan dan meningkatkan pendapatan petani. Di sisi lain, ketergantungan pada komoditas primer tetap membawa risiko volatilitas harga dan perubahan regulasi di pasar tujuan, seperti kebijakan deforestasi Uni Eropa yang dapat memengaruhi akses pasar CPO Indonesia di masa depan.

Proyeksi dan Risiko Mempertahankan Surplus

Meskipun tren neraca dagang menunjukkan perbaikan, para pelaku pasar perlu mewaspadai beberapa risiko yang bisa membalikkan kondisi surplus dalam jangka pendek. Proyeksi Bank Indonesia menunjukkan bahwa jika harga minyak global stabil di kisaran USD 75–80 per barel hingga akhir tahun, Indonesia berpeluang mencatatkan surplus neraca dagang penuh sebesar USD 35–40 miliar pada 2024, naik dari USD 30,1 miliar pada 2023. Namun, indeks harga komoditas pertanian yang fluktuatif dan potensi El Nino yang memperpanjang musim kemarau bisa menekan volume panen dan mengurangi momentum ekspor perkebunan pada kuartal ketiga.

"Perbaikan neraca dagang saat ini didorong oleh kombinasi faktor harga yang bersifat siklis. Untuk menjaga fundamental jangka panjang, diperlukan akselerasi hilirisasi sektor pertanian dan pengurangan ketergantungan impor energi melalui transisi energi terbarukan," ujar ekonom senior.

Di satu sisi, arus capital outflow dari pasar negara berkembang mulai mereda seiring ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, sehingga likuiditas global yang lebih melimpah dapat mendukung stabilitas rupiah dan daya beli impor. Di sisi lain, perlambatan ekonomi Tiongkok yang masih dalam tren koreksi berpotensi menurunkan permintaan terhadap komoditas andalan Indonesia, baik dari sektor pertambangan maupun perkebunan. Oleh karena itu, keberlanjutan surplus sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memanfaatkan jendela peluang ini untuk memperkuat struktur ekspor dan meningkatkan rasio nilai tambah domestik sebelum siklus harga komoditas global kembali berubah arah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User