Oct 05, 2026
Bisnis

Swasembada Susu: Peluang dan Tantangan

Berdasarkan data BPS per September 2025, konsumsi susu di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 7,2% year-on-year. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan produk olahan susu di dalam negeri terus be...

Swasembada Susu: Peluang dan Tantangan

Berdasarkan data BPS per September 2025, konsumsi susu di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 7,2% year-on-year. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan produk olahan susu di dalam negeri terus bertumbuh seiring dengan perubahan pola konsumsi masyarakat. Fenomena ini menjadi latar belakang dari rencana pemerintah untuk menambah populasi sapi perah hingga 600 ribu ekor pada tahun 2029 dengan tujuan mencapai swasembada susu. Swasembada sendiri merupakan kondisi dimana suatu negara mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi domestiknya tanpa bergantung pada impor.

Fundamental Permintaan Susu di Dalam Negeri

Tren peningkatan konsumsi susu dapat dilihat dari fundamental (faktor-faktor dasar yang memengaruhi perekonomian suatu sektor) permintaan yang terus menguat. Data BPS menunjukkan bahwa konsumsi susu per kapita Indonesia pada tahun 2024 berada di angka 23,2 liter per tahun, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Malaysia yang mencapai 50,9 liter per kapita per tahun. Namun, proyeksi dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa angka ini berpotensi mengalami kenaikan hingga 30 liter per kapita per tahun pada 2029. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya kesadaran gizi, pertumbuhan kelas menengah, serta perluasan akses terhadap produk susu di berbagai wilayah.

Di satu sisi, peningkatan permintaan ini menciptakan peluang besar bagi sektor peternakan untuk berkembang. Hal ini dapat berdampak positif terhadap lapangan kerja, khususnya bagi peternak rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung produksi susu domestik. Selain itu, penguatan produksi dalam negeri juga berpotensi menekan ketergantungan terhadap impor susu yang selama ini masih cukup tinggi. Berdasarkan data BPS tahun 2024, nilai impor susu dan produk turunannya mencapai Rp 16,7 triliun, angka yang masih cukup besar bagi neraca perdagangan komoditas pangan.

Dampak Terhadap Makroekonomi dan Sentimen Pasar

Pergerakan sektor pangan seperti susu tidak hanya berdampak pada petani dan peternak, namun juga dapat memengaruhi berbagai indikator makroekonomi. Salah satu indikator yang kerap diperhatikan adalah indeks (ukuran statistik yang menggambarkan perubahan harga atau kinerja suatu sektor) harga pangan. Bank Indonesia mencatat bahwa indeks harga pangan bergejolak sepanjang tahun 2024-2025 dengan volatilitas (perubahan harga yang cepat dan tidak menentu) yang dipengaruhi oleh faktor cuaca, biaya pakan, hingga dinamika global.

Di sisi lain, upaya peningkatan produksi susu juga berkaitan erat dengan sentimen pasar (persepsi dan ekspektasi pelaku pasar terhadap suatu kondisi ekonomi). Apabila proyeksi swasembada dinilai realistis oleh pelaku pasar, hal ini dapat berkontribusi terhadap stabilitas harga jangka menengah. Namun, sentimen ini bisa berubah apabila terjadi kendala seperti gagal panen pakan, penyakit hewan, atau lonjakan harga input. Selain itu, dari sisi aliran modal, sektor pertanian yang stabil berpotensi menjaga likuiditas (kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) di daerah, namun tidak serta merta mencegah capital outflow (keluarnya modal asing dari suatu negara) yang lebih dipengaruhi oleh faktor suku bunga global.

Penting juga untuk melihat rasio (perbandingan antara dua angka ekonomi untuk menilai kondisi tertentu) ketergantungan impor. Berdasarkan perhitungan neraca pangan, rasio pemenuhan susu dalam negeri terhadap konsumsi total masih berada di bawah 40% pada tahun 2024. Artinya, lebih dari setengah kebutuhan susu masih dipenuhi melalui impor. Angka ini menjadi salah satu alasan mengapa target penambahan populasi sapi perah hingga 600 ribu ekor dinilai relevan untuk memperbaiki rasio tersebut.

Tantangan Struktural yang Perlu Diperhatikan

Meskipun target tersebut memiliki landasan fundamental yang kuat, terdapat sejumlah tantangan struktural yang dapat memengaruhi realisasinya. Pertama, produktivitas sapi perah di Indonesia masih relatif rendah. Rata-rata produksi susu per ekor per hari di Indonesia hanya mencapai sekitar 10-12 liter, sedangkan di beberapa negara maju angka tersebut bisa mencapai 25-30 liter per ekor per hari. Hal ini berdampak langsung terhadap valuasi (penilaian terhadap nilai ekonomi suatu aset atau sektor) dari investasi pada pembibitan dan perbaikan genetik.

Kedua, ketersediaan pakan berkualitas menjadi kendala utama. Biaya pakan dapat menyumbang hingga 70% dari total biaya produksi susu. Fluktuasi harga pakan hijauan dan konsentrat dapat menekan margin peternak, sehingga berpotensi memperlambat laju penambahan populasi. Ketiga, infrastruktur seperti cooling unit (unit pendingin susu), jalan usaha tani, serta akses pembiayaan masih belum merata, khususnya di sentra-sentra peternakan di luar Pulau Jawa.

Di satu sisi, optimalisasi faktor-faktor ini berpotensi mempercepat pencapaian target. Di sisi lain, tanpa perbaikan menyeluruh terhadap ketiga aspek tersebut, proyeksi penambahan 600 ribu ekor sapi perah hingga 2029 berpotensi menghadapi deviasi yang cukup signifikan. Hal ini juga dapat berdampak pada portofolio (kumpulan aset yang dimiliki) pembangunan sektor pangan secara keseluruhan, karena alokasi sumber daya akan terbagi dengan program ketahanan pangan lainnya.

Kesimpulan Makro

Secara keseluruhan, upaya menuju swasembada susu merupakan langkah yang berlandaskan pada tren konsumsi yang kuat dan fundamental permintaan domestik. Peningkatan populasi sapi perah menjadi instrumen yang relevan untuk mengurangi ketergantungan impor dan menjaga stabilitas harga jangka menengah. Namun, keberhasilan target ini sangat bergantung pada peningkatan produktivitas, stabilitas harga pakan, serta pemerataan infrastruktur. Tanpa penanganan tantangan tersebut, capaian swasembada susu hanya akan menjadi proyeksi, bukan realita yang terwujud pada tahun 2029.

"Peningkatan populasi harus dibarengi dengan peningkatan produktivitas, bukan hanya kuantitas. Itulah kunci agar ketahanan susu benar-benar berkelanjutan."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User