Sore itu, di pelataran Museo Iconográfico del Quijote di Guanajuato, jurnalis Lydia Carey duduk di antara lengkung batu dan deretan pilar, menanti konser musik kamar dimulai. Di sekelilingnya, halaman dalam yang teduh dengan air mancur kecil di tengahnya terasa begitu akrab. "Saya hampir setiap hari melewati setidaknya satu pelataran di Guanajuato," tulisnya dalam laporannya untuk Mexico News Daily. "Pelataran itu ada di mana-mana—di museum, restoran, universitas, gedung pemerintah, hingga taman."
Yang jarang disadari banyak orang: pelataran khas rumah kolonial Meksiko itu adalah warisan langsung dari peradaban Islam. Pelataran rumah Meksiko dengan air mancur di tengah dan ruangan yang mengelilinginya merefleksikan pengaruh bangsa Moor, kelompok Islam Afrika Utara yang memerintah Spanyol selama 800 tahun. Ubin berornamen, pola geometris rumit, hingga kaligrafi dekoratif yang menghiasi seni dan arsitektur Spanyol, semuanya berakar dari tradisi Andalusia.
Dari Al-Andalus ke Nueva España
Ketika kekuasaan Moor runtuh pada 1492, Spanyol tidak serta-merta membuang gaya Islam itu. Sebaliknya, lahirlah gaya mudéjar, perpaduan unik antara elemen Islam dan Kristen yang kemudian dibawa para penakluk ke tanah jajahan di Amerika. Gaya inilah yang menjelma menjadi arsitektur kolonial Meksiko yang kita kenal sekarang: pelataran terbuka, lengkung tapal kuda, jubin geometris, dan langit-langit berukir kayu yang rumit.
"Dari pelataran dan arsitektur hingga tembikar dan tekstil, Meksiko membawa pengaruh abadi tradisi Moor dan Timur Tengah." — Lydia Carey, Mexico News Daily
Lebih dari Sekadar Arsitektur
Pengaruh itu tidak berhenti pada bangunan. Penelusuran Carey menunjukkan jejak Moor dan Timur Tengah meresap ke berbagai lapisan budaya Meksiko: kerajinan tangan, pola tekstil, keramik dan tembikar, hingga pengobatan tradisional. Teknik pembuatan ubin berlapis kaca, anyaman karpet, hingga racikan jamu herbal yang dipercaya masyarakat Meksiko memiliki kemiripan mencolok dengan tradisi Andalusia yang berkembang di Spanyol selatan berabad-abad lalu.
Pola bintang delapan, arabeska, dan motif geometris yang menghiasi fasad gereja-gereja kolonial Meksiko juga merupakan bahasa visual yang sama dengan yang menghiasi masjid-masjid di Cordoba dan Granada. Dalam bidang kuliner, penggunaan rempah seperti kunyit, kayu manis, dan jintan dalam masakan Meksiko juga menunjukkan afinitas panjang dengan dapur Timur Tengah—jejak perdagangan dan perjumpaan yang telah berlangsung hampir dua milenium.
Perjumpaan Peradaban yang Tak Pernah Usai
Bagi Carey, menyebut pengaruh ini sebagai "hampir 2.000 tahun" bukanlah hiperbola. Jejak peradaban Timur Tengah yang membentang dari masa keemasan Islam di Al-Andalus hingga gema kolonialisme Spanyol di Meksiko menciptakan lapisan budaya yang saling menumpuk—dan masih hidup hingga kini di setiap pelataran yang dilalui orang-orang setiap hari.
Konser musik kamar sore itu akhirnya dimulai, suara biola bergema di antara lengkung batu yang dulu dirancang dengan tangan-tangan pengrajin yang tak pernah membayangkan warisannya akan dinikmati berabad-abad kemudian. Di Guanajuato, seperti di banyak kota Meksiko lainnya, Timur Tengah tidak pernah benar-benar pergi—ia hanya menyamar sebagai bagian dari keseharian.
[SOCIAL_TWEET]: Pelataran rumah Meksiko ternyata warisan bangsa Moor! Pengaruh Timur Tengah mengalir hampir 2.000 tahun: dari arsitektur, tekstil, hingga rempah. #Meksiko #Sejarah #Arsitektur https://beritadua.com[SOCIAL_TG]: 🕌🇲🇽 Pengaruh Timur Tengah di Meksiko bukan sekadar isu: pelataran, ubin mudéjar, tekstil, hingga rempah dapur semuanya berakar dari Andalusia. Jejak peradaban hampir 2.000 tahun yang masih hidup di keseharian. Baca selengkapnya!
Comments (0)