Teknologi Penangkap Karbon Klaim Pangkas Emisi Industri 95 Persen

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta proyeksi International Energy Agency (IEA) per 2024, sektor industri dan pembangkit listrik masih menyumbang sekitar 35 hingga 40 pers...

Oct 08, 2026 - 17:46
0 0
Teknologi Penangkap Karbon Klaim Pangkas Emisi Industri 95 Persen

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta proyeksi International Energy Agency (IEA) per 2024, sektor industri dan pembangkit listrik masih menyumbang sekitar 35 hingga 40 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional. Di tengah tekanan global untuk menurunkan suhu bumi maksimal 1,5 derajat Celsius, teknologi penangkapan karbon atau carbon capture kembali mencuat sebagai salah satu opsi mitigasi yang dianggap paling agresif. Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa teknologi ini berpotensi memangkas emisi dari sektor industri hingga 95 persen.

Angka tersebut bukan klaim tanpa dasar. Teknologi penangkapan karbon bekerja dengan menyaring gas buang dari cerobong pabrik atau pembangkit listrik sebelum dilepaskan ke atmosfer. Gas karbon dioksida (CO2) yang tertangkap kemudian dikompresi, dialirkan melalui pipa, dan disuntikkan ke formasi geologi bawah tanah atau dimanfaatkan ulang untuk proses industri lain. Dalam skema enhanced oil recovery, CO2 bahkan bisa disuntikkan ke sumur minyak tua untuk meningkatkan produksi, meski praktik ini masih menuai perdebatan lingkungan.

Pro: Potensi Pengurangan Emisi Signifikan dan Nilai Ekonomi Baru

Di satu sisi, pendukung teknologi ini menilai capaian reduksi hingga 95 persen merupakan lompatan besar dibandingkan metode konvensional seperti efisiensi energi yang hanya menekan emisi 10 hingga 20 persen. Menurut kajian Global CCS Institute, kapasitas penangkapan karbon global telah mencapai sekitar 50 juta ton per tahun pada 2024, dan proyeksi 2030 menyebut angka itu bisa menembus 250 juta ton seiring masuknya proyek baru di Asia Tenggara.

Bagi Indonesia yang masih bergantung pada batu bara untuk sekitar 60 persen bauran energi listrik, teknologi ini menawarkan jembatan transisi tanpa harus mematikan industri secara mendadak. Hashim menegaskan bahwa pendekatan ini juga membuka peluang investasi hijau dan transfer teknologi dari negara maju. "Transisi energi tidak bisa dilakukan dengan mematikan sumber energi yang masih kita butuhkan. Kita harus menangkap emisinya," ujarnya dalam sebuah forum ekonomi baru-baru ini. Ia menambahkan bahwa sejumlah perusahaan energi global telah menyatakan minat menanamkan modal di sektor ini, dengan estimasi nilai proyek mencapai miliaran dolar AS.

Dari kacamata makroekonomi, masuknya investasi penangkapan karbon berpotensi memperkuat neraca pembayaran melalui arus modal masuk (capital inflow) dan menciptakan lapangan kerja teknis baru. Pemerintah juga tengah menyiapkan kerangka regulasi nilai ekonomi karbon, termasuk pajak karbon yang mulai berlaku bertahap, sebagai insentif bagi pelaku industri untuk berinvestasi pada teknologi rendah emisi.

Kontra: Biaya Tinggi, Efisiensi Energi, dan Risiko Penyimpanan

Di sisi lain, sejumlah ekonom dan pengamat lingkungan menyoroti fundamental ekonomi teknologi ini yang masih rapuh. Biaya penangkapan karbon per ton CO2 diperkirakan berada di kisaran 50 hingga 120 dolar AS, jauh di atas harga kredit karbon di pasar sukarela yang hanya sekitar 5 hingga 15 dolar AS per ton. Selisih ini menciptakan disparitas valuasi yang membuat proyek penangkapan karbon sulit bersaing tanpa subsidi besar atau insentif fiskal jangka panjang.

Kritik lain datang dari sisi konsumsi energi. Proses penangkapan dan kompresi CO2 membutuhkan energi tambahan yang bisa mencapai 15 hingga 30 persen dari total output pembangkit. Artinya, ada trade-off antara pengurangan emisi dan penurunan efisiensi energi bersih yang dihasilkan. Jika sumber listrik untuk proses ini masih berasal dari batu bara, maka pengurangan emisi neto bisa jauh lebih kecil dari klaim 95 persen.

Risiko penyimpanan jangka panjang juga menjadi kekhawatiran. Kebocoran CO2 dari formasi geologi dapat mencemari air tanah dan memicu sentimen pasar negatif terhadap keberlanjutan proyek. Beberapa lembaga riset internasional mencatat bahwa tingkat keberhasilan penyimpanan permanen baru mencapai 60 hingga 70 persen dalam periode pemantauan 10 tahun, sehingga likuiditas investasi di sektor ini masih dianggap berisiko tinggi.

Proyeksi dan Sikap Pasar ke Depan

Melihat dinamika tersebut, proyeksi jangka menengah menunjukkan teknologi penangkapan karbon akan tetap menjadi bagian dari portofolio kebijakan iklim, terutama untuk sektor industri berat seperti semen, baja, dan petrokimia yang sulit didekarbonisasi. Namun, skala adopsinya sangat bergantung pada struktur insentif, harga karbon, dan kemauan politik untuk menanggung biaya transisi.

Indeks kepercayaan investor terhadap sektor energi bersih akan menjadi barometer penting. Jika harga karbon global naik menembus 80 dolar AS per ton dalam lima tahun ke depan, maka ekonomi penangkapan karbon akan semakin kompetitif. Sebaliknya, jika tren harga karbon stagnan, maka klaim reduksi 95 persen hanya akan menjadi angka di atas kertas tanpa realisasi kapasitas yang signifikan. Pada akhirnya, keseimbangan antara ambisi iklim dan fundamental ekonomi akan menentukan apakah teknologi ini menjadi tulang punggung dekarbonisasi atau sekadar pelengkap dalam transisi energi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User