TOTON Tutup Mulia in Fashion 2026 dengan Koleksi KALA

Gelaran Mulia in Fashion 2026 resmi mencapai puncaknya pada Kamis malam, 10 Juli 2026, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Menjadi penutup rangkaian pekan mod

TOTON Tutup Mulia in Fashion 2026 dengan Koleksi KALA

Gelaran Mulia in Fashion 2026 resmi mencapai puncaknya pada Kamis malam, 10 Juli 2026, di Hotel Mulia Senayan, Jakarta. Menjadi penutup rangkaian pekan mode bergengsi itu, rumah mode TOTON mempersembahkan koleksi terbaru bertajuk “KALA” di hadapan para pecinta fesyen, selebritas, dan pemangku kepentingan industri kreatif. Di bawah arahan desainer Toton Januar, peragaan ini tidak sekadar menampilkan busana—ia merangkai kisah tentang waktu, warisan, dan keindahan abadi dalam balutan wastra Nusantara.

Koleksi ‘KALA’: Ketika Waktu Menjadi Inspirasi

Mengambil filosofi dari kata “kala” yang berarti waktu, koleksi ini mengeksplorasi gagasan bahwa waktu bukanlah garis lurus, melainkan sebuah siklus yang terus berputar—sebagaimana tradisi tenun dan batik yang diwariskan turun-temurun. Toton Januar menuangkan konsep itu ke dalam 36 tampilan yang merefleksikan perjalanan temporal: dari masa lalu yang klasik, kini yang dinamis, hingga masa depan yang penuh harapan. Siluet asimetris, potongan longgar yang mengalir, dan detail pleats yang rumit menjadi ciri dominan, memperlihatkan bagaimana TOTON terus mendobrak pakem busana modest kontemporer.

Di atas runway, mata penonton dimanjakan oleh palet warna yang terinspirasi dari langit senja nusantara: merah saga, jingga tembaga, biru indigo, dan sentuhan emas yang menyala. Material utama yang digunakan mencakup tenun ikat Sumba, songket Palembang, batik tulis Lasem, serta katun organik bersertifikat lokal—menegaskan kembali komitmen TOTON terhadap keberlanjutan dan pemberdayaan pengrajin lokal.

Kemegahan di Atas Runway

Panggung dirancang minimalis dengan instalasi cahaya menyerupai garis-garis waktu, sementara alunan musik elektronik yang dipadukan dengan instrumen gamelan menciptakan atmosfer mistis namun futuristik. Model-model melenggang dengan aksesori kalung logam besar bermotif kala cakra, gelang anyaman rotan, dan tas selempang mini berbentuk bulan sabit—simbol siklus waktu yang menjadi benang merah koleksi.

Salah satu momen paling mengundang tepuk tangan adalah ketika seorang model keluar dalam balutan gaun pengantin berbahan tenun ikat berwarna ecru dengan bordiran benang emas bertabur mutiara air tawar. Detil payet yang disusun membentuk pola bintang jatuh seakan mengingatkan bahwa setiap momen—seperti detik-detik menuju pernikahan—adalah titik temu antara masa lalu dan masa depan.

Warisan Budaya dan Modernitas dalam Satu Tarikan Napas

Di balik panggung, Toton Januar mengungkap filosofinya kepada media.

“KALA adalah refleksi saya tentang bagaimana waktu bekerja dalam budaya kita. Tradisi menenun, membatik, menyulam—itu semua adalah dialog antar generasi. Saya ingin menampilkan bahwa warisan itu tidak pernah usang; ia bisa terus berevolusi menjadi busana yang relevan, bahkan avant-garde, tanpa kehilangan jiwanya,” ujar desainer kelahiran Bandung itu.

Koleksi ini juga menjadi bukti konsistensi TOTON dalam memadukan prinsip zero-waste dan slow fashion. Hampir 70 persen material berasal dari sisa produksi koleksi sebelumnya yang didaur ulang menjadi detail aplikasi, sementara kain-kain sisa diproses ulang menjadi aksen rumbai dan bordir 3D. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menambah nilai naratif bahwa “waktu tidak pernah benar-benar membuang apa pun”.

Adapun poin-poin kunci dari koleksi KALA adalah:

  • Total 36 tampilan yang merepresentasikan fase waktu—pagi, siang, senja, dan malam.
  • Penggunaan 11 jenis tenun tradisional dari 7 provinsi, bekerja sama dengan 23 kelompok pengrajin perempuan.
  • Teknik smocking tangan dan fabric manipulation yang memakan waktu hingga 120 jam kerja per potong untuk tampilan tertentu.
  • Kolaborasi khusus dengan perajin perak Kotagede untuk aksesori perhiasan eksklusif.

Sambutan Hangat Penutupan Mulia in Fashion 2026

Para tamu undangan, termasuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sejumlah duta besar negara sahabat, serta figur publik seperti Dian Sastrowardoyo dan Laura Basuki, memberikan standing ovation begitu Toton Januar muncul di ujung runway untuk sesi salam terakhir. Direktur Mulia in Fashion, Rina Kusuma, menyebut penampilan TOTON sebagai “persembahan magis yang mengingatkan kita bahwa fesyen Indonesia punya daya saing global tanpa harus meninggalkan akar budaya”.

Dengan statusnya sebagai penutup acara, show ini turut menegaskan posisi TOTON sebagai salah satu pilar fesyen nasional yang terus mendorong batas kreativitas berbasis warisan. Koleksi KALA bukan sekadar parade busana—ia adalah pernyataan bahwa dalam setiap helai benang tersimpan kisah abadi yang menunggu untuk dituturkan kembali di panggung masa kini.

[SOCIAL_TWEET]: TOTON menutup Mulia in Fashion 2026 dengan koleksi KALA yang memukau: 36 look sarat tenun, batik, dan siluet asimetris. KALA adalah surat cinta pada waktu dan tradisi yang terus bernapas dalam modernitas. ✨ #TOTON #KALA #MuliainFashion #FesyenIndonesia[SOCIAL_TG]: 🕰️ TOTON jadi penutup Mulia in Fashion 2026 lewat koleksi KALA—eksplorasi waktu dalam balutan tenun Sumba dan batik Lasem, zero-waste, dan siluet modern. Standing ovation! 👏👗 #TOTON #KALA

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User