Sukarno Nyaris Tertembak saat Salat Idul Adha di Istana

Pagi itu, matahari baru saja meninggi ketika para jemaah bersiap menunaikan Salat Idul Adha di halaman Istana Merdeka, Jakarta. Tanggal 14 Mei 1962 atau 10 Zulhijjah 1381 Hijriah semula diwarnai khidm...

Jul 27, 2026 - 23:54
0 4
Sukarno Nyaris Tertembak saat Salat Idul Adha di Istana

Pagi itu, matahari baru saja meninggi ketika para jemaah bersiap menunaikan Salat Idul Adha di halaman Istana Merdeka, Jakarta. Tanggal 14 Mei 1962 atau 10 Zulhijjah 1381 Hijriah semula diwarnai khidmat, namun segera berubah menjadi drama percobaan pembunuhan paling bersejarah di Indonesia. Presiden Sukarno, yang memimpin langsung ibadah sebagai imam, menjadi sasaran tembak seorang pria misterius yang tiba-tiba menerobos barisan paling depan.

Kronologi Detik-Detik Penembakan

Menjelang sujud kedua rakaat pertama, seorang laki-laki muda berpakaian gamis putih melangkah mendekati saf terdepan. Sejumlah saksi mata menuturkan, ia sempat menunduk seolah akan bersujud, tetapi langsung mengeluarkan pistol kaliber 9 mm dari balik bajunya. Dengan gerakan cepat, pelaku mengarahkan moncong senjata itu ke arah kepala presiden yang masih larut dalam doa. Letusan senjata api terdengar bersahutan dengan gema takbir, namun peluru itu meleset karena tangan pelaku ditepis oleh ajudan yang sigap. Beberapa anggota Pasukan Cakrabirawa langsung merebahkan pelaku dan melumpuhkannya di tempat. Situasi sempat ricuh, tetapi Sukarno tetap tenang dan melanjutkan salat hingga selesai.

Pelaku dan Jaringan di Baliknya

Belakangan diketahui, pelaku adalah seorang anggota gerakan separatis Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang telah menyusup ke Jakarta. Ia direkrut dan dilatih khusus untuk mengeksekusi misi pembunuhan terhadap simbol negara. Dari hasil interogasi awal, pelaku—yang identitasnya dirahasiakan demi keamanan—mengaku mendapat perintah langsung dari pimpinan DI/TII di Jawa Barat. Motifnya ideologis: menganggap Sukarno sebagai penghalang tegaknya syariat Islam. Pihak keamanan langsung melakukan penyisiran besar-besaran, menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat dalam jaringan ini, termasuk seorang penghubung di wilayah Jakarta yang menyediakan logistik dan senjata.

Pengadilan dan Nasib Pelaku

Tersangka utama diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) Jakarta hanya dalam hitungan pekan. Proses persidangan berlangsung cepat dan tertutup, mengingat sensitivitas kasus yang menyangkut kepala negara. Jaksa militer mendakwa pelaku dengan pasal makar dan percobaan pembunuhan tingkat pertama terhadap presiden, yang berdasarkan hukum saat itu dapat berujung pada pidana mati. Tim pembela tak banyak berkutik karena bukti-bukti—mulai dari senjata api, amunisi hingga surat-surat instruksi dari pimpinan DI/TII—sangat kuat.

Majelis hakim yang diketuai seorang kolonel dari Korps Kehakiman Militer menjatuhkan vonis hukuman mati dengan cara ditembak. Eksekusi dilakukan pada akhir tahun 1962 di sebuah lapangan terpencil di luar Jakarta, tanpa banyak publisitas. Keputusan ini kemudian menjadi pesan tegas bahwa setiap bentuk ancaman terhadap nyawa presiden dan stabilitas negara akan berbuah konsekuensi paling keras. Sejumlah pengamat sejarah menilai, hukuman tersebut menjadi titik balik bagi rezim Sukarno untuk semakin memperkuat kontrol terhadap kelompok oposisi bersenjata, sekaligus meredakan ketegangan politik yang terus memuncak pada paruh awal 1960-an.

Meski tragedi berakhir dengan cepat, kenangan akan pagi Idul Adha di Istana Merdeka itu tetap melekat sebagai pengingat rentannya keamanan pimpinan tertinggi negeri. Di sisi lain, keteguhan Sukarno yang tidak panik dan memilih menuntaskan ibadahnya justru menambah wibawanya di mata rakyat. Insiden ini ikut mendorong reformasi prosedur pengamanan istana kepresidenan yang lebih ketat dan modern hingga kini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User