Oct 12, 2026
Bisnis

Tenun Lombok dan Peluang Ekonomi Perempuan

Berdasarkan data BPS per kuartal terakhir, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih berada di angka 53,41%, jauh di bawah partisipasi laki-laki yang mencapai 83,18%. Kesenjangan...

Tenun Lombok dan Peluang Ekonomi Perempuan

Berdasarkan data BPS per kuartal terakhir, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia masih berada di angka 53,41%, jauh di bawah partisipasi laki-laki yang mencapai 83,18%. Kesenjangan ini kian terasa di wilayah pedesaan, di mana banyak perempuan bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak menentu. Di tengah upaya pemerintah dan pelaku usaha untuk mendorong inklusi ekonomi, sektor kerajinan tradisional seperti tenun muncul sebagai salah satu jalur yang berpotensi memperluas akses ekonomi bagi perempuan, khususnya di daerah seperti Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kerajinan Tradisional sebagai Sumber Penghidupan

Tenun bukan sekadar warisan budaya yang diwariskan turun-temurun, melainkan juga sumber penghidupan bagi ribuan rumah tangga di Lombok. Sebelum adanya intervensi program pemberdayaan, banyak penenun, yang mayoritas adalah perempuan, hanya menerima upah yang sangat rendah karena sistem produksi yang masih bersifat perorangan. Mereka kerap menjual kain mentah dengan harga terbatas kepada tengkulak, sehingga nilai tambah (nilai yang tercipta dari proses produksi, bukan hanya bahan baku) yang mereka peroleh terbilang minim. Kondisi ini mencerminkan persoalan struktural di sektor informal, di mana posisi tawar produsen skala mikro masih lemah terhadap pembeli dengan jaringan pasar yang lebih luas.

Melalui program seperti Galeri Mina Tenun, upaya dilakukan untuk mengubah rantai nilai tersebut. Dengan menyalurkan kain melalui galeri resmi, penenun dapat memperoleh harga yang lebih adil hingga Rp 750.000 per lembar kain. Angka ini menjadi lonjakan yang signifikan dibandingkan harga yang biasa diterima sebelumnya. Selain akses pasar, program ini juga turut menyediakan dukungan akses air bersih, sebuah kebutuhan dasar yang kerap menjadi beban tambahan bagi rumah tangga pedesaan dan dapat mengurangi waktu produktif perempuan untuk kegiatan ekonomi.

Di Satu Sisi: Dorongan Terhadap Fundamental Ekonomi Lokal

Dari perspektif fundamental (kondisi ekonomi riil yang mendasari pertumbuhan, seperti produksi, lapangan kerja, dan pendapatan), program semacam ini berpotensi memperkuat basis ekonomi rumah tangga. Peningkatan pendapatan yang berkelanjutan dapat mendorong konsumsi lokal, memperkuat likuiditas (ketersediaan dana tunai untuk kebutuhan sehari-hari) keluarga, serta membuka ruang untuk menabung atau berinvestasi dalam pendidikan anak. Bagi wilayah dengan tingkat kemiskinan pedesaan yang masih di atas rata-rata nasional, intervensi yang terfokus pada perempuan juga memiliki efek berganda, karena penelitian ekonomi menunjukkan bahwa pendapatan perempuan cenderung dialokasikan lebih besar untuk kebutuhan dasar rumah tangga dibandingkan pendapatan yang sepenuhnya dikuasai oleh satu pihak.

Lebih jauh, pengembangan produk berbasis budaya dapat membentuk identitas ekonomi daerah. Jika dikelola dengan baik, tren permintaan terhadap produk kerajinan etnik yang autentik, baik di pasar domestik maupun mancanegara, dapat menjadi sumber devisa (pendapatan valuta asing) potensial. Hal ini juga berkontribusi pada diversifikasi ekonomi lokal, sehingga tidak bergantung semata pada sektor primer seperti pertanian atau hasil laut yang kerap rentan terhadap fluktuasi cuaca. Dengan rasio nilai tambah yang lebih tinggi, tenun berkualitas berpotensi naik kelas dari produk subsisten menjadi komoditas bernilai jual yang lebih stabil.

Di Sisi Lain: Tantangan yang Masih Membayangi

Namun, di sisi lain, sentimen pasar (persepsi pelaku pasar terhadap prospek suatu produk atau sektor) terhadap kerajinan tradisional tidak selalu stabil. Permintaan produk ini cenderung bersifat siklus, dipengaruhi oleh tren mode, daya beli masyarakat kelas menengah, serta kondisi makro seperti inflasi. Berdasarkan data BPS, inflasi year-on-year beberapa bulan terakhir masih berada di kisaran 2,57%, namun tekanan harga bahan pokok dapat mengurangi alokasi belanja untuk barang non-esensial, termasuk produk kerajinan. Apabila permintaan melemah, harga yang kini dinikmati penenun berpotensi kembali tertekan.

Selain itu, terdapat tantangan struktural yang berkaitan dengan skala produksi. Banyak penenun masih menggunakan alat tenun tradisional dengan kapasitas terbatas, sehingga sulit memenuhi pesanan dalam jumlah besar tanpa mengorbankan kualitas atau waktu. Akses terhadap bahan baku berkualitas juga kerap fluktuatif, yang dapat menekan margin keuntungan. Dari sisi pembiayaan, pelaku usaha mikro kerap menghadapi kendala likuiditas dan sulit mengakses kredit formal karena minimnya agunan. Tanpa penguatan kapasitas manajemen, pemasaran digital, dan rantai pasok yang stabil, peningkatan pendapatan saat ini berpotensi bersifat sementara, bukan sebuah tren (pergerakan jangka panjang) yang berkelanjutan.

Proyeksi Menuju Ketahanan Ekonomi Berbasis Komunitas

Ke depan, proyeksi keberhasilan model seperti ini akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan efisiensi ekonomi. Penguatan kelembagaan koperasi atau kelompok usaha perempuan menjadi krusial untuk menegosiasikan harga, mengelola stok, dan membangun portofolio (kumpulan produk atau sumber pendapatan) yang beragam. Diversifikasi desain, pemanfaatan platform e-commerce, serta pencatatan keuangan sederhana dapat membantu menahan risiko capital outflow (keluarnya dana dari perekonomian lokal ke pihak luar) dengan memastikan margin keuntungan tetap berputar di tingkat komunitas.

Yang tak kalah penting adalah valuasi (penilaian atas nilai ekonomi suatu aset atau produk) yang tepat terhadap produk tenun itu sendiri. Alih-alih bersaing pada harga murah, posisi produk sebagai barang seni dengan cerita budaya dapat menopang harga premium yang wajar. Namun, untuk mencapai hal tersebut, diperlukan investasi waktu dalam membangun merek, sertifikasi kerajinan, serta edukasi pasar. Dengan dukungan infrastruktur dasar seperti akses air bersih yang juga turut dibangun, beban kerja reproduktif perempuan dapat sedikit berkurang, sehingga waktu dan energi mereka dapat dialihkan secara lebih optimal untuk aktivitas produktif.

Pada akhirnya, kisah peningkatan pendapatan penenun di Lombok menjadi cerminan kecil dari persoalan ekonomi yang jauh lebih besar: bagaimana mengubah pekerjaan informal berupah rendah menjadi aktivitas ekonomi yang berdaya saing. Di satu sisi, intervensi terarah mampu memperbaiki fundamental rumah tangga dan membuka peluang pasar. Di sisi lain, tanpa reformasi struktural yang menjawab tantangan skala, pembiayaan, dan volatilitas permintaan, capaian ini akan sulit bertahan dalam jangka panjang. Meski demikian, dengan langkah-langkah terukur, model pemberdayaan berbasis komunitas ini layak terus diperkuat sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User