Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Raih Sertifikasi Hijau Pertama di Dunia

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero) yang dirilis pada pekan ini, anak usahanya, PT Pertamina Energy Terminal (PET), berhasil mencatatkan pencapaian bersejarah. Terminal LPG Tanjung Sekong, yang be...

Aug 07, 2026 - 17:25
0 0
Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Raih Sertifikasi Hijau Pertama di Dunia

Berdasarkan data PT Pertamina (Persero) yang dirilis pada pekan ini, anak usahanya, PT Pertamina Energy Terminal (PET), berhasil mencatatkan pencapaian bersejarah. Terminal LPG Tanjung Sekong, yang berlokasi di Banten, resmi meraih sertifikasi terminal hijau (green terminal) pertama di dunia untuk kategori terminal LPG. Sertifikasi ini dikeluarkan oleh lembaga internasional yang berbasis di Eropa, menandai pengakuan global terhadap komitmen perusahaan dalam operasional ramah lingkungan.

Pencapaian yang Menguatkan Kredibilitas Energi Bersih

Di satu sisi, sertifikasi ini menjadi bukti nyata bahwa Pertamina serius dalam menekan emisi karbon di sektor hilir migas. Proses sertifikasi mencakup audit ketat terhadap aspek efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga penggunaan teknologi rendah karbon. Terminal yang berkapasitas penyimpanan sekitar 100.000 ton LPG ini dilengkapi sistem monitoring emisi real-time yang terintegrasi dengan pusat kendali di Jakarta. Angka emisi karbon dioksida per ton produk yang ditangani berhasil diturunkan hingga 18% year-on-year, dari 0,42 ton CO2e per ton pada 2023 menjadi 0,34 ton CO2e per ton pada 2024.

Di sisi lain, capaian ini juga memunculkan pertanyaan tentang biaya investasi yang dikeluarkan. Analis energi dari lembaga riset independen mencatat bahwa investasi untuk memenuhi standar hijau tersebut mencapai sekitar Rp 250 miliar, yang mencakup pemasangan panel surya atap, konversi alat berat ke listrik, dan sistem daur ulang air. Meskipun demikian, proyeksi penghematan operasional jangka panjang diperkirakan mencapai Rp 60 miliar per tahun, sehingga payback period investasi sekitar 4-5 tahun.

"Sertifikasi ini bukan sekadar penghargaan, melainkan komitmen jangka panjang untuk menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan kelestarian lingkungan," ujar Direktur Utama PET dalam keterangan resmi yang dikutip dari laporan internal perusahaan.

Perbandingan dengan Standar Global dan Dampak pada Portofolio

Secara fundamental, sertifikasi hijau ini menempatkan Terminal Tanjung Sekong sejajar dengan terminal-terminal modern di Eropa yang telah menerapkan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) ketat. Berdasarkan data International Gas Union, baru 5% dari total terminal LPG di dunia yang memiliki sertifikasi hijau, dan mayoritas berada di Belanda dan Norwegia. Dengan demikian, Pertamina menjadi pionir di kawasan Asia Tenggara, yang selama ini masih bergantung pada terminal konvensional dengan emisi tinggi.

Dari sisi sentimen pasar, pengumuman ini berpotensi meningkatkan kepercayaan investor terhadap saham PT Pertamina Internasional Shipping (PIS), yang merupakan induk dari PET. Analis pasar modal mencatat bahwa indeks keberlanjutan Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan bobot lebih tinggi pada perusahaan dengan sertifikasi lingkungan. Proyeksi valuasi PIS dapat mengalami kenaikan 5-7% dalam enam bulan ke depan jika tren ini berlanjut. Namun, perlu dicatat bahwa dampak langsung terhadap pendapatan masih terbatas karena sertifikasi lebih bersifat reputasional.

Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa biaya sertifikasi dan pemeliharaan standar hijau akan membebani margin operasional. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan di terminal ini tercatat naik dari 42% menjadi 46% dalam dua tahun terakhir. Meski demikian, manajemen berargumen bahwa efisiensi jangka panjang dan potensi insentif pajak dari pemerintah akan mengkompensasi kenaikan tersebut. Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah menyiapkan skema insentif berupa pengurangan PBB untuk fasilitas yang tersertifikasi hijau.

Proyeksi dan Tantangan Ke Depan

Ke depan, Pertamina menargetkan replikasi model hijau ini ke terminal-terminal lain seperti Tanjung Priok dan Balikpapan. Namun, tantangan terbesar adalah perbedaan infrastruktur lama yang membutuhkan retrofit besar. Berdasarkan studi kelayakan internal, biaya retrofit terminal lama dua kali lebih mahal dibandingkan membangun baru. Hal ini berpotensi menunda target net zero emission perusahaan di 2060.

Proyeksi kapasitas penanganan LPG di Terminal Tanjung Sekong diperkirakan meningkat 8% year-on-year menjadi 3,2 juta ton pada 2025, seiring dengan pertumbuhan permintaan LPG domestik yang mencapai 6% per tahun. Dengan demikian, efisiensi energi yang dihasilkan dari sertifikasi hijau akan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan emisi total. Meskipun begitu, pengamat mengingatkan bahwa sertifikasi hanya salah satu indikator, dan perlu ada audit berkala setiap tiga tahun untuk mempertahankan status tersebut.

Secara keseluruhan, pencapaian ini menunjukkan bahwa perusahaan energi nasional mampu bersaing di level global dalam aspek keberlanjutan. Namun, keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada konsistensi implementasi dan dukungan regulasi. Dengan likuiditas keuangan yang sehat dan komitmen manajemen, terminal hijau ini dapat menjadi model bagi industri migas di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Pertamina dalam transisi energi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User