S&P Turunkan Outlook, OJK Klaim Modal Asing Masih Net Buy
Langkah S&P Global Ratings yang merevisi prospek utang Indonesia menjadi negatif pada 17 Juni 2026 memantik kekhawatiran pasar. Para investor khawatir penurunan peringkat akan memicu gelombang jual as...
Langkah S&P Global Ratings yang merevisi prospek utang Indonesia menjadi negatif pada 17 Juni 2026 memantik kekhawatiran pasar. Para investor khawatir penurunan peringkat akan memicu gelombang jual aset berdenominasi rupiah, dengan potensi capital outflow hingga Rp 3,6 triliun dari pasar saham dan obligasi. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan belum ada sinyal aksi jual bersih asing pascapengumuman tersebut.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan data terkini justru menunjukkan posisi foreign flow yang relatif stabil. “Kami terus memonitor pergerakan dana asing secara real-time. Sampai saat ini, net sell belum terdeteksi,” ujarnya di Jakarta, kemarin.
Data Perdagangan: Asing Masih Catatkan Surplus
Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan net buy Rp 2,1 triliun dalam sepekan terakhir, dengan akumulasi net buy tahun berjalan mencapai Rp 8,4 triliun per akhir Juni. Di pasar Surat Berharga Negara (SBN), berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), kepemilikan asing tetap bertahan di kisaran 14,2% dari total outstanding, atau sekitar Rp 912 triliun, tak jauh bergeser dari posisi sebelum revisi prospek. “Angka ini mengonfirmasi bahwa sentimen negatif dari S&P belum terefleksi dalam perilaku investor,” kata Hasan.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai potensi keluarnya dana hingga Rp 3,6 triliun bukanlah angka yang mengkhawatirkan secara fundamental. Nilai tersebut setara dengan 0,3% dari rata-rata nilai transaksi harian pasar modal Indonesia yang mencapai Rp 12 triliun, serta hanya 1,7% dari total dana asing di SBN. Meski begitu, efek psikologis penurunan peringkat tetap perlu diwaspadai karena bisa mengubah risk appetite investor global terhadap aset negara berkembang.
Respons OJK dan Kesiapan Instrumen Stabilisasi
OJK bersama Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan disebut telah mengaktifkan protokol koordinasi krisis. Hasan menjelaskan, bauran kebijakan yang disiapkan mencakup lelang buyback SUN, intervensi di pasar valas, serta kemudahan repurchase agreement bagi bank dan sekuritas. “Likuiditas rupiah dan valas cukup memadai. Cadangan devisa per akhir Mei 2026 tercatat USD 141 miliar, cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri,” paparnya.
Selain itu, OJK mendorong investor institusi domestik—seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi—untuk meningkatkan alokasi portofolio di saat pasar terkoreksi. Langkah ini diharapkan mampu menyerap potensi tekanan jual asing dan menjaga stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih bertahan di level 7.200.
Mencermati Risiko dan Peluang ke Depan
Dari perspektif fundamental, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih di bawah 40%, sementara defisit APBN 2026 dijaga di level 2,8%. Laju inflasi pun melandai ke 2,5% secara tahunan. “Di satu sisi, ini menjadi fondasi kuat yang bisa mengompensasi sentimen negatif peringkat. Di sisi lain, pasar obligasi kita menawarkan real yield positif yang masih atraktif,” ujar ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, dalam sebuah diskusi terpisah.
Ia menambahkan, potensi capital outflow Rp 3,6 triliun lebih banyak muncul dari perhitungan teknikal penyesuaian bobot Indonesia di indeks obligasi global, bukan dari panic selling. “Jika pun terjadi, dampaknya temporer karena carry trade masih menguntungkan,” imbuhnya.
Dengan demikian, OJK mengimbau pelaku pasar tetap rasional dan tidak terjebak spekulasi jangka pendek. Stabilitas sistem keuangan dinilai masih solid, didukung oleh permodalan perbankan yang kuat serta profitabilitas emiten yang terus tumbuh. Pantauan terhadap arus modal asing akan terus dilakukan secara intensif demi memastikan pasar tetap efisien dan terpercaya.
Baca juga:
Comments (0)