Teh Daun Kopi Sedesa Jadi Motor Kemandirian Ekonomi Toyomarto

Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kini mencatat babak baru dalam upaya membangun kemandirian ekonomi warganya. Melalui program pemberdayaan bertajuk Gema Desa yang diusung oleh or...

Teh Daun Kopi Sedesa Jadi Motor Kemandirian Ekonomi Toyomarto

Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kini mencatat babak baru dalam upaya membangun kemandirian ekonomi warganya. Melalui program pemberdayaan bertajuk Gema Desa yang diusung oleh organisasi mahasiswa Himalogista Universitas Brawijaya (UB), limbah daun kopi yang selama ini terabaikan berhasil disulap menjadi produk teh herbal bernilai jual tinggi dengan merek “Sedesa”. Inisiatif yang diluncurkan pada awal pekan ini tak hanya menyasar aspek produksi, tetapi juga merangkul pelaku usaha lokal dalam pengemasan modern dan strategi pemasaran berbasis digital.

Mengubah “Limbah” Menjadi Komoditas Unggulan

Sebagai salah satu sentra perkebunan kopi di Jawa Timur, Toyomarto memiliki hamparan kebun kopi robusta dan arabika yang selama ini hanya dimanfaatkan bijinya. Setiap musim panen, petani kerap memangkas daun-daun tua yang kemudian menumpuk menjadi sampah organik tanpa nilai ekonomi. Melalui pendekatan riset sederhana yang dibawa tim Gema Desa, diketahui bahwa daun kopi mengandung senyawa antioksidan tinggi, seperti asam klorogenat dan mangiferin, yang berpotensi diolah menjadi minuman kesehatan. Dengan teknik pengeringan terkontrol dan sortasi manual oleh ibu-ibu kelompok tani, daun kopi diubah menjadi teh celup dan teh tubruk dengan cita rasa earthy yang khas. Merek “Sedesa” sengaja dipilih untuk menegaskan asal produk sekaligus menghidupkan filosofi kebersamaan warga desa.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Kelompok Tani Makmur Toyomarto, setiap bulannya terdapat sekitar 1,8 hingga 2 ton daun kopi yang terbuang percuma. Dengan pendampingan intensif dari mahasiswa, kapasitas produksi awal mampu menyerap sekitar 500 kilogram daun segar per bulan. Setelah melalui proses pengolahan, daun-daun tersebut menghasilkan sekitar 4.000 kemasan teh dengan bobot 25 gram per kemasan. Jika dibanderol dengan harga ritel Rp12.000 per kemasan, maka potensi pendapatan tambahan yang selama ini terlewatkan mencapai Rp48 juta per bulan. Angka ini diproyeksikan terus meningkat seiring perbaikan rantai pasok dan perluasan jaringan distribusi.

Mendorong Kemandirian dan Inklusi Ekonomi

Program Gema Desa tidak berhenti pada produksi semata. Para mahasiswa Himalogista UB juga membentuk unit usaha bersama yang dikelola sepenuhnya oleh warga. Dalam struktur tersebut, kaum perempuan mendapat porsi dominan, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga administrasi keuangan. “Selama ini kami hanya membantu suami di kebun. Sekarang kami punya penghasilan sendiri yang langsung masuk ke kas keluarga,” ujar Siti Aminah, salah satu anggota kelompok yang kini menjabat sebagai koordinator produksi. Pelatihan literasi keuangan sederhana juga diberikan agar warga mampu mencatat arus kas dan memisahkan keuangan usaha dari keperluan rumah tangga.

Dari sisi lapangan kerja, program ini mampu menyerap 32 tenaga kerja langsung yang terdiri dari pemetik daun, operator pengering, pengemas, dan tim pemasaran. Sebagian besar dari mereka sebelumnya adalah buruh tani musiman yang tidak memiliki pendapatan tetap. Kini, mereka bekerja dengan sistem shift yang disesuaikan dengan waktu panen daun. Pendapatan rata-rata yang diterima berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan, sebuah lompatan signifikan bagi ekonomi rumah tangga pedesaan yang selama ini hanya mengandalkan hasil panen kopi setahun sekali.

Inovasi Sederhana, Dampak Berlipat

Kehadiran produk Sedesa juga membawa efek domino ke sektor lain. Para petani kopi mulai menanam bibit dengan orientasi ganda, baik untuk biji maupun kualitas daun. Ini mendorong diversifikasi pendapatan di level on-farm. Di sisi lain, muncul kebutuhan akan bahan kemasan, label, dan stiker yang kini dipasok oleh percetakan kecil di Kecamatan Singosari. Roda ekonomi lokal berputar lebih cepat. Pemerintah desa bahkan tengah mengkaji kemungkinan menjadikan Sedesa sebagai produk unggulan desa yang akan dipamerkan di berbagai ajang pameran UMKM tingkat kabupaten.

Tim Gema Desa juga memanfaatkan platform e-commerce dan media sosial untuk memperkenalkan Sedesa ke pasar yang lebih luas. Dalam kurun uji coba satu minggu, respons konsumen cukup positif. Beberapa kafe di Malang dan Surabaya telah menyatakan ketertarikan untuk menjadikan Sedesa sebagai alternatif minuman sehat non-kafein. “Kami targetkan dalam tiga bulan ke depan Sedesa sudah memiliki izin edar dari BPOM dan sertifikasi halal, sehingga bisa masuk ke ritel modern,” jelas Andika Putra, ketua tim Gema Desa yang juga mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB.

Prospek Jangka Panjang dan Replikasi Model

Keberhasilan tahap awal ini membuka peluang bagi desa-desa tetangga yang juga memiliki perkebunan kopi untuk mengadopsi model serupa. Himalogista UB berencana menjadikan Toyomarto sebagai desa percontohan (pilot project) yang nantinya akan direplikasi di Kecamatan Tumpang dan Jabung. Pendekatan berbasis komunitas dengan sentuhan akademis dari kampus dinilai lebih efektif karena warga tidak hanya diberi bantuan modal, melainkan juga pengetahuan dan jejaring pasar.

Dalam jangka panjang, kemandirian ekonomi menjadi kata kunci. Warga tidak lagi bergantung pada tengkulak atau fluktuasi harga komoditas global. Mereka memiliki kontrol penuh atas produk yang dihasilkan, mulai dari daun yang jatuh dari pohon hingga cangkir teh yang tersaji di meja konsumen. Program Gema Desa membuktikan bahwa dengan sentuhan inovasi sederhana, potensi yang selama ini tersembunyi dapat menjadi mesin penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User